Hibahkan Songket dan Foto Bersejarah Hari Jadi Kota Palembang – cakrawalarafflesia

  • Bagikan
bef4ee36


banyuasin vaksin

cakrawalarafflesia, PALEMBANG – Pelestari Budaya Palembang Maestro tari Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), Hj Masayu Anna Kumari menghibahkan tiga benda kesayangannya kepada Pemerintah Kota Palembang melalui Dinas Kebudayaan kota Palembang, Kamis (17/6). Di ruang rapat Dinas Kebudayaan Kota Palembang.

Tiga benda kesayangan yang dihibahkan tersebut adalah Selendang Songket Motif Bunga Pacik berumur 80 tahun hadiah dari ibundanya Anna Kumari yaitu Almh Masnatcik, dimana dulu Motif Bungo Pacik tersebut dulu khususnya dipakai oleh wanita Palembang keturunan Arab.

Selanjutnya yang dihibahkan yaitu Selendang Pelangi atau Jumputan berumur lebih dari 100 tahun yang sering di pakai dalam event – event kesenian tahun 60 an oleh Hj Anna Kumari dan tim keseniannya salah satunya di Jakarta dalam tim kesenian Sumatera Selatan tahun 1967.

Selain itu, Hj Anna Kumari salah satu Penari Gending Sriwijaya ini memberikan foto persembahan keputusan Hari Jadi Kota Palembang tanggal 17 Juni 1972 kepada RHA A.Rifai Tjek Yan yang saat itu menjabat sebagai Walikota Palembang pada tahun 1970 -1978 yang bersumber dari Buku Penemuan Hari Jadi Kota Palembang yang diterbitkan Humas Pemerintah Daerah Kotamadya Palembang.

Penyerahan langsung dilakukan oleh Hj Anna Kumari didampingi anaknya Mirza Indah Dewi, Spd diterima oleh Kepala Dinas Kebudayaan Kota Palembang ibu Hj Zanariah didampingi kabid dan staf Dinas Kebudayaan kota Palembang.

Baca Juga :  'Orang Dalam' Kasus Perampokan SPBU Semarang Berhasil Ditangkap

Menurut Hj Anna Kumari dia memang sengaja menghibahkan benda kesayangannya tersebut.

“Mungkin yang kami hibahkan ini tidak seberapa dan tidak sebagus keadaan yang ada sekarang, tapi ini adalah peninggalan dari keluarga saya dari nenek saya, waktu itu umur saya masih 7 tahun, kemudian sudah saya bawa Istana untuk menari, ke Taman Mini Indonesia Indah dan berbagai kesenian didalam dan luar negeri untuk menarikan tari selendang mayang yang saya ciptakan, pakai selendang ini,” katanya.

Dia menambahkan, janganlah melihat hal ini dianggap sesuatu yang hebat, karena ini jauh dari sekarang, ini adalah karya nenek-nenek kita, kain ini dibuat dengan tangan, mengikat kain ini dengan tangan, menyelupnya dengan tangan.

Tapi sekarang menurutnya sudah ada pabrik yang bisa membuat kain jumputan, kalau dulu namanya kain pelangi.

“Ini untuk generasi sekarang dan generasi yang akan datang, kenanglah kain pelangi ini dulu dibuat oleh keturunan kita dan sekarang dibuat pabrik,” ungkapnya.

Generasi sekarang menurutnya harus bangga dengan hasil karya keturunan di masa lalu.

Baca Juga :  Buku Nikah Cetak Tetap Sah – cakrawalarafflesia

Menurut Anna, kain songket motif Bungo Pacik yang umurnya 80 tahun, merupakan hadiah dari ibunya.

“Pacik dalam bahasa Palembang orang keturunan Arab, yang bukan Bungo Pacik waktu itu yang tidak memakai ini, ada yang memakai Bungo Inten. Bungo Inten untuk orang setengah tua, yang Lepus untuk penganten, Bungo Cino di pakai oleh wanita Palembang keturunan Cino, tapi sekarang sudah ada songket yang bikin pabrik. Kita harus bangga, dulu kain dibuat dengan tangan bukan dengan mesin. Waktu pembuatan sebulan hingga dua bulan bahkan berbulan-bulan,” katanya.

Mengenai foto Walikota Palembang RHA A.Rifai Tjek Yan menurut Anna, dia sempat menarikan Tari Gending Sriwijaya dan menyerahkan piagam hari jadi kota Palembang yang diterima Walikota Palembang tanggal 17 Juni 1972.

Kepala Dinas Kebudayaan Kota Palembang Hj Zanariah S.Ip M.Si mengucapkan terima kasih atas hibah dari Hj Anna Kumari, dia berharap semoga benda-benda ini bisa lestari serta bisa dinikmati para pencinta sejarah dan Budaya Palembang yang berkunjung ke Museum SMB 2 serta memotivasi masyarakat.

“semoga menjadi amal bagi keluarga Hj Anna Kumari,” tutupnya.(mg4)





Melansir Sumeks co

  • Bagikan