Penjelasan Dokter soal KB Suntik Bisa Bikin Gemuk

  • Bagikan
ebc22862 9760 4f72 93d1 f11be2b1bafc 169

Ada banyak alat kontrasepsi yang ditawarkan bagi pasangan yang ingin menunda kehamilan, salah satunya adalah KB suntik. Selain harganya yang terjangkau, KB suntik disebut memiliki efektivitas mencegah kehamilan hingga 99 persen.

Di samping itu, KB suntik dinilai lebih praktis karena hanya disuntikkan secara berkala setiap satu hingga tiga bulan sekali. Berbeda dengan pil KB yang harus diminum setiap hari.

Meski demikian, ada anggapan yang menyebut bahwa KB suntik dapat menambah berat badan. Alhasil, banyak yang merasa enggan menggunakan KB suntik.

Namun, apakah benar KB suntik bisa membuat berat badan Anda bertambah?

Dokter spesialis kandungan, Dinda Derdameisya mengatakan bahwa KB suntik sebetulnya tidak secara langsung menambah berat badan seseorang.

Kandungan dalam KB suntik yakni berupa hormon sintetis progesteron dan estrogen. Pada KB suntik 3 bulan, hanya menggunakan kandungan hormon progesteron.

Kandungan hormon sintetis ini memang bisa mempengaruhi suasana hati, hingga meningkatkan nafsu makan.

Meski demikian, berat badan tak langsung bertambah meski nafsu makan meningkat. Menurut Dinda, biasanya ada faktor lain yang mempengaruhi, seperti jenis makanan yang dikonsumsi, berapa banyak konsumsi kalori dalam sehari, dan pola hidup yang dijalani.

“Sebenarnya sangat wajar ada hormon tambahan dan mempengaruhi mood, tapi ini tidak langsung membuat berat badan naik, itu tergantung juga pada makanan apa yang dikonsumsi, kalau makanan tinggi gula dan olahraga tidak teratur ya wajar berat badan naik,” kata Dinda dalam sebuah diskusi daring, Selasa (27/4).

Baca Juga :  Catatan Gizi Ibu Menyusui, Makan Tidak Asal Banyak

Dokter atau bidan biasanya akan menyarankan konsumsi makanan sehat dan disesuaikan dengan kebutuhan kalori harian agar tak terjadi kenaikan berat badan. Anda yang menggunakan KB suntik juga akan disarankan melakukan olahraga teratur untuk menjaga hormon dalam tubuh tetap stabil sekaligus membakar kalori berlebih.

Selain itu, Dinda juga menekankan bahwa perubahan mood seketika pada seseorang yang menerima KB suntik biasanya terjadi pada awal-awal penyuntikan. Hal itu dikarenakan tubuh masih perlu waktu untuk beradaptasi dengan hormon yang masuk ke tubuh.

Perubahan mood dan suasana hati yang mendadak juga dianggap normal dan akan hilang dengan sendirinya seiring adaptasi tubuh menerima hormon sintetis tersebut.

“Kalau ada peningkatan nafsu makan itu wajar 1-2 bulan setelah mencoba alat kontrasepsi. Namun, lama-lama tubuh akan terbiasa (adaptif) dan kembali seperti semula,” ucapnya.

Brand Manager Andalan Kontrasepsi, Roni Syamson juga mengatakan, efek samping yang ditimbulkan karena suntik KB biasanya hanya terjadi pada masa awal-awal penerimaan kontrasepsi.

Baca Juga :  Jamur kuping hitam efektif menurunkan kolesterol tinggi bila dikonsumsi secara rutin

Tidak hanya berlaku pada KB suntik, bahkan penggunaan pil KB juga bisa mempengaruhi suasana hati hingga meningkatkan nafsu makan seseorang. Sehingga sebetulnya, penggunaan alat kontrasepsi tidak secara langsung bisa menambah berat badan.

“Pada awal itu masa adaptasi tubuh ketika dia menggunakan kontrasepsi hormonal baik suntik atau pil, tapi ini bersifat sementara saja,” ujar Roni.

Tetap hamil meski sudah KB

Beberapa keluhan penggunaan KB suntik lainnya seperti sakit kepala, nyeri pada payudara, nyeri saat haid, hingga libido menurun umum dialami saat pertama kali menerima suntik kontrasepsi. Namun pada beberapa kasus, alat kontrasepsi gagal mencegah terjadinya kehamilan.

Dinda mengatakan, hal ini bisa terjadi karena ada kemungkinan hamil 1 persen pada setiap alat kontrasepsi yang digunakan, bahkan kondom sekalipun.

Penyebabnya bisa berbagai macam, seperti kesalahan penggunaan alat kontrasepsi, atau dalam kasus yang lebih jarang, terjadi reaksi penolakan pada tubuh sehingga kontrasepsi gagal mencegah pembuahan.

“Setiap alat kontrasepsi klaim 99 persen mencegah kehamilan, ada 1 persen kemungkinan gagal, meski demikian, penting menggunakan alat kontrasepsi untuk perempuan di usia reproduktif yang ingin menunda kehamilan,” tutur Dinda.

(mel/agn)


Source link

  • Bagikan