Kisah Pilu Guru TK Diancam Dibunuh Debt Collector Pinjol

  • Bagikan
5fc4ee5f 607b 4953 82d0 3c7f64cbba55 169

Surabaya — Kehidupan Melati (bukan nama sebenarnya) hancur tepat setelah ia gagal bayar utang pinjaman online (pinjol). Bagaimana tidak? Ia diteror dengan pesan-pesan tidak pantas, menjadi omongan di lingkungannya, dipecat dari pekerjaannya, hingga diancam dibunuh oleh debt collector (penagih utang).

Melati, tentu pusing tujuh keliling. Bahkan, ia sempat berpikir untuk mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.

Mantan guru Taman Kanak-kanak (TK) itu terjerat utang pinjol hingga Rp40 juta dari 24 aplikasi.

Semua bermula saat Melati membutuhkan uang untuk membayar biaya kuliahnya. Kuliah itu harus ditempuhnya untuk memenuhi syarat lembaga tempatnya bekerja, yang meminta agar semua pengajar lulus Sarjana S1.

“Awalnya itu untuk bayar kuliah. Saya kan sama lembaga tempat saya mengajar disuruh S1,” kata Melati, Melansir CNNIndonesia.com, Senin (17/5).

Karena ingin tetap mengabdi di sekolah yang telah mempekerjakannya selama 13 tahun, Melati pun berusaha memenuhi syarat itu. Meskipun ia tahu, dengan gaji Rp400 ribu sebulan tidak akan cukup memenuhi syarat menempuh Sarjana S1.

“Saya kan memang nggak ada biaya, gaji saya Rp400 ribu sebulan, akhirnya saya nekat, bismillah saya kuliah,” ucapnya.

Waktu berjalan, tibalah Melati pada semester akhir perkuliahannya. Ia menemukan kesulitan mencari biaya. Jalan satu-satunya, dalam pikirannya ketika itu, mengajukan permohonan peminjaman atau utang ke aplikasi pinjol.

Namun, karena satu aplikasi tak bisa memberinya pinjaman sebesar Rp2,5 juta karena limit kredit. Melati pun terpaksa mengajukan peminjaman ke beberapa aplikasi pinjol lain.

Ia sebenarnya sempat merasa keberatan dengan persyaratan dan perjanjian yang diajukan pihak pinjol. Di antaranya potongan administrasi yang besar, tenor yang singkat, hingga ancaman bunga yang membengkak.

Tapi apa mau dikata, Melati sudah kepepet, ia tak mau kuliahnya pupus begitu saja. Ia akhirnya menyetujui segala persyaratan.

Baca Juga :  Wajib Tau, Syarat Dapatkan Bantuan Rp3,5 Juta, Pengganti BLT Subsidi Gaji

“Akhirnya saya pinjam di beberapa aplikasi sampai uangnya pas Rp2,5 juta. Sekitar 4-5 aplikasi,” terang dia.

Permasalahan pun datang bahkan sebelum pinjaman itu jatuh tempo selama tujuh hari. Melati mulai mendapatkan pesan WhatsApp penagihan.

Karena belum memiliki biaya untuk membayar, Melati terpaksa meminjam dari aplikasi pinjol lain untuk membayar utangnya. Tidak ada jalan lain, selain gali lubang tutup lubang.

Kesulitan serupa ia alami berulang. Sampai pada akhirnya, utang Melati menumpuk banyak hingga Rp30-40 juta. Nominal itu tersebar di 24 aplikasi pinjol yang berbeda-beda. Ia terjebak di rantai utang.

“Akhirnya untuk bayar, saya pinjam lagi di 3-4 aplikasi, dan begitu seterusnya sampai menumpuk Rp30 juta-Rp40 juta di 24 aplikasi,” ucapnya.

Hingga pada akhirnya, Melati pun mendapatkan teror dari para debt collector ke 24 aplikasi pinjol. Ia mendapatkan pesan ancaman, telepon hingga dipermalukan.

“Saya dikatain, monyet, anjing. Sampai mereka bilang gue bunuh lo. Foto saya juga diancam disebar di media sosial” ujar Melati.

Sejumlah kontak teman Melati, rekan kerja hingga wali murid di sekolahnya juga dihubungi oleh orang tersebut. Ia menduga debt collector pinjol telah mengakses dan mencuri data di ponselnya, secara ilegal.

Salah seorang debt collector bahkan sampai membuat WhatsApp grup bernama ‘Peduli Hutang Melati’ yang berisikan wali murid dan teman-temannya. Di grup itu foto dan KTPnya disebar, disertai dengan kalimat yang mempermalukannya, bak maling dan buron.

“Sampai dibuat grup ada wali murid, ada teman-teman. Ya Allah, ada foto saya disebar,” katanya.

Baca Juga :  Bansos Rp110 Triliun Cair Awal 2021, Ada Kartu Prakerja hingga Diskon Listrik

Puncaknya, pihak sekolah tempatnya bekerja memecat dirinya per November 2020. Menurutnya, lembaganya itu malu, dan tidak mau terseret ke pusara masalah yang tengah dihadapi Melati. Ia semakin terpuruk.

“Yang membuat saya terpuruk, loh saya dipecat, saya ini kuliah ini disuruh lembaga, kenapa lembaga malah mecat saya. Mungkin malu karena saya terjerat masalah ini,” terang dia.

Tak hanya pekerjaan, Melati juga kehilangan kepercayaan orang-orang di sekitarnya. Ia mengaku dijauhi oleh teman-teman di sekitarnya. Hingga pada akhirnya ia sempat berpikir ingin mengakhiri hidupnya.

“Saya kehilangan teman, saya kehilangan kepercayaan, sampai saya sempat ingin bunuh diri, tapi sampai saya teringat anak saya, saya urungkan,” katanya.

Mengalami teror dan intimidasi itu, Melati kemudian mencari bantuan hukum ke sejumlah orang. Salah satunya adalah pengacara Slamet Yuono. Mereka kemudian melaporkan perlakuan teror pinjol ini ke Satgas Waspada Investasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

“Bu Sumiati sudah mengirimkan surat ke Satgas, terkait teror yang dilajukan pinjol, kami mengajukan permohonan perlindungan hukum ke Satgas Waspada Investasi,” kata Slamet.

Tak hanya itu, pihaknya ternyata juga menemukan ada sejumlah pinjol illegal dan hal itu juga sudah dilaporkannya ke satgas. Ia berharap pinjol ilegal dan meresahkan ini bisa segera ditutup oleh pemerintah.

“Harapan kami ada tindakan tegas dari satgas untuk menutup pinjol yang meresahkan masyarakat dan memblokir aplikasinya,” tuturnya.

Cara ini ditempuhnya agar Melati mendapatkan keadilan dari serangkaian teror dan tekanan yang dialaminya. Bukan berarti, kliennya itu disebut ingin mengemplang utang.

“Bukkannya kami ngemplang utang, tapi cara penagihannya, buktinya ibu (Melati) sudah melunasi ke yang legal kok,” pungkas dia.

Melansir CNNIndonesia

  • Bagikan