Sejarah Masjid Raya Makassar, Saksi Perjuangan Rakyat Lawan Penjajah

33

Masjid Raya Makassar di Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan, menyimpan banyak kisah sejarah yang belum banyak diketahui orang.

Salah satu kisah mengenai tempat ibadah yang terletak di Jalan Masjid Raya, Kecamatan Bontoala, ini ialah saat menjadi saksi perjuangan rakyat Makassar mengusir para penjajah.

_

Lalu desain awal masjid yang dirancang oleh Mohammad Sobardjo ini ternyata mirip badan pesawat pengebom milik Amerika Serikat yang merupakan sekutu dari pasukan Belanda. Pesawat pengebom milik sekutu ini jenis B-29 digunakan saat terjadinya perang dunia kedua.

“Kalau bangunan Masjid Raya lama ini dirancang oleh pemenang sayembara, Mohammad Sobardjo. Dari desainnya menyerupai badan pesawat B-29,” kata Imam Rawatib II Masjid Raya Makassar M Syahrir, Selasa (4/5).

Dari beberapa hasil riset ilmiah, kata Syahrir, desain ini terinspirasi dari kekhawatiran rakyat Makassar terhadap pesawat bomber yang sering melintas di langit kota.

“Dari penelitian sejarahnya kurang lebih seperti itulah,” ujarnya.

Menurut Syahrir tanah yang sekarang ditempati Masjid Raya Makassar ini dulunya sebuah lapangan yang biasa dijadikan sebagai tempat bermain sepak bola.

Pada masa Hindia-Belanda, tanah ini haknya dipegang dalam istilahnya di masa itu Eigendom Vervonding, dengan atas nama Liong Soeisie De Stadsgemeente serta Het Gouvememet Van Nederlansche.

Akan tetapi, di masa kemerdekaan Bangsa Indonesia, jelas Syahrir, tanah tersebut kemudian diambil alih dan dikuasai sepenuhnya oleh negara. Selanjutnya, diberikan izin untuk dipakai oleh masyarakat dengan dibentuk badan pengelola.

“Kemudian dikelola untuk kegiatan peribadatan masyarakat. Tanah ini luasnya mencapai 13.912 meter kubik,” bebernya.

Di tahun 1947 pembangunan masjid diprakarsai oleh Anregurutta Kyai Haji Ahmad Bone, yang merupakan sesepuh dari pendiri Nahdlatul Ulama (NU) Sulawesi Selatan.

Baca Juga :  7 Peninggalan Kerajaan Islam dan Sejarah Singkatnya

“Dibentuklah panitia dan terpilih KH Mukhtar Lutfi sebagai panitia pembangunan masjid,” katanya.

Pada tanggal 27 Mei 1949 bangunan Masjid Raya Makassar diresmikan dan masyarakat pada waktu itu telah bisa menggunakan untuk beribadah.

Tetapi, kata Syahrir ditanggal 5 Agustus 1950 terjadi peristiwa penembakan terhadap ulama yang dilakukan tentara Hindia-Belanda, Koninklijke Nederlands (ch)-Indische Leger (KNIL).

Pasalnya, ulama saat itu dianggap telah memproklamirkan kemerdekaan Indonesia sehingga mereka ditembak mati.

Pada sehari sebelumnya, tepatnya pada tanggal 4 Agustus, para ulama ikut membantu menerangkan kepada masyarakat arti proklamasi kemerdekaan dalam sebuah khutbah Jumat.

“Saat itu, ulama yang menjadi korban statusnya sebagai ketua umum Masjid Raya Makassar,” imbuhnya.

Presiden pertama Indonesia, Soekarno pada tahun 1957 pernah datang berkunjung dan melaksanakan Salat Jumat berjamaah.

Bung Karno lanjut dia, mempunyai tujuan untuk berdialog dan mengajak pimpinan Darul Islam-Tentara Islam Indonesia (DI-TII) Kahar Muzakkar untuk kembali bergabung dengan Indonesia.

Berselang beberapa tahun kemudian, Presiden kedua RI, Soeharto yang menyambangi Masjid Raya Makassar di tahun 1967.

Kala itu presiden memberikan bantuan sebesar Rp50 juta kepada Pondok Pesantren Mahad Manahilil Ulum Guppi di Kelurahan Samata, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa.

Selain dijadikan sebagai tempat ibadah, masjid ini juga aktif digunakan sebagai tempat kegiatan religi lainnya, seperti pengajian umum hingga pembinaan Al Quran, sehingga masyarakat waktu itu aktif mengikuti rangkaian kegiatan yang hampir tiap hari dilaksanakan.

Sejak peletakan batu pertama, beberapa bagian bangunan masjid mengalami kerusakan, termasuk di bagian atap dan kubah masjid, karena termakan usia yang saat itu sudah mencapai 30 tahun. Kemudian di tahun 1978 dilakukan renovasi bagian masjid yang rusak.

Baca Juga :  Sasar Pusat Perbelanjaan, Polres Pelabuhan Makassar Imbau Penerapan Protokol Kesehatan

“Ketika direnovasi itu tidak mengubah bentuk asli masjid hanya mengganti rangka balok penyangga atap sudah lapuk termakan rayap,” jelasnya.

Ketika dilakukan renovasi tutur Syahrir datang dari sejumlah dermawan, termasuk Panglima Kodam VII Wirabuana (sekarang Kodam XIV Hasanuddin), Mayjen TNI Nana Nurandana, mantan Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Oddang dan Ahmad Lamo.

“Namun, hasil renovasinya tidak cukup menggembirakan, karena masih ada bagian yang rusak,” katanya.

Akibat kerusakan saat itu, ungkap Syahrir satu orang jamaah tertimpa material bangunan yang rusak hingga meninggal dunia. Dari kejadian itu, lanjutnya pengurus masjid kemudian berfikir untuk membongkar dan mendesain bangunan masjid yang kuat hingga waktu yang cukup lama.

Sehingga pada tahun 9 Oktober 1999, Masjid Raya Makassar pun mengalami renovasi besar-besaran dan mantan Gubernur Sulsel, HZB Palaguna meletakkan batu pertama pembangunan awal masjid.

Namun, hanya kubah menara masjid yang dibiarkan tetap utuh. Pasalnya, kubah itu merupakan pemberian dari Raja Bima, Sultan Kaharuddin untuk mengenang sejarah sebagai simbol persahabatan.

Kubah yang berukuran 36 meter yang berada di puncak masjid didatangkan khusus dari Australia dengan estimasi anggaran yang digunakan mencapai Rp25 miliar.

Masjid dengan ukuran 36×36 meter ini setelah dilakukan renovasi mengalami perubahan yang cukup drastis. Desain masjid tersebut diklaim sebagai arsitektur modern. Sementara, mihrab masjid mengingatkan kepada kebesaran Islam di Cordoba, Spanyol.

Masjid Raya Makassar memiliki daya tarik di bagian dua buah menara yang masing-masing tingginya sekitar 66,66 meter dan dikelilingi dengan 4 kubah kecil hingga keindahan jajaran kaligrafi yang menghiasi dinding dan langit-langit masjid.

(mir/ard)


cnnindonesia