Mengenal Regina Vianney, Entrepreneur yang Lebih Suka Menyumbang Ketimbang Kejar Omzet

  • Bagikan
UMKM 1

Cakrawalarafflesia — Bagi Regina Vianney Ayudya, kesuksesan bisnis bukan dilihat dari jumlah omzet atau uang yang dihasilkan. Sejatinya, kesuksesan dinilai dari seberapa besar manfaat yang bisa dirasakan oleh masyarakat dari bisnis yang dia geluti.

Pada usia 25 tahun, dia memulai bisnis Ava Naturals yang memproduksi produk perawatan kulit berbahan alami. Yang menarik, Regina tak hanya menjual produk berstandar internasional yang aman bagi kulit, tetapi juga menjalankan misi sosial yang telah membantu banyak orang.

Lewat program Ava for Humanity, dia mengambil tagline “One Bottle for More Hope” yang artinya sebagian keuntungan dari hasil penjualan produk Ava Naturals, dipergunakan untuk membantu para pejuang kanker cilik di Indonesia.

“Kalau Ava For Humanity itu kita kerja sama dengan Yayasan Kanker Anak Indonesia sama rumah singgah. Jadi, kalau orang yang punya BPJS dari luar kota, mereka datang ke Jakarta kan untuk berobat di RSCM, mereka enggak mungkin nginep di hotel,” kata Regina dalam wawancara pada Kamis, 19 Agustus 2021.

Para pasien kanker yang masih anak-anak tersebut ditampung di rumah singgah yang berlokasi dekat dengan rumah sakit. Rumah ini merupakan rumah warga yang memang bisa menerima beberapa pasien serta orang tua mereka.

“Nah, saya kerja sama dengan beberapa rumah singgah itu. Buat beli obat mereka, cuci darah, kirim sayuran organik untuk makan,” ucap ibu dua anak ini.

Sejak remaja, perempuan satu ini memang mempunyai jiwa sosial yang tinggi. Begitu berdedikasinya dia hingga rela keluar dari zona nyaman setelah bekerja di perusahaan terkemuka.

“Memang dari dulu saya itu sosial banget. Dulu kuliah juga penginnya masuk Kesejahteraan Sosial, tapi sama orang tua enggak boleh. Katanya nanti aja kalau udah kaya. Tapi kan enggak kaya-kaya ya. Habis itu saya masuk ke multinational company dulu,” ujar Regina sambil tertawa.

Setelah lulus kuliah tahun 2009, dia bekerja di dua perusahaan selama enam tahun untuk belajar mengenai birokrasi dan mematangkan kemampuan agar bisa mendukung rencananya untuk memulai bisnis sendiri.

Yang unik, orientasi bisnisnya pun bukan untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya, melainkan menyumbang sebanyak-banyaknya untuk kepentingan masyarakat, khususnya anak-anak dan perempuan.

“Akhirnya dengan saya memulai, adanya segini, mampunya segini, ya saya nyumbangnya segitu. Tapi makin gede bisnisnya kan, makin gede juga (sumbangannya),” kata Regina.

“Tapi kalau saat itu saya enggak mulai-mulai dan memutuskan (bekerja) profesional aja, mungkin saya enggak bisa eksplor networking yang saya punya sebanyak ini. Dampak yang saya berikan juga jadi enggak bisa segitunya, enggak bisa menjangkau ke mana aja, pergerakan saya jadi lebih terbatas,” lanjut dia.

Dari awal berbisnis, perempuan yang aktif di Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) sebagai Ketua Komisi Ketat Bidang Perindustrian ini pun mengaku tak pernah takut kehilangan omzet. Baginya, bisnis pasti mengalami pasang surut.

“Cuma saya enggak pernah set target yang gimana banget ke tim saya, yang penting pertanyaan saya, ‘bulan ini kita udah sumbangan berapa? kok dikit banget’. Kalaupun uangnya lagi enggak banyak, tapi lebih pilih disumbangin dulu. Lebih baik saya enggak gajian, tapi sosial saya tetap jalan. Karena saya tuh lebih happy ngejalanin segala sesuatunya,” tutur Regina.

Meski demikian, rekam jejaknya jauh dari sorotan media karena dia mengaku tak punya waktu untuk melakukan promosi. Perempuan lulusan Universitas Pelita Harapan ini lebih suka melakukan kegiatannya secara langsung, tanpa woro-woro. Baginya yang terpenting apa yang dia lakukan memiliki dampak positif bagi orang lain.

“Walau misalnya saya harus bayar media, mending saya pakai buat nyumbang. Mending saya beliin susu buat anak-anak kanker dan obat-obatan cuci darah daripada harus mengundang wartawan. Saya memang lebih suka di belakang layar, enggak terekspos gitu loh,” ucap Regina.

Memberdayakan perempuan

UMKM
Mengenal Regina Vianney, Entrepreneur yang Lebih Suka Menyumbang Ketimbang Kejar Omzet 3

Tak berhenti di situ. Perempuan yang juga menjabat Ketua Komisi Tetap Bidang Perindustrian di Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) ini juga menjalankan bisnisnya dengan memberdayakan perempuan.

Sebanyak 50 karyawannya merupakan perempuan yang semuanya ibu rumah tangga. Selain itu, dia juga memberdayakan para perempuan untuk melakukan pengemasan produk sehingga mereka bisa mendapatkan pendapatan tambahan.

“Nah, kemudian saya itu melakukan pelatihan untuk ibu-ibu yang ada di wilayah DKI Jakarta, jadi saya datang ke perkampungan mereka untuk memberikan pelatihan SOP sesuai dengan standar ekspor. Jadi mereka bisa nge-botolin, labelin, kayak gitu,” ucap dia.

Regina menjelaskan, para perempuan yang berjumlah 30-50 orang tersebut akan mendapatkan upah pengemasan per botol yang mampu dikerjakan. “Kalau botol kecil yang 30ml itu Rp1.000. Jadi, dalam waktu satu jam mereka bisa mengumpulkan 100 botol, mereka akan mendapat Rp100.000,”

Ava Natural sendiri, lanjut Regina merupakan 100% produk lokal yang diproduksi di Jakarta. Sebelum pandemi, fokus bisnisnya adalah konsumen mancanegara. Dia pun telah mengekspor produknya ke berbagai negara. Selain itu, dia pernah mengikuti berbagai pameran luar negeri seperti di Malaysia, Uni Emirat Arab, dan Amerika Serikat. (Anne C – Anggota Perempuan Indonesia Satu)

Kredit visual: istimewa

  • Bagikan
Positive SSL