21 Mei, 23 Tahun Lalu, Soeharto Lengser & Orde Baru Runtuh

  • Bagikan
0c104e92 e1f8 4223 a6de ee06ff1a4df1 169

Sudut-sudut Ibu Kota porak-poranda sejak beberapa pekan terakhir. Jalanan diblokade militer. Pasar dibakar. Pusat perbelanjaan dijarah. Gedung parlemen diduduki mahasiswa dan jelata.

Kematian empat orang mahasiswa Trisakti bak terompet kematian bagi Soeharto. Amarah publik yang terpendam selama 32 tahun akhirnya membuncah. Ratusan ribu orang mahasiswa turun ke jalan. Meski berasal dari kelompok berbeda, tujuan mereka cuma satu: menumbangkan Soeharto.

Walau begitu, kekacauan di Ibu Kota tak lebih semrawut dari benak Yusril Ihza Mahendra. Pikirannya kusut. Hatinya berkecamuk. Berulang kali ia membisiki Soeharto untuk mengundurkan diri. Namun, penguasa Orde Baru itu ngotot melanjutkan kepemimpinannya sebagai presiden.

Soeharto begitu yakin bisa lengser secara mulus dengan membentuk Komite Reformasi. Dia juga percaya diri bisa membentuk Kabinet Reformasi sebelum meninggalkan takhta.

Padahal, Komite Reformasi hampir mustahil terbentuk. Hanya 3 dari 45 orang tokoh masyarakat yang menerima ajakan Soeharto masuk komite itu.

Angry Indonesian mobs burn cars and Chinese shops as they plundered shops in Jakarta 14 May on the third day of violence, which has brought terror to the Indonesian capital and which has left at least nine dead over the three days.   / AFP PHOTO / CHOO YOUN-KONGTak sedikit warga yang menjarah toko akibat terdampak krisis ekonomi di penghujung masa Orde Baru (AFP PHOTO / CHOO YOUN-KONG)

Tersudut

Pada 20 Mei 1998, pagi hari, Yusril sudah tiba di rumah Soeharto di Jalan Cendana, Jakarta Pusat. Sejak tekanan publik menguat, Soeharto memilih bekerja dari rumah ketimbang Istana.

Di Cendana, Yusril ditemani Mensesneg Saadillah Mursyid, Bambang Kesowo, dan Sunarto Sudarno. Mereka memutar otak mencari jalan keluar.

Buntu. Mereka lalu jeda sejenak. Yusril mampir ke rumah tokoh Muhammadiyah, Abdul Malik Fajar selepas Magrib. Ia menumpang makan dan berganti baju.

Saat makan, ia ditemui Akbar Tanjung dan Tanri Abeng. Kedua tokoh itu menyampaikan 14 menteri mengundurkan diri dari Kabinet Pembangunan ke-VII.

Baca Juga :  Tagar Tolak Omnibus Law Menggema, Warganet Kecam RUU Ciptaker

Akbar memberi sepucuk surat berisi pengunduran diri 14 menteri. Pikiran Yusril makin tak keruan. Tak ada jalan lain, Soeharto harus pamit.

Malam itu juga, Yusril kembali ke Cendana. Ia antarkan surat dari Akbar Tanjung dkk. Sang Jenderal kini tak punya jalan lain .

“Pak Harto bilang, ‘Kalau sudah begini, ya sudah enggak bisa. Ya sudah mundur saja. Kamu persiapkan bagaimana saya mundur,’” ucap Yusril menirukan Soeharto, saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (20/5).

Yusril dkk. mulai merumuskan skenario untuk mengakhiri jabatan Soeharto. Ada sejumlah opsi, tapi Yusril usul menggunakan Tap MPR Nomor VII/MPR/1973 sebagai landasan.

Menurutnya, cara terbaik mengakhiri Orde Baru adalah dengan pengunduran diri Soeharto. Dia merasa cara ini sederhana karena tak butuh persetujuan MPR/DPR.

Soeharto cuma perlu mengumumkan pengunduran diri. Lalu, B.J. Habibie yang saat itu menjabat Wakil Presiden otomatis mengisi kepemimpinan negara.

Pada 21 Mei 1998, dini hari, Yusril menelepon Ketua Mahkamah Agung (MA) Sarwata bin Kertotenoyo. Ia meminta Sarwata hadir di Istana Presiden pada pagi hari pukul 07.00 WIB.

Yusril merahasiakan tujuan pemanggilan Sarwata ke Istana. Padahal, Sarwata dihadirkan untuk melantik Habibie sesaat usai Soeharto lengser.

“Pak Harto ingin bertemu,” ucap Yusril lewat telepon kepada Sarwata. Hakim itu pun tak bisa menolak karena Soeharto telah bertitah.

Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) Yusril Ihza Mahendra bersama jajaran pengurus bertemu Presiden Joko Widodo di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (1/8). Saat Soeharto berada di ujung karir politiknya, Yusril Ihza Mahendra merupakan pegawai Kemensetneg yang berperan penting (CNN Indonesia/Feri Agus Setyawan)

Hari Terakhir di Istana

Pukul 05.30 WIB, Yusril sudah tiba di Cendana. Ia menyerahkan naskah pidato kepada Soeharto berjudul ‘Pernyataan Berhenti Sebagai Presiden Republik Indonesia’.

Baca Juga :  Aturan Cuti Haid dan Hamil Hilang dari UU Cipta Kerja ?

Soeharto membaca sejenak lembaran-lembaran itu. Tiba-tiba, ia mengatakan ingin menambahkan sedikit teks di pidato terakhirnya itu.

“‘Saya mau katakan, saya mau minta maaf atas kesalahan saya dan minta kabinet dibubarkan, demisioner’,” ucap Soeharto ditirukan Yusril.

“Tapi saya enggak sempat lagi ini, Pak,” ujar Yusril menanggapi.

“‘Ya sudah, saya tulis tangan saja,’” balas Soeharto.

Soeharto mengambil pulpen di kantong jas Yusril. Ia menulis beberapa kalimat dalam naskah tersebut. Naskah beres, Yusril dan Soeharto pun berangkat ke Istana.

Iring-iringan kepresidenan tiba di Istana. Soeharto turun didampingi putri sulungnya, Siti Hardiyanti Rukmana alias Tutut.

Sang Jenderal Besar hadir mengenakan pakaian safari abu-abu gelap. Pembawaannya tenang. Dengan diwarnai senyuman, ia masuk ke Istana.

Di Ruang Jepara, mikrofon sudah siap sedia. Awak media menunggu kehadiran Sang Presiden sejak pagi. Kemudian, Soeharto pun bicara.

“Dengan memperhatikan ketentuan Pasal 8 UUD 1945, dan setelah dengan sungguh-sungguh memperhatikan pandangan pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat dan pimpinan fraksi-fraksi yang ada di dalamnya, saya memutuskan untuk menyatakan berhenti dari jabatan saya sebagai Presiden Republik Indonesia, terhitung sejak saya bacakan pernyataan ini pada hari ini, Kamis 21 Mei 1998,” ucap Soeharto.

“Sesuai dengan Pasal 8 UUD ’45, maka Wakil Presiden Republik Indonesia Prof. H. BJ Habibie yang akan melanjutkan sisa waktu jabatan Presiden Mandataris MPR 1998-2003,” ia melanjutkan.

Yusril menyebut suasana di ruangan itu seolah mencekam. Semua orang hening mendengar pidato Soeharto.

  • Bagikan
Positive SSL