Hukum Salat Gerhana saat Gerhana Tak Terlihat

  • Bagikan
Hukum Salat Gerhana saat Gerhana Tak Terlihat
Hukum Salat Gerhana saat Gerhana Tak Terlihat

Fenomena Gerhana Matahari Cincin (GMC) dilaporkan akan terjadi pada Kamis, 10 Juni. Fenomena itu terjadi ketika Matahari, Bulan, dan Bumi tepat segaris.

Namun, sayangnya fenomena Gerhana Matahari Cincin ini tak bisa diamati di Indonesia.

Sebagaimana dilansir LAPAN, Gerhana Matahari Cincin ini hanya dapat disaksikan di Pulau Ellesmere dan Baffin (Kanada) serta Kawasan Siberia (Rusia) dengan ketampakan maksimum terjadi pada pukul 17.43.05 WIB / 18.43.05 WITA / 19.43.05 WIT.

Sementara itu, wilayah seperti Greenland, Islandia, Eropa, Rusia, negara-negara Asia Tengah dan Tiongkok bagian Barat dapat menyaksikan Gerhana Matahari Sebagian. Tidak dengan Indonesia.

Bila Gerhana Matahari tidak terlihat di Indonesia, perlukah tetap melakukan ibadah salat Gerhana?

فَإِذَا رَأَيْتُمْ فَصَلُّوا

“Jika kalian melihat gerhana tersebut, maka salatlah”. (HR. Bukhari No. 1043)

Namun, Ustaz KH Wahyul Afif Al-Ghofiqi mengatakan bahwa jika memang tidak terlihat ada Gerhana Matahari atau Gerhana maka tidak ada anjuran untuk menjalankan ibadah salat Gerhana.

“Hal ini berbeda dengan situasi sebuah daerah atau wilayah yang seharusnya dapat melihat Gerhana tetapi menjadi tidak terlihat karena tertutup awan atau hujan,” kata Wahyul saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (9/6).

Sebagaimana dilansir NU Online, yang memerintahkan untuk melakukan salat gerhana adalah firman Allah SWT dan salah satu hadis Nabi SAW.

Baca Juga :  Mengapa Khamar Diharamkan? Ini Hikmahnya

Allah ta’ala berfirman:

وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

“Sebagian tanda-tanda kebesaran-Nya ialah malam, siang, matahari, dan bulan. Jangan kalian bersujud pada matahari dan jangan (pula) pada bulan, tetapi bersujudlah kalian kepada Allah yang menciptakan semua itu, jika kamu hanya menyembah-Nya,” (QS Fushilat [41]: 37).

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَا يَكْسِفَانِ لِمَوْتِ اَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ وَلَكِنَّهُمَا آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللهِ تَعَالَى فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَقُومُوا وَصَلُّوا

“Sungguh, gerhana matahari dan bulan tidak terjadi sebab mati atau hidupnya seseorang, tetapi itu merupakan salah satu tanda kebesaran Allah ta’ala. Karenanya, bila kalian melihat gerhana matahari dan gerhana bulan, bangkit dan salatlah kalian,” (HR Bukhari-Muslim).

Dalam riwayat lain:

فإذا رأيتم ذلك فافزعوا إلى ذكر الله ودعائه واستغفاره

“Jika kalian melihat gerhana maka segeralah mengingat Allah, berdoa, dan memohon ampunan kepadanya.” (HR. Ad-Darimi 1569, An-Nasai 1483 dan dishahihkan al-Albani).

Riwayat di atas menegaskan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkaitkan disyariatkannya saalat gerhana ketika seseorang melihat peristiwa itu.

Baca Juga :  Khutbah Jumat: Kisah Nabi Isa Diangkat ke Langit Sampai Turun di Akhir Zaman

Sementara mereka yang tidak melihat peristiwa gerhana itu, tidak disyariatkan untuk melakukan salat gerhana, seperti dikutip Konsultasi Syariah.

Imam Ibnu Baz mengatakan:

ويعلم أيضا أنه لا يشرع لأهل بلد لم يقع عندهم الكسوف أن يصلوا؛ لأن الرسول صلى الله عليه وسلم علق الأمر بالصلاة، وما ذكر معها برؤية الكسوف لا بالخبر من أهل الحساب بأنه سيقع، ولا بوقوعه في بلد آخر، وقد قال الله عز وجل: {وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا}

“Dari hadis ini diketahui bahwa tidak disyariatkan bagi masyarakat yang tinggal di daerah yang tidak melihat gerhana untuk melakukan salat Gerhana.

Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkaitkan perintah untuk melaksanakan salat gerhana dan memperbanyak zikir dengan rukyatul kusuf (melihat peristiwa gerhana).

Bukan sebatas informasi dari ahli hisab yang memprediksi akan terjadi gerhana, tidak pula mengacu pada peristiwa gerhana yang ternyata di belahan daerah lainnya. Allah SWT berfirman, yang artinya:

“Apa saja yang diberikan Rasul kepada kalian maka ambillah dan apa yang dilarang oleh Rasul untuk kalian maka tinggalkanlah.” (QS. Al-Hasyr: 7) (Majmu’ Fatawa Ibn Baz, 13:31)

  • Bagikan
Positive SSL