Kumpulkan Stakeholder, Susun Dokumen RPPEG – cakrawalarafflesia

  • Bagikan
9c06fb03 lokakaryalahangambut1


cakrawalarafflesia, PALEMBANG – Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan (DLHP) Sumsel memulai proses penyusunan dokumen Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut (RPPEG) dengan menyelenggarakan Lokakarya Penyadartahuan Penyusunan
Dokumen Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut (RPPEG) di aula Hotel OPI Wyndham, Jakabaring, Palembang, Senin (2/8).

Acara yang dilaksanakan secara luring dan daring ini merupakan langkah awal dalam meningkatkan dan memperkuat pemahaman para pihak tentang urgensi perencanaan ekosistem gambut dan proses yang harus ditempuh dalam menyusun RPPEG pada tingkat provinsi maupun kabupaten.

Melalui lokakarya ini diharapkan akan terhimpun informasi awal mengenai ketersediaan data dan informasi yang relevan dalam penyusunan RPPEG Sumsel.

Sebagai media konsultasi para pihak, lokakarya dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan di Sumsel. Yakni jajaran UPT Kementerian LHK, OPD Pemprov Sumsel, akademisi, mitra pembangunan, kalangan swasta dan profesional, serta media. Kegiatan ini juga didukung oleh Forum DAS Sumsel, ICRAF Indonesia, dan Balai Penelitian Tanah sebagai bagian upaya #PahlawanGambut di Sumsel#.

PahlawanGambut adalah sebuah gerakan untuk menghimpun pengetahuan, pembelajaran, pemahaman serta berbagai ide terkait pengelolaan gambut berkelanjutan oleh para penggiat, peneliti, pelaku usaha, petani dan generasi muda di Sumatera Selatan dan Kalimantan Barat.

Baca Juga :  Pekan Depan, Bansos Tunai Tahap Kedua Bengkulu Tengah Disalurkan

Dalam sambutannya mewakili Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan (DLHP) Sumsel H Edwar Chandra melalui Kabid Pengendalian Kerusakan dan Pemeliharaan Lingkungan Hidup Drs Wilman SH MH menyampaikan bahwa lokakarya ini dilakukan dengan melihat perlunya upayaupaya pelestarian dan perlindungan ekosistem gambut. Penyusunan upaya pengelolaan ekosistem gambut Sumsel ini disusun untuk 30 tahun ke depan, 2020-2049, dengan mengacu kepada Kepmen LHK, untuk mendukung RPPEG Nasional.

Selain itu upaya lainnya juga dilakukan guna pemanfaatan, perlindungan dan pendayagunaan ekosistem gambut, serta adaptasi dan mitigasi terhadap perubahan iklim yang terjadi. Sehingga wawasan kita akan terbuka secara jelas betapa pentingnya ekosistem lahan gambut di Sumatra Selatan,” kata Wilman.

Dikatakannya, penyusunan dokumen RPPEG merupakan amanat Peraturan Pemerintah (PP) Republik Indonesia Nomor 71 Tahun 2014 sebagaimana telah diubah dengan PP Nomor 57 Tahun 2016 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut. PP tersebut memberikan mandat kepada menteri, gubernur, dan bupati/wali kota untuk menyusun dan menetapkan RPPEG sesuai kewenangannya. Meliputi RPPEG nasional oleh Menteri, RPPEG provinsi oleh Gubernur, dan RPPEG kabupaten/kota oleh bupati/wali kota.

“Dokumen RPPEG memuat rencana jangka panjang pengelolaan dan perlindungan lahan gambut untuk 30 tahun ke depan. Dokumen ini merupakan upaya perlindungan awal bagi lahan gambut dari kerusakan, dan degradasi lahan. Dalam penyusunannya, harus dilakukan secara komprehensif dan teliti, dengan melibatkan berbagai pihak dari level kabupaten, provinsi hingga level nasional,” terangnya.

Lanjut Wilman, Sumsel merupakan provinsi dengan salah satu ekosistem gambut yang terluas di pulau Sumatera setelah provinsi Riau. Namun saat ini ekosistem gambut tersebut berada dalam kondisi yang membutuhkan upaya pengelolaan dan pemulihan menyeluruh, sehingga Sumsel masuk sebagai salah satu provinsi prioritas restorasi gambut. Oleh karenanya, hadirnya RPPEG diharapkan mampu mencegah terjadinya kerusakan dan menjamin kelestarian fungsi ekosistem gambut untuk sekarang dan masa yang akan datang di Sumsel dan dapat diikuti oleh beberapa kabupaten di Provinsi Sumsel. (ril/dom)





Melansir Sumeks co

  • Bagikan
Positive SSL