Khutbah Idul Adha Hikmah Peristiwa Bersejarah Bulan Dzulhijjah

  • Bagikan
8604721e materi khutbah idul adha hikmah peristiwa bersejarah bulan dzulhijjah dakwah.id

Materi Khutbah Idul Adha
Hikmah Peristiwa Bersejarah Bulan Dzulhijjah

Pemateri: Ustadz Naufal Masunika
Ketua yayasan Griya Keluarga Sakinah

اللهُ اَكْبَرُ اللهُ اَكْبْرُ اَللهُ اَكْبَرُ لَا اِلَهَ اِلَّا اللهَ وَاللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. نَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا وَرَسُوْلِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى ا للهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى الله عَزَّ وَجَلَّ والتَّمَسُّكِ بِهَذَا الدِّينِ تَمَسُّكًا قَوِيًّا. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَيْطَانِ الرَجِيْمِ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

اللهُ اَكْبَرُ اللهُ اَكْبْرُ اَللهُ اَكْبَرُ لَا اِلَهَ اِلَّا اللهَ وَاللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

 

Jamaah shalat Idhul Adha yang dirahmati Allah..

Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah, Rabb semesta raya. Hanya kepada-Nya kita memohon taufik, perlindungan, dan bertobat. Hanya kepada-Nya, Rabb Pemilik Arsy yang agung, seluruh peribadatan tertuju dan kita bertawakal.

وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ وَسَبِّحْ بِحَمْدِهِ ۚ وَكَفَىٰ بِهِ بِذُنُوبِ عِبَادِهِ خَبِيرًا

Dan bertawakkallah kepada Allah yang hidup (kekal) Yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. Dan cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa-dosa hamba-hamba-Nya.” (QS. Al-Furqan: 58)

Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, Rasul pilihan yang diutus untuk sekalian alam. Semoga shalawat dan salam juga terlimpah kepada keluarga, para sahabatnya, dan orang-orang yang senantiasa mengikuti langkah indahnya hingga akhir zaman.

Jamaah shalat Idhul Adha yang dirahmati Allah..

Di pagi yang berbahagia ini kita berada di hari dan bulan yang istimewa di antara sekian banyak hari-hari Allah.

Ada beberapa peristiwa bersejarah bulan Dzulhijjah yang mengandung sarat hikmah bermanfaat bagi umat Islam.

Di antaranya, diampuninya dosa Nabi Adam alaihissalam; dikabulkannya doa Nabi Yunus alaihissalam; dan beberapa peristiwa bersejarah yang dialami keluarga Abul Anbiya’ Ibrahim alaihissalam seperti pembangunan Ka’bah, wukuf di Arafah dan penyembelihan yang kemudian sebagian diabadikan menjadi rangkaian ritual ibadah haji.

وَكُلًّا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ ۚ وَجَاءَكَ فِي هَٰذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَىٰ لِلْمُؤْمِنِينَ

Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Hud: 120)

Hari-hari Allah ini kelak akan menjadi saksi jiwa-jiwa suci yang berjuang menggapai ketinggian dan rela berkorban untuk meraih mardhatillah: ridha Allah subhanahu wata’ala.

وَذَكِّرْهُمْ بِأَيَّامِ اللَّهِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ

Dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang penyabar dan banyak bersyukur.” (QS. Ibrahim: 5)

اللهُ اَكْبَرُ اللهُ اَكْبْرُ اَللهُ اَكْبَرُ لَا اِلَهَ اِلَّا اللهَ وَاللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Jamaah shalat Idhul Adha yang dirahmati Allah

Nabiyullah Ibrahim alaihissalam meninggalkan bayinya yang masih mungil dan ibunya di lembah tandus tak berpenghuni. Dengan meninggalkan perbekalan yang jauh dari kata memadai. Bukan karena ‘tega’ kalau hanya mengandalkan kaca mata akal semata.

