5 Cara Menjelaskan dan Ajarkan Puasa ke Anak

  • Bagikan
10f7f5db 5339 425e 8fe5 9ba0390cd741 169

Tak hanya orang tua, anak juga bisa ikut berpuasa di bulan

. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan orang tua yang ingin mengajarkan puasa pada si buah hati.

Salah satu syarat puasa adalah dewasa atau sudah akil baligh. Artinya, anak yang belum akil baligh tidak diwajibkan untuk berpuasa.

Kendati demikian, tak ada salahnya jika orang tua ingin mengajarkan puasa pada anak. Orang tua bisa mengenalkan konsep puasa pada anak secara perlahan.

Berikut hal-hal yang perlu diperhatikan orang tua saat akan mengajarkan puasa pada anak.

1. Waktu tepat mulai berpuasa

Pada dasarnya, tak ada patokan baku mengenai kapan waktu yang tepat bagi anak untuk berpuasa. Namun, anak disarankan berpuasa secara bertahap. Idealnya, orang tua dapat mulai mengajarkan puasa pada anak sejak usia 7 tahun.

Dokter spesialis anak Primaya Hospital Bekasi Barat, Ayi Dilla Septarini menyarankan ajarkan anak usia 4 tahun untuk berpuasa selama 3-4 jam tanpa makan.

“Sedangkan pada usia 5-7 tahun dikategorikan sebagai usia yang cukup untuk menanamkan pengertian tentang puasa dan makanannya. Pada usia ini, anak-anak cenderung sudah mulai berpikir kritis,” ujar Ayi, dalam keterangan resmi, Selasa (27/4).

Baca Juga :  500 Plus Ucapan Selamat Idul Fitri 1442 H / 2021 Berbagai Bahasa Daerah dan Inggris terbaru

2. Atur pola tidur

Selain itu, orang tua juga perlu menerapkan pola tidur yang tepat pada anak selama berpuasa.

“Jika biasanya anak tidur pukul 21.00, coba ajak mereka tidur lebih awal seperti pukul 20.00 atau 20.30,” ujar dokter spesialis anak lainnya, Desy Dewi Saraswati. Waktu tidur yang lebih awal membuat anak lebih mudah terbangun saat sahur.

3. Bangunkan anak 30 menit sebelum sahur

Orang tua juga disarankan untuk membangunkan anak sekitar 30 menit sebelum waktu imsak. Waktu ini dirasa cukup bagi anak menikmati santapan sahurnya.

Sering kali, anak sulit dibangunkan untuk sahur. Namun, biasanya hal tersebut hanya terjadi pada masa awal bulan Ramadan.

4. Konsumsi makanan yang tepat

Saat sahur, anak disarankan mengonsumsi makanan dengan indeks glikemik rendah yang dapat mempertahankan kadar gula darah lebih lama. Misalnya saja, Anda bisa mencoba beras merah, ubi, kacang hijau, roti gandum, apel, jeruk, pisang, dan oatmeal.

Selain itu, anak juga akan memerlukan asupan protein, lemak, dan sehat yang dapat mempertahankan rasa kenyang. Jangan lupa juga untuk memenuhi kebutuhan cairan pada anak.

Baca Juga :  Tabel Huruf Hijaiyah Sambung Lengkap

Sementara saat berbuka puasa, anak disarankan untuk mengonsumsi makanan dengan indeks glikemik yang tinggi. Pasalnya, saat berbuka puasa, tubuh akan membutuhkan kadar gula darah untuk meningkatkan energi.

Orang tua bisa memberikan si kecil potongan buah segar, donat, kentang, atau roti. Kurma bisa jadi pilihan yang baik bagi anal.

“IDAI sendiri merekomendasikan agar orang tua memberikan variasi makanan dalam hal bentuk, rasa, dan bahan dasar,” ujar Desy.

5. Sesuaikan waktu berbuka puasa secara bertahap

Orang tua tak perlu memaksa anak untuk bisa menunaikan ibadah puasa hingga matahari tenggelam. Sesuaikan waktu berbuka puasa secara bertahap sesuai dengan kemampuan masing-masing anak.

“Pada anak, biarkan konsep puasa menjadi seperti menunda waktu makan mereka,” ujar Ayi.

(asr)


cnnindonesia

  • Bagikan