Sinopsis Tjoet Nja’ Dhien yang Dibintangi Christine Hakim

  • Bagikan
f2692c20 film tjoet nja dhien 1988 169

Cut Nyak Dhien merupakan salah satu Pahlawan Nasional Indonesia dari Aceh yang berjuang melawan Belanda pada masa Perang Aceh. Kisah perjuangannya dalam melawan penjajah itu kemudian diangkat ke dalam film berjudul Tjoet Nja’ Dhien.

Film arahan Erros Djarot ini memenangkan Piala Citra sebagai Film Terbaik dalam Festival Film Indonesia 1988. Berikut sinopsis film Tjoet Nja’ Dhien yang dibintangi Christine Hakim, Piet Burnama, Slamet Rahardjo, dan mendiang Rudy Wowor ini.

Film Tjoet Nja’ Dhien merupakan film biografi yang menceritakan tentang perjuangan seorang wanita asal Aceh bernama Tjoet Nja’ Dhien (Christine Hakim). Ia dan teman-teman seperjuangannya bertempur melawan tentara Belanda yang menduduki Aceh.

Dalam perang tersebut, Tjoet Nja’ Dhien juga ikut membantu upaya suaminya, Teuku Umar (Slamet Rahardjo) yang menjadi panglima perang cakrawalarafflesia rakyat Aceh. Perjuangan mereka semakin berat setelah Teuku Umar ditangkap oleh Belanda karena pengkhianatan orang terdekatnya.

Hal itu membuat Tjoet Nja’ Dhien mau tak mau harus turun tangan menghadapi tentara Belanda bersama para pejuang lainnya. Ia bahkan terus ikut ke medan perang dalam kondisi yang sudah tidak lagi prima.

Hal itu membuat salah satu orang kepercayaan sekaligus teman setianya, Pang Laot (Pietrajaya Burnama) merasa iba. Terlebih kondisi kesehatan Tjoet Nja’ Dhien semakin turun lantaran ia menderita rabun dan encok akibat peperangan yang tak berkesudahan.

Baca Juga :  Kisah di Balik Nama-nama Jalan di Indonesia

Tak hanya menceritakan dilema-dilema yang dialami Tjoet Nja’ Dhien, film ini juga memperlihatkan kesulitan yang dialami pihak Belanda saat bertempur melawan tentara Aceh dalam perang yang berlangsung selama 31 tahun tersebut.

Film yang telah tayang pada 1988 silam ini kini akan kembali hadir di bioskop. Hal tersebut tidak terlepas dari upaya Erros Djarot dan timnya yang telah sukses melakukan restorasi film Tjoet Nja’ Dhien di Belanda.

Film ini akan tayang perdana bertepatan pada perayaan hari Kebangkitan Nasional yakni 20 Mei di sejumlah bioskop di Jakarta.

“Saya menonton film ini dulu dan hingga kini masih tersimpan sosok hebat Tjoet Nja’ Dhien. Ada pesan moral dari film tersebut kepada generasi milenial,” kata Amir Faisal, selaku Pendiri Atjeh Connection Foundation dalam pernyataan yang diterima CNNIndonesia.com, Rabu (19/5).

Amir menuturkan, dari sosok Tjoet Nja’ Dhien generasi sekarang bisa belajar keteguhan dan prinsip berjuang mengusir kolonial Belanda.

Amir turut menambahkan bahwa film ini juga sarat dengan pesan kesetaraan gender. Bahwasanya, jika ada kemampuan, perempuan juga bisa memimpin perang. Hal itu telah dibuktikan oleh Tjoet Nja’ Dhien yang mampu memimpin ratusan pasukan tempur yang terdiri dari kaum pria.

“Kesetiaan, kejujuran, etika, kepandaian dan lain-lain adalah hal yang harus dimiliki oleh anak bangsa ini termasuk dalam menghadapi perang pandemi Covid-19. Generasi milenial harus menonton film ini karena banyak pelajaran untuk masa kini,” ajak Amir Faisal.

Film Tjoet Nja’ Dhien dengan durasi kurang dari 2 jam ini merupakan hasil restorasi oleh lembaga arsip perfilman Belanda yang menjaga kualitas audio dan visual film ini tetap terpelihara.

Film ini meraih 8 Piala Citra di Festival Film Indonesia (FFI) pada 1988. Selain Film Terbaik, Piala Citra yang dimenangkan juga untuk kategori Sutradara Terbaik (Erros Djarot), Pemeran Wanita Terbaik (Christine Hakim), Skenario Terbaik (Erros Djarot), Cerita Asli Terbaik ( Erros Djarot), Tata Sinematografi Terbaik (George Kamarullah), Tata Artistik Terbaik (Benny Benhardi), dan Tata Musik Terbaik (Idris Sardi).

(nly/end)

[


Source link

  • Bagikan