Innalillahi, Mantan Senior Fotografer Sumeks Itu Berpulang… – cakrawalarafflesia

  • Bagikan
b2087812


Selamat jalan kakek. Kata pertama yang terucap Innalilahi wainalilahi rojiun. Atas berpulangnya pendekar fotografi di Sumatera Selatan itu.

Saat masih aktif di koran harian Sumatera Ekspres (Sumeks), kami akrab memanggil H Dulmukti Djaja dengan panggilan singkat, Pak Dul.

Semangat kerja pria kelahiran 1932 ini sangat tinggi, meski diusianya yang seharusnya sudah pensiun. Instingnya luarbiasa.

Alm H Suparno Wonokromo (CEO Jawa Pos Sumatera dan Jawa) saat itu menyebut beliau fotografer yang sulit mencarikan tandingannya.

“Semangat, kemauan serta insting memotretnya luarbiasa hebat. Semangat kerja tinggi. Kalau sudah mau harus berhasil dan dapat foto bagus, ” ujar Mas Parno saat itu.

Dan kami sebagai wartawan yunior saat itu membenarkan. Beliau memang persis seperti yang dikatakan Pak Parno.

Saya sebagai wartawan muda saat itu tak jarang melihat, bahkan nyaris tiap hari jalan bareng bersama beliau saat liputan. Siang, malam liputan diusia seperti beliau menurut saya adalah hal yang luarbiasa.

Pak Dul bahkan tak jarang rela naik pohon, atap rumah orang, naik mobil pemadam kebakaran saat ada musibah kebakaran untuk mendapatkan foto yang sempurna.

Saya ingat ketika ada kebakaran, untuk mencari beliau sangat mudah. Lihat saja diatas mobil PBK. Pasti beliau akan naik kesana dan mencari satu moment diatas mobil merah itu. Saya pun pernah pada satu moment lucu diatas PBK menemani beliau.

Disuruh menunduk didepan beliau menggunakam pundak saya sebagai sandaran agar kamera tidak goyang. Hehehe.. Pak Dul menjadikan saya sementara sebagai tripotnya.

Ya banyak moment indah saya, kami sebagai wartawan muda Sumeks saat itu saat masih di lapangan bersama beliau. Ada suka, duka.Tapi ya itu semua dibagi bersama. Meski rekan kerja, kami sudah seperti keluarga.

Rasa satu keluarga kami makin erat saat Sumeks sudah memiliki mobil dinas wartawan, khusus untuk liputan.

Baca Juga :  2 Paslon Gubernur Bengkulu Di Tetapkan KPU, Agusrin-Imron Ajukan Keberatan ke Bawaslu

Utamanya saat pulang kantor kami selalu bareng. Wak Mat sopir khusus mobil itu. Kakek – kami biasa memanggil Pak Dul – sebagai komandannya, diantar paling duluan, sedangkan saya paling belakangan karena rumah saya yang terjauh.

Nah, saat pulang malam inilah ada-ada saja ceritanya. Biasanya awak mobil dinas redaksi itu selain kakek (Pak Dul) dan Wak Mat (pilot dan co pilotnya), ada juga senior redaktur, mbak tris, mbak Ipit, mbak Sri (wartawan politik), Nurseri (DPRD) karsono (ekonomi) , upit (Pemprov), saya dan Purwadi (wartawan yunior satu angkatan dengan saya waktu itu).

Saat dalam perjalanan pulang, ada saja info yang masuk, ada kecelakaanlah ada kebakaranlah, ada razia malam yang membuat kami harus bareng mengambil moment liputan. Hingga harus pulang lebih dini hari lagi.

Tapi meski tak ada liputan pun suasana di dalam mobil redaksi tak selalu harus menuju rumah atau pulang.

Pasti ada saja keinginan untuk mampir dulu. Makan malam bersama di GOR di jalan POM IX (saat itu terkenal dengan nasi goreng seafood-nya). Atau Wak Mat yang tak lupa dengan jamu kuatnya di bundaran air mancur (BAM).

Apalagi kalau ada yang ulang tahun, pasti ada yang punya kewajiban untuk traktiran.

Ya.. mengenang kebersamaan dengan kakek (Pak Dul) seperti tak ada habisnya. Almarhum adalah sosok wartawan yang sangat dihormati di kota ini.

Tak jarang saya melihat ada anggota kepolisian yang mengangkat tangan memberi hormat pada beliau. Itu moment luarbiasa bagi saya.

Kakek bukan hanya pekerja keras, beliau juga sangat dermawan, suka berbagi dengan kaum papa, sekecil apapun itu.

Nasihat kakek: Saat liputan kita jangan hanya berita melulu. Harus kedepankan nurani dan kemanusiaan juga.

Baca Juga :  Pasien Meninggal di Kabupaten Kepahiang Positif Covid-19

Ambil foto mayat itu, katanya, harus saat dievakuasi. Saat ada petugas yang sedang mengurusi mayat. Jangan terlihat seolah tak ada yang peduli dalam moment menyedihkan itu.

Saya ingat saat ada peristiwa korban gantung diri. Beliau meminta agar ada yang mengulurkan tangan untuk menurunkan jasad korban. Tentu itu baru bisa dilakukan saat ada petugas kepolisian yang tiba di lokasi.

Beberapa kali saat ada peristiwa Lakalantas, kami tak hanya mengambil berita saja, tapi juga membawa korbannya sekalian ke rumah sakit atas perintah kakek.

“Nurani dan kemanusiaan sebagai wartawan harus lebih diutamakan”, nasihat Pak Dul berulang kali.

Soal kesehatan. Jangan ditanya. Beliau jagonya. Selalu konsumsi buah-buahan segar, katanya, dan istirahat yang cukup. Meski pulang malam harus bangun pagi, sholat subuh dan beraktivitas lagi. “Jangan tidur lagi, ” nasihatnya ketika itu.

Banyak.. Ya, banyak sekali moment indah kebersamaan kami dengan beliau yang tak dapat saya ungkap satu per satu. Moment profesinal beliau secara gamblang sudah dibukukan sekitar 11 tahun lalu.

Bukunya berjudul: “Lebih Setengah Abad Merekam Peristiwa”, ditulis Ir Ahmad Junaedy. Di buku ini lengkap prolog mengenal integritas H Dulmukti Djaja.

Selamat jalan kakek. Semoga Allah SWT menempatkan kakek ditempat yang terbaik. Saya bersaksi kakek orang baik, sangat baik. Figur panutan keteladanan dan kedisiplinan kami hingga saat ini. Alfatihah… (Julheri)

Innalillahi wainnailayhi roji’uun.
Telah meninggal dunia kakek Dulmukti Djaya pada hari Rabu, 7 Juli 2021 pd pukul 21.00 WIB di RS. Pusri Palembang.

Akan dikebumikan besok hari ini, Kamis, 8 Juli 2021 jam 10 di TPU Kandang Kawat.

Semoga semua amal kakek diterima disisi Allah Subhannahu wata‘ala. Allahummaghfirlahu warhamhu waafihi wa’fu’anhu. Aamiiin.





Melansir Sumeks co

  • Bagikan