Megawati Luruskan Sejarah Pasang Surut Hubungan Sukarno-Hatta

Puteri mendiang Presiden Sukarno, Megawati Soekarnoputri menanggapi pandangan beberapa pihak yang menilai kedekatan bapaknya dan Mohammad Hatta berubah jelang akhir masa kepemimpinan mereka.

Sejumlah kalangan sejarawan menilai hubungan dwitunggal Sukarno-Hatta mengalami pasang surut yang puncaknya terjadi pada 1956. Ketika itu Hatta memilih mundur dari kursi wakil presiden, tak lama setelah Sukarno mengenalkan sistem demokrasi terpimpin dengan model kabinet parlementer. 

Mega sendiri mengakui hubungan Sukarno-Hatta dinamis. Beberapa kesempatan keduanya bahkan terlibat dalam perbedaan pandangan. Namun Mega membantah perbedaan pandangan mempengaruhi persahabatan dua proklamator tersebut. 

“Kedua pemimpin ini boleh orang bilang setelah akhir-akhir sepertinya ada perbedaan,” kata Mega dalam diskusi Bung Hatta Inspirasi Kemandirian Bangsa yang digelar secara virtual, Kamis (12/8).

Untuk melihat persahabatan Sukarno-Hatta, Mega mengatakan perlu memperhatikan posisi wakil presiden yang disebutnya kosong sejak Hatta mundur. 

Menurut Mega, hal itu memiliki makna bahwa posisi Hatta sebagai Wapres tidak tergantikan.

“Enggak mau tergantikan dengan yang namanya Bung Hatta. Coba pikirkan, itu sebuah persahabatan, loh,” kata Mega.

Peristiwa lain yang menunjukkan kedekatan dua proklamator itu, kata Megawati,  saat kakaknya, Guntur Soekarnoputra hendak menikah dengan mojang priangan, atau perempuan asal tanah Sunda.

Ketika peristiwa itu, Februari 1970, Mega menyebut ayahnya yang sudah tidak menjadi presiden, tidak bisa bergerak leluasa. Mega sendiri tidak yakin apakah bapaknya ditahan oleh rezim Orde Baru. Sebab, tidak terdapat dokumen resmi penahanan itu.

“Kami tidak punya selembar kertas pun bahwa ayah saya itu statusnya tahanan, enggak ada,” ungkap Mega.

Karena sang ayah tidak bisa menjadi wali bagi pernikahan puteranya, ibu Guntur, Fatmawati lantas meminta agar Hatta dan isterinya, Siti Rahmiati Hatta menjadi wakil dari Keluarga Bung Karno.

Tanpa berpikir panjang, Hatta langsung menyetujui permintaan Fatmawati. Hal ini, menurut Mega, menjadi keindahan tersendiri.

“Spontan tidak sambil mikir, Pak Hatta bilang oke. Kalian kan anak saya,” kata Mega menirukan Hatta.

Putri Mohammad Hatta, Meutia Farida Hatta mengatakan Sukarno dan Hatta bukan saja seperjuangan. Meski sifat dan gaya berbeda, kata Meutia, mereka selalu dalam satu hati.

Meutia lantas menceritakan salah satu kenangan kedekatan Sukarno dengan keluarganya.

Pada saat Meutia lahir 1947, militer Belanda sedang melancarkan serangan. Baik Sukarno maupun Hatta saat itu berada di Yogyakarta. Bung Hatta, waktu itu sibuk memimpin sidang kabinet.

Mertua Hatta yang merupakan orang Jawa meminta agar ari-ari atau tali pusar Meutia harus dikubur oleh sang ayah. Namun, karena sibuk Hatta menolak dan memilih sidang kabinet.

Di tengah kebingungan itu, Sukarno muncul dan menawarkan diri mengubur tali pusar Meutia.

“Bingung semua orang. Bung Karno memberikan jalan keluar. Saya saja yang menanam ari-arinya Meutia,” kata Meutia menirukan ucapan Sukarno.

Karena itu, Meutia merasa Soekarno telah dekat dengannya sejak lahir. Bagi Meutia, sosok Sukarno bukan saja sahabat Hatta, melainkan saudara ayahnya.

“Beliau adalah Pakde saya. Beliau punya kedekatan sejak saya lahir karena menanam ari-ari saya di belakang rumah. Ayah saya tetap sidang kabinet, Bung Karno menyusul ke sidang kabinet,” tutur Meutia.

Cakrawala Rafflesia
Exit mobile version