Namun karena meyakini seyakin-yakinnya bahwa Rabbnya tidak akan menyia-nyiakannya. Ketaatan Ibrahim melampaui batas logika. Begitu pun istrinya Hajar yang menerima keputusan itu begitu saja ketika itu adalah titah Rabbnya. Selain ketaatannya kepada sang suami yang notabene juga seorang Nabi.

Dalam diam tanpa melihat lagi kepergian suaminya, Hajar menengadahkan tangan ke langit lalu berdoa. Sementara itu, sang suami pun tidak hilang kecerdasannya.

Sebelum meninggalkannya, di kejauhan beliau melakukan hal yang sama, menatap ke langit dan mengangkat kedua tangannya serta memanjatkan sebait doa yang mampu mengguncang Arsy dan seisi langit dunia.

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Rabb kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS. Ibrahim: 37)

Buah dari doa di luar nalar manusia biasa itu, hari ini Masjidil Haram menjadi tempat paling dirindukan jutaan manusia di dunia. Tempat yang nyaris tidak pernah sepi dari umat Islam bersujud selama hampir 24 jam.

Dan baru di masa pandemi ini suasananya agak berbeda. Sebuah negeri yang memiliki kekayaan melimpah dan mampu mendatangkan aneka macam makanan dan buah-buahan serta menjadi sumber rezeki dan pendapatan bagi manusia seantero dunia.

Doa sang ayah dan ibu ini bertemu di langit, maka lihatlah bagaimana dahsyatnya ketaatan buah hati yang terlahir dari keduanya. Anak yang ditinggalkan oleh ayahnya sebagai seorang bayi mungil tak berdaya itu, ketika telah sampai usia menjelang remaja baru bisa bersua dengan ayahnya.

Materi Khutbah Idul Adha: Nabi Ibrahim, Teladan Keberanian dalam Dakwah

Di tengah kerinduan yang sangat dalam, mereka kembali diuji dengan perintah Rabbnya yang itu juga di luar jangkauan akal manusia biasa.

Baca Juga :  Materi Khutbah Jumat Kematian Itu Pasti, Hindari 4 Penyesalan Ini! -

فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلامٍ حَلِيمٍ فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى

Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, ‘Hai Anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!’” (QS. Ash-Shaffat: 101-102)

Maka lihatlah apa respons seorang anak dari dua orang hamba Allah yang taat ini? Sekalipun ia baru pertama berjumpa dengan ayahnya. Meskipun ia berusia masih sangat muda. Walaupun selama ini ia mengenal sosok ayahnya hanya dari cerita yang diulang-ulang olah ibunya saja.

Perhatikan bagaimana tanggapannya?

قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

Ia menjawab, ‘Hai Bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’” (QS. Ash-Shaffat: 102)

Keluarga kecil ini bergeming meskipun setan tidak henti-hentinya melancarkan serangan untuk menghentikan niat mereka menjalankan perintah Rabbnya. Tipu daya yang nyaris serupa tatkala dahulu setan menggoda Nabi Adam alaihisalam dan istrinya Hawa, hingga mengeluarkan mereka dari Surga.

Ayah, Ibu, dan anak ini bersikeras untuk menjalankan titah Rabbnya sekalipun itu menyelisihi hawa nafsu dan kecenderungan hati mereka. Karenanya, tatkala keduanya telah berserah diri dan Nabi Ibrahim membaringkan putranya atas pelipisnya dan nyatalah kesabaran keduanya, maka kemudian Allah Ta’ala dengan kasih dan sayangnya berfirman,

وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ، قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ، إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلاءُ الْمُبِينُ، وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ، وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الآخِرِينَ، سَلامٌ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ، إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِينَ

Dan Kami panggillah dia, ‘Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu, ‘sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian (yaitu).’ Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.’ Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.” (QS. Ash-Shaffat: 104-111)

 

اللهُ اَكْبَرُ اللهُ اَكْبْرُ اَللهُ اَكْبَرُ لَا اِلَهَ اِلَّا اللهَ وَاللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Jamaah shalat Idhul Adha yang dirahmati Allah..

