Nagita Slavina Jadi Duta PON 2021 Adalah Bentuk Perampasan Budaya Papua

  • Bagikan
dd4e029a 45608 potret nagita slavina pakai baju adat papua



45608 potret nagita slavina pakai baju adat papua

cakrawalarafflesia – Antropolog UI, Aryo Danusiri menilai bahwa memajang Nagita Slavina- selebriti kulit putih dari suku Jawa yang mayoritas – dengan busana adat Papua dalam promosi PON 2021 adalah bentuk perampasan terhadap budaya Papua.

Kampanye pemerintah baru-baru ini untuk mempromosikan Pekan Olahraga Nasional (PON) XX yang akan diselenggarakan di Papua pada Oktober nanti dengan menampilkan selebriti Nagita Slavina, istri aktor Raffi Ahmad, memakai kostum adat Papua menuai kontroversi.

Beberapa pihak mengkritik penunjukan Nagita. Misalnya, mereka menuduh pemerintah merampas budaya (cultural appropriation) karena memilih selebriti Instagram Jawa berkulit putih sebagai duta acara tersebut dengan mengenakan topi bulu Kasuari dan pakaian adat Papua.

Baca Juga :  Apple Akan Hapus Fitur Password untuk Login ke Perangkat

Kampanye bermasalah ini menunjukkan bahwa negara, dengan lebih dari 1.300 kelompok etnis, masih berjuang dalam memastikan politik keterwakilan yang setara dari keberagaman masyarakatnya.

Baca Juga:
Mahasiswa Papua Geruduk Kantor KONI, Protes Nagita Slavina jadi Ikon PON XX

Salah satu protes paling vokal datang dari Arie Kriting, komedian Sulawesi Tenggara.

Serangan balik terhadap protes Arie Kriting tidak dapat terhindarkan, yang menuduh bahwa dia hanya mencari sensasi saja.

Banyak rekan-rekan selebriti Arie justru membela dan membenarkan protest tersebut.

Saya mengkaji dan meneliti media, teknologi, dan politik. Saya bisa memahami kegelisahan dari Arie.

Baca Juga:
Panitia PON Papua Bela Diri Soal Penunjukan Nagita Slavina Sebagai Ikon

Melalui strategi publisitas semacam itu, pemerintah mempromosikan apa yang disebut antropolog sebagai keragaman dangkal (banal diversity). Hal itu terjadi ketika penguasa memanipulasi kelompok etnis yang terpinggirkan untuk menyampaikan pesannya dengan merampas budaya mereka dengan anggota mayoritas.





cakrawalarafflesia

  • Bagikan