Gandeng Kapolda, PWI Sumsel Kupas Urgensi Perlindungan Wartawan – cakrawalarafflesia

  • Bagikan
70044f82 ekokapolda1


Cakrawalarafflesia PALEMBANG – Mengangkat topik urgensi perlindungan profesi Wartawan, Pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sumsel kembali menggelar Ngopi Cow (ngobrol pintar caro Wartawan).

Acara ini diinisiasi Bidang Hukum dan pembelaan wartawan PWI Sumsel akan menghadirkan Kapolda Sumsel Irjen Pol Prof. Dr. Eko Indra Heri S MM. “Insya Allah Bapak Kapolda akan hadir sebagai narsum,” ujar Ketua PWI Sumsel yang biasa dipanggil Firko, Selasa (5/7).

Rencananya secara semi virtual, sebagian peserta offline, Kamis, 8 Juli 2021 pukul 09.00 WIB di Mabes Wartawan kantor PWI Sumsel Jalan Supeno No 11 Kambang Iwak Palembang.

Acara yang dikemas dalam dialog sharing menghadirkan Pimpinan organisasi wartawan dan perusahaan pers, Pemimpin Redaksi (cetak, elektronik, dan siber) dan Praktisi hukum serta akademisi.

Baca Juga :  Jadi Tempat Isolasi, Kantor Dinkes Kepahiang Ditutup

Menurut Firdaus, output dialog untuk memperkuat kembali terkait dengan perlindungan profesi wartawan.

Terlebih adanya kasus tewasnya Pemimpin Redaksi LasserNewsToday, Mara Salem Harahap, di Simalungun, Sumatera Utara. Diduga meninggal karena ditembak, Sabtu 19 Juni 2021.
Kabar duka yang menjadi kecaman dan kutukan dari berbagai organisasi profesi di Tanah Air. Termasuk dari kepolisian dan pemerintah juga menyesalkan kejadian ini.

Bagi pers Indonesia ini adalah sebuah kabar duka kembali mewarnai kehidupan pers Indonesia. Peristiwa kriminal berupa pembunuhan atau kekerasan dengan pemberatan bisa terjadi dengan siapa pun, termasuk wartawan.

Baca Juga :  Alhamdulillah... BOR Pasien COVID-19 Menurun – cakrawalarafflesia

Mengapa profesi Wartawan menjadi menarik. Profesi Wartawan termasuk salah satu pekerjaan yang pada idealnya harus memiliki kemampuan dan standardisasi profesi.

Menurut Firko, standardisasi ini berkaitan dengan karya jurnalistik yang dihasilkan, karena Wartawan adalah orang yang secara berkala, melaksanakan tugas jurnalistik melakukan tahapan 6 m (mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengelolah dan mempublikasikan ) karya jurnalistik. Jika proses menghasilkan karya jurnalistik, tidak dilakukan demikian artinya bukan termasuk konsep Wartawan yang dikehendaki dari UU No 40 tahun 1999 tentang Pers. (Ril/wi2k)





Melansir Sumeks co

  • Bagikan