Indonesia Akan Luncurkan 3 Satelit hingga 2030

  • Bagikan
47126ccf o 19aa73mrp110im9rk9d17ae16kga



o 19aa73mrp110im9rk9d17ae16kga

cakrawalarafflesia – Direktur Utama Bakti Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Anang Latif mengatakan Indonesia akan meluncurkan sebanyak tiga satelit, Satelit Republik Indonesia (SATRIA) 1, SATRIA 2, dan SATRIA 3 dalam kurun waktu tahun 2023-2030.

“Saat ini SATRIA 1 masih dalam proses produksi di Prancis oleh perusahaan Tales Alemania Space dengan roket peluncur Space X Falcon 9-5500. Rencana peluncurannya pada November 2023 di Florida, “ kata Anang, Rabu (7/7/2021).

Ia menjelaskan SATRIA 1 rencananya akan diluncurkan pertengahan tahun 2023 berkapasitas 150 Gbps dengan kecepatan internet 1 Mbps per titik lokasi, mengadopsi teknologi High Throuhput Satellite (HTS), slot orbit 146E dan orbit raising electric.

Disebutkan bahwa SATRIA 1 secara teknis dapat menyediakan kuota 1,14 GB/pengguna/bulan untuk melayani akses internet di 150 ribu titik layanan publik, yaitu fasilitas sekolah/ pesantren (93.900 titik), pemda/kecamatan/desa (47.900 titik), kantor polisi/TNI di wilayah 3T (3.900 titik), puskesmas/rumah sakit (3.700 titik), dan layanan publik lain (600 titik).

Baca Juga :  Tips Melihat Profil WhatsApp Orang Lain yang Disembunyikan

Baca Juga:
Internet Starlink Diharapkan Sudah Bisa Layani Seluruh Dunia pada September

Tugas BAKTI Kominfo dalam membangun dan menyediakan infrastruktur telekomunikasi di wilayah nonkomersil, katanya, tidak terbatas hanya pada pembangunan BTS di daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal), namun juga menyediakan satelit multifungsi yang diberi nama SATRIA (Satelit Republik Indonesia).

Satelit ini akan melengkapi program BTS 4G di lokasi yang tidak terjangkau sinyal tower BTS dan Palapa Ring yang telah diluncurkan pada tahun 2019.

Hasil penelitian di tahun 2017, menurut Anang Latif, masih terdapat kurang lebih 150.000 titik layanan publik di Indonesia yang belum terkoneksi internet, padahal sudah 20 tahun operator telekomunikasi hadir di negara kita tapi masih menyisakan daerah-daerah yang tidak terjagkau sinyal.
Kondisi ini membuat Indonesia berada di urutan 111 ITU ICT Development Index tahun 2017.

Baca Juga :  HP Baru Redmi Bawa Chipset Dimensity 1100?

Menurut anggota Dewan Profesi dan Asosiasi MASTEL, Kanaka Hidayat, satelit menjadi pilihan terakhir dan satu-satunya teknologi yang dapat menjangkau daerah pinggiran yang tidak terjangkau teknologi terrestrial.

“Satelit merupakan teknologi konservatif yang memiliki standar dan aturan main khusus yang diatur secara internasional tapi masih terus dibutuhkan hingga sekarang,” katanya.

Baca Juga:
Satelit Satria-1 Sudah Masuk Tahap Konstruksi

SATRIA merupakan proyek strategis nasional berskema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) dengan pola pembayaran ketersediaan layanan selama 15 tahun. Skema tersebut memiliki keunggulan jaminan proyek melalui PT Penjamin Infrastruktur Indonesia. [Antara]





cakrawalarafflesia

  • Bagikan