Dari potongan peristiwa bersejarah bulan Dzulhijjah tersebut, setidaknya ada beberapa pelajaran dan hikmah yang bisa kita ambil.

Pertama: Ketaatan membuahkan manisnya iman

Melalui perenungan terhadap peristiwa bersejarah bulan Dzulhijjah itu, kita kan menemukan hikmah bahwa ketaatan akan membuahkan manisnya iman.

Nabi Ibrahim adalah bapak agama Tauhid. Perjalanan dakwahnya menegakkan risalah tauhid sangat panjang berliku. Luar biasa ketaatannya dalam menjalankan segala perintah Allah. Pengorbanannya nyaris tiada duanya, sehingga menjadikannya begitu dicintai Allah dan mendapatkan gelar khalilullah: kekasih Allah.

وَمَنْ اَحْسَنُ دِيْنًا مِّمَّنْ اَسْلَمَ وَجْهَهٗ لِلّٰهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَّاتَّبَعَ مِلَّةَ اِبْرٰهِيْمَ حَنِيْفًا ۗوَاتَّخَذَ اللّٰهُ اِبْرٰهِيْمَ خَلِيْلًا

Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang dengan ikhlas berserah diri kepada Allah, sedang dia mengerjakan kebaikan, dan mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah telah memilih Ibrahim menjadi kesayangan(-Nya).” (QS. An-Nisa: 125)

Kecintaan sang khalillah kepada Rabbnya melampaui kecintaannya kepada keluarganya, yakni ayahnya sendiri Uzair, istri, dan anaknya Ismail. Salah satunya tercermin ketika Allah memerintah Nabi Ibrahim untuk menyembelih anaknya sendiri, Ismail. Mental seperti ini tentu tidak dapat dicapai melainkan oleh mereka yang telah mendapatkan kemanisan iman.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu alaihi wasallam bersabda,

ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيْمَانِ، مَنْ كَانَ اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُـحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُوْدَ فِـي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللهُ مِنْهُ، كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِـي النَّارِ.

Ada tiga perkara yang apabila perkara tersebut ada pada seseorang, maka ia akan mendapatkan manisnya iman, yaitu barang siapa yang Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya, apabila ia mencintai seseorang, ia hanya mencintainya karena Allah. Ia benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya sebagaimana ia benci untuk dilemparkan ke dalam Neraka.” (HR. Muslim No. 43)

Imam an-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa hadits ini sangat agung kedudukannya dan merupakan salah satu pokok keimanan. Makna manisnya iman adalah kelezatan dalam melakukan ketaatan dan berani menanggung beban berat ketika menjalankan agama, serta lebih mengutamakan agama daripada dunia. Cinta hamba kepada Allah dapat terwujud dengan mengerjakan ketaatan dan menjauhi maksiat atau kedurhakaan. (Syarh an-Nawawi ‘ala Muslim, Imam an-Nawawi, 2/13)

 

Kedua: Kesabaran yang indah

Perjuangan nabi Ibrahim yang menjadi bagian dari potongan peristiwa bersejarah bulan Dzulhijjah mengajarkan kepada kita bahwa kesabaran itu indah.

Nabi Ibrahim merupakan salah satu Nabi yang mendapat gelar Ūlul Azmi. Gelar yang disematkan hanya kepada para rasul pilihan yang memiliki keistimewaan ghirah yang kuat, pribadi yang tangguh dalam menjalankan dakwah, ujian hidup, serta kesabaran luar biasa dalam menerima ujian dan cobaan yang paling berat dari Allah. Karenanya, Allah membalas pengorbanan tersebut dengan berbagai kenikmatan yang luar biasa.

فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ اُولُوا الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ

Maka bersabarlah engkau sebagaimana kesabaran rasul-rasul yang memiliki keteguhan hati…” (QS. Al-Ahqaf: 35)

 

Ketiga: Dahsyatnya kekuatan Doa Orang tua

Hikmah berikutnya yang dapat kita serap melalui peristiwa bersejarah bulan Dzulhijjah adalah dahsyatnya kekuatan doa orang tua.

