Ini Alasan Alex Batal Digarap Kejati – cakrawalarafflesia

  • Bagikan
809fb59a img 20210726 wa0190


cakrawalarafflesia, PALEMBANG – Pemeriksaan terhadap kasus dugaan korupsi dana hibah pembangunan Masjid Raya Sriwijaya Palembang oleh tim penyidik Pidsus Kejati Sumsel kembali berlanjut.

Pada pemeriksaan Senin, (26/7) tim penyidik Pidsus Kejati Sumsel memanggil kembali enam orang tersangka, yakni Edi Hermanto, Dwi Kridayani, Syarifudin, Yudi Arminto, Mukti Sulaiman serta Ahmad Nasuhi, untuk diambil keterangan untuk melengkapi berkas dua Mukti Sulaiman serta Ahmad Nasuhi.

Namun yang hadir memenuhi panggilan Tim Penyidik Kejati Sumsel hanya dua orang yakni Mukti Sulaiman serta Ahmad Nasuhi, selain itu tim penyidik juga turut memanggil mantan Gubernur Sumsel Alex Noerdin dan mantan ketua MK Jimly Asshiddiqie.

“Namun keduanya berhalangan hadir memenuhi panggilan kmTim penyidik Pidsus Kejati Sumsel,” ungkap Kasi Penyidik Kejati Sumsel Hendri Yanto SH MH, saat gelar rilis Senin (26/7).

Hendri menjelaskan, mantan orang nomor satu di Sumsel berhalangan hadiri panggilan Kejati Sumsel berdasarkan surat permohonan dikarenakan ada kegiatan selaku anggota DPR RI.

“Selain hal itu juga yang bersangkutan terkendala aturan PPKM yang diterapkan di Jakarta, untuk itu kita akan jadwalkan ulang kepada yang bersangkutan,” jelas Hendri didampingi Plh Kasi Penkum Kejati Sumsel.

Baca Juga :  – Mawardi Dengarkan Pandangan Umum Fraksi DPRD Sumsel

Sementara untuk Jimly Asshiddiqie, Hendri mengatakan hingga saat ini berhalangan hadir tanpa keterangan.

Terpisah, staf ahli DPR RI Kemas Khairul Muklis dikonfirmasi juga membenarkan terkait pengajuan permohonan pemanggilan ulang Alex Noerdin.

“Ya saya dimintakan oleh Pak Alex Noerdin menyampaikan surat penjadwalan ulang atas pemanggilan beliau sebagai saksi kasus dugaan korupsi masjid Sriwijaya sekira pukul 9 Wib pagi tadi,” ungkap Mukhlis.

Menurutnya, sebagai warga negara yang baik dan taat hukum, Alex Noerdin siap untuk hadir siap untuk bersaksi memberikan keterangan yang diperlukan tim penyidik Pidsus Kejati Sumsel, hanya tinggal menunggu teknis dan waktunya akan berkoordinasi dengan pihak Kejati Sumsel.

“Kita akan berkoodinasi lagi dengan Kejati Sumsel, karena bertepatan hari ini beliau lagi ada kegiatan di DPR serta aturan PPKM yang diterapkan di Jakarta hingga tidak bisa ke Palembang,” tandasnya.

Baca Juga :  Penimbunan Kawasan Perkantoran Disoal – cakrawalarafflesia

Seperti diketahui, dalam pengembangan kasus dugaan korupsi pembangunan Masjid Sriwijaya. Selain sudah menetapkan empat tersangka tersebut, penyidik pidsus Kejati Sumsel kembali menetapkan dua tersangka baru dalam perkara yang sama.

Keduanya yakni, Mukti Sulaiman selaku mantan Sekretaris Daerah (Sekda) Pemprov Sumsel sekaligus ketua TAPD dan Ahmad Nasuhi, mantan Kepala Biro Kesra Pemprov Sumsel.

Diketahui, alokasi dana pembangunan Masjid Sriwijaya itu menggunakan dana hibah dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumsel tahun anggaran 2015 dan 2017 sebesar Rp.130 miliar.

Dana tersebut, diperuntukkan untuk penimbunan lokasi serta konstruksi beton sampai atap. Akan tetapi dalam perjalanannya, penyidik mencium adanya kejanggalan yang terjadi.

Pasalnya, dalam penilaian fisik bangunan masjid tersebut, penyidik menduga tidak sesuai dengan nilai kontrak.

Sementara hingga saat ini, kondisi pembangunan Masjid Raya Sriwijaya belum terlihat jelas bentuknya alias terbengkalai. Terlihat hanya beberapa tiang beton saja itupun sudah ditumbuhi ilalang yang menjulang di lokasi proyek. (fdl)





Melansir Sumeks co

  • Bagikan
Positive SSL