Ramadhan Membangun Persatuan Mengikis Perbedaan

  • Bagikan
d5b57362 khutbah jumat ramadhan membangun persatuan mengikis perbedaan dakwah id

Materi Khutbah Jumat
Ramadhan Membangun Persatuan Mengikis Perbedaan

Oleh: Abdul Halim Tri Hantoro, S.Pd.I

الْحمْدُ ِللهِ الَّذِى أَمَرَنَا بِالإِتِّحَادِ وَالْوِفَاقِ وَنَهانَا عَنِ الشِّقَاقِ وَالنِّفَاقِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. أَمَّا بَعْدُ

عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ حَيْثُ قَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

فَإنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ. أَمَّا بَعْد

Segala puji bagi Allah Ta’ala yang telah memerintahkan manusia untuk senantiasa memupuk persatuan dan kesatuan serta mencegah mereka dari perpecahan dan sifat kemunafikan.

Shalawat dan salam semoga tercurah untuk baginda Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Keluarga dan para sahabatnya. Semoga keselamatan juga Allah curahkan untuk umatnya yang selalu berpegang teguh kepada ajarannya.

Kami wasiatkan kepada diri kami juga kepada jamaah sekalian untuk senantiasa meningkatkan kualitas takwa kepada Allah subhanahu wata’ala dengan sebenar-benar ketakwaan, dalam arti selalu tunduk dan patuh terhadap segala perintah-Nya serta menjauhi segala larangan-Nya.

Allah subhanahu wata’ala berfirman,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.” (QS. Ali Imran: 102)

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah

Mari sejenak kita merenungi lebih jauh tentang perintah Allah berupa puasa di bulan Ramadhan. Sadarkah kita bahwa ternyata puasa Ramadhan merupakan momentum persatuan umat Islam?

Hal itu dibuktikan dengan ditemukannya beberapa tata laksana yang sama, mulai dari awal pelaksanaan yang sama yaitu tanggal 1 Ramadhan meskipun tempat tinggal kaum muslimin berbeda-beda bahkan berjauhan.

Artikel Tsaqafah: Kenapa Terjadi Perbedaan Pendapat Ulama?

Kemudian ia dikerjakan dengan durasi waktu yang sama yakni 29 atau 30 hari. Kemudian ia harus dipisah dengan perbuatan yang sama yakni makan sahur dan berbuka untuk membedakan puasa umat Muhammad dengan puasanya ahli kitab.

Hingga mengakhiri ibadah siyam ini pun dengan perbuatan yang sama, yakni mengeluarkan zakat fitri dan mengumandangkan takbir.

Allah berfirman,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Ayat di atas juga menjadi gambaran yang lebih konkret bahwasanya Ramadhan adalah momentum persatuan umat Islam. Betapa tidak, Allah menyeru hamba-Nya yang memiliki predikat yang sama, yakni beriman. Mereka mendapatkan perintah yang sama, yakni shiyam di bulan Ramadhan, kemudian Allah menetapkan tujuan yang sama dari diwajibkannya siyam, yakni menjadi orang-orang yang bertakwa.

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah

Sesungguhnya persatuan umat merupakan pilar untuk meraih kebahagiaan dan kemenangan. Ia juga menjadi tiang penegak kemajuan dan kemakmuran suatu negeri.

Para sahabat adalah generasi yang lahir dari sulbi yang berbeda-beda, orang tua yang berlainan, mereka berasal dari wilayah yang berjauhan, namun mereka bernaung di bawah satu kalimat yaitu “