Orang tua itu membawa pasukan langit. Ridha Allah terletak pada ridha kedua orang tua. Kemarahan Allah terletak pada kemarahan orang tua. Mereka mendapatkan privilege (hak istimewa), yakni doa mustajab.

Baca Juga :  Khutbah Jumat PDF : 4 Amalan Agar Panjang Umur

Berbakti kepadanya akan mendatangkan rezeki yang barakah, mendapatkan naungan rahmah, memanjangkan umur, dan menghapus dosa-dosa. Sedangkan menyia-nyiakannya adalah sebab bencana dan azab Allah di dunia dan akhirat.

Jangankan menyakiti hatinya dengan perkataan dan perbuatan, berkata ‘ah‘ saja bisa menjadi durhaka. Belum lagi mendapatkan balasan setimpal dari anak-anaknya kelak. Waliyadzubillah.

Karena dengan berbakti kepadanya akan membukakan pintu surga, maka ada ujian di dalamnya.

Mungkin mereka tidak pandai agama seperti Anda. Mungkin ketika bersamanya saat kecil, hidup Anda lebih banyak menderita dengan ekonomi yang pas-pasan saja. Tubuhnya berkeringat dan bajunya lusuh karena hanyalah pekerja kasar bukan kantoran seperti Anda. Mungkin mereka tidak pandai berbicara sebagaimana Anda beretorika. Namun Anda tidak pernah menduga bahwa doa-doa mereka telah terkabul melalui Anda. Sementara Anda menduga itu jerih payah Anda sendiri. Waliyadzubillah

اللهُ اَكْبَرُ اللهُ اَكْبْرُ اَللهُ اَكْبَرُ لَا اِلَهَ اِلَّا اللهَ وَاللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Jamaah shalat Idhul Adha yang dirahmati Allah

Parameter cinta kepada Allah Rabb Penguasa semesta raya itu sederhana namun berat realisasinya. Bagaimana kita mengetahui bahwa kita akan tetap di atas Islam ialah apabila kita merasa gembira tatkala kita mampu menaati Allah.

Materi Khutbah Idul Adha 1441 H: Meneladani 4 Karakter Nabi Ibrahim

Itulah bukti Allah menunjukkan kasih sayang-Nya kepada hamba yang mencintai-Nya. Melalui kisah tersebut kita mengetahui betapa nikmatnya merasakan cinta kepada Allah dan manisnya iman itu lebih dari apa pun.

Selanjutnya, pertanyaan berpulang kepada diri kita, sudah sejauh manakah ikhtiar dan kesungguhan kita mewujudkan kecintaan kita kepada Allah Ta’ala, sehingga Allah pun mencintai kita.

Bukti konkret Allah mencintai kita adalah bila kelak Allah telah menetapkan kematian kita di atas Islam. Supaya kita mati dalam Islam, maka mari jadikan hati kita gembira tatkala beribadah kepada Allah.

Jangan lakukan sesuatu ibadah itu hanya karena untuk tujuan menggugurkan kewajiban atau menyelesaikannya saja. Tetapi lakukanlah amalan ketaatan untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Allah Ta’ala tidak membutuhkan apa pun, namun setiap makhluk butuh kepada-Nya. Ketaatan hamba-Nya tidaklah bermanfaat bagi-Nya. Begitu pula kemaksiatan orang yang durhaka, selamanya tidak pernah mengurangi kemulian-Nya.

Dalam hadits qudsi, Allah Ta’ala berfirman,

يَا عِبَادِى لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ فِى مُلْكِى شَيْئًا يَا عِبَادِى لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِى شَيْئًا

Wahai hamba-Ku, kalau orang-orang terdahulu dan yang terakhir di antara kalian, sekalian manusia dan jin, mereka itu bertaqwa seperti orang yang paling bertaqwa di antara kalian, tidak akan menambah kekuasaan-Ku sedikit pun. Jika orang-orang yang terdahulu dan yang terakhir di antara kalian, sekalian manusia dan jin, mereka itu berhati jahat seperti orang yang paling jahat di antara kalian, tidak akan mengurangi kekuasaan-Ku sedikit pun juga.” (HR. Muslim no. 2577)

Allah tidak dimudaratkan oleh kemaksiatan hamba-Nya, tetapi hamba-Nyalah yang binasa apabila bermaksiat kepada-Nya.

