Ratusan Bisnis di AS Kena Serangan Siber, Biden Minta CIA Selidiki Serangan Siber yang Hantam Bisnis AS

  • Bagikan
2546aff0 fe0f 48e1 a978 afe605239327 169

Ratusan unit bisnis di Amerika Serikat (AS) dilaporkan telah terkena serangan ransomware.

Ransomware itu telah membajak perangkat lunak manajemen teknologi dari pemasok Kaseya yang banyak digunakan pebisnis di negara Paman Sam tersebut.

Seperti dilansir dari AFP, penyerang mengubah perangkat lunak Kaseya yang dinamakan VSA dengan mengenkripsi arsip digital pelanggan penyedia tersebut secara bersamaan.

VSA adalah perangkat yang disediakan Kaseya kepada pelanggannya untuk mengelola jaringan komputer dan pencetak dari sebuah alat tunggal.

Kaseya mengatakan telah mendeteksi serangan itu lebih dini, dan segera mematikan server sebagai langkah pencegahan lebih lanjut.

Selain itu Kaseya, dalam pernyataannya, menyatakan telah memberitahu kepada sejumlah kliennya untuk menonaktifkan perangkat VSA sebagai tindakan pencegahan sementara.

“Ini adalah serangan rantai pasokan yang kolosal dan menghancurkan,” ujar Detektif Keamanan Senior Huntress, John Hammond.

Baca Juga :  Menkeu Negara G7 Khawatir Serangan Siber di Tengah Pandemi

Huntress adalah perusahaan keamanan yang digunakan untuk melacak penyerangan tersebut.

Peneliti keamanan siber Hunters itu mengatakan jelang hari libur kemerdekaan AS umumnya bisa terjadi lebih dari seribu serangan siber ransomware ke kegiatan bisnis di negara tersebut.

Kaseya diketahui memiliki setidaknya 40.000 lebih pelanggan produknya. Namun, tak semuanya menggunakan perangkat lunak yang sama dengan yang diserang ransomware.

Dalam pernyataannya Kaseya mengaku telah berhasil mengidentifikasi sumber yang menyerang tersebut, dan mencoba langkah memitigasinya.

Diyakini penyerang itu adalah kelompok peretas yang diketahui dikenal dengan julukan REvil.

Sebagai informasi, Biro Investigasi Federal AS (FBI) juga pada bulan lalu menyebut REvil di balik serangan pada JBS-salah satu prosesor daging terbesar.

Baca Juga :  Menkeu Negara G7 Khawatir Serangan Siber di Tengah Pandemi

Kala itu JBS terpaksa menunaikan permintaan penyerangnya untuk membayar tebusan berupa bitcoin senilai $11 juta.

Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden telah meminta Badan Intelijen AS (CIA) untuk menyelidiki kasus serangan siber yang ditujukan pada sejumlah unit bisnis di negaranya. Serangan itu menimbulkan kecurigaan terhadap kelompok peretas Rusia sebagai biang kerok.

Sebelumnya, perusahaan keamanan Huntress Labs mencurigai kelompok ransomware REvil–kelompok peretas yang berbasis di Rusia–yang bertanggung jawab atas serangan tersebut. Bulan lalu, Biro Investigasi Federal (FBI) juga menyalahkan kelompok yang sama di balik serangan pada JBS–salah satu prosesor daging terbesar.

Namun, Biden mengaku belum sepenuhnya yakin akan kecurigaan tersebut.

  • Bagikan