Dan sudah pasti, mati dalam keadaan Islam, bagaimana pun kondisinya, jauh lebih baik daripada mati dalam keadaan kufur.

Semoga kita bisa mengambil pelajaran dan hikmah dari peristiwa bersejarah bulan Dzulhijjah tentang keluarga Nabiyullah Ibrahim alaihissalam yang spekatakuler dan setiap tahun dikisahkan ulang oleh para khatib dalam materi khutbah Idul Adha. Āmīn yā mujībassāilīn. Allahualam bisshawwabb.

اللهُ اَكْبَرُ اللهُ اَكْبْرُ اَللهُ اَكْبَرُ لَا اِلَهَ اِلَّا اللهَ وَاللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ.

اَللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُوْلُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيْكَ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنْ اليَقِيْنِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا، اَللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا، وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِيْ دِيْنِنَا، وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا.

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَناَ دِينَناَ الَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِناَ وَأَصْلِحْ لنَاَ دُنْيَاناَ الَّتِيْ فِيْهَا مَعَاشُناَ وَأَصْلِحْ لَناَ آخِرَتَناَ الَّتِيْ فِيْهَا مَعَادُناَ وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَناَ فِيْ كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لُناَ مِنْ كُلَّ شَرٍّ.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِن الخَيْرِ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ مَا عَلِمْناَ مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ، وَنَعُوْذُ بِكَ مِنَ الشَّرِّ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ مَا عَلِمْناَ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ. اللَّهُمَّ إِنّاَ أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ. وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا عَاذَ بِهِ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ. اللَّهُمَّ إِنّاَ نَسْأَلُكَ الجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنَ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ. وَنَسْأَلُكَ أَنْ تَجْعَلَ كُلَّ قَضَاءٍ قَضَيْتَهُ لِناَ خَيْرًا.

اللَّهُمَّ إِناَّ نَسْأَلُكَ النَّعِيْمَ المُقِيْمَ الَّذِيْ لَناَ يَحُوْلُ وَلاَ يَزُوْلُ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ النَّعِيْمَ يَوْمَ العِيْلَةِ وَالأَمْنَ يَوْمَ الخَوْفِ اللَّهُمَّ إِنَّا عَاِئذٌ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا أَعْطَيْتَنَا وَشَرِّ مَا مَنَعْتَ اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الإِيْمَانَ وَزَيِّنْهُ فِيْ قُلُوْبِنَا وَكَرِّهْ إِلَيْنَا الكُفْرَ وَالْفُسُوْقَ وَالعِصْيَانَ وَاجْعَلْناَ مِنَ الرَّاشِدِيْنَ.

الَلَّهُمَّ إِناَّ نَسْأَلُكَ الَّذِيْ هُوَ خَيْرٌ لَناَ فِيْ عَاقِبَةِ الأُمْورِ، الَلَّهُمَّ اجْعَلْ آخِرَ مَا تُعْطِيْنِاَ مِنَ الخَيْرِ رِضْوَانَكَ وَالدَّرَجَاتُ العُلىَ مِنْ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ.

اللهُ اَكْبَرُ اللهُ اَكْبْرُ اَللهُ اَكْبَرُ لَا اِلَهَ اِلَّا اللهَ وَاللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

الَلَّهُمَّ أَسْعِدْ فِي هَذَا الْعِيْدِ قُلُوْبَنَا وَفَرِّجْ هُمُوْمَنَا وَأَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ.

وَصَلَّ الَلَّهُمَّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.

Source link

  • Bagikan
Positive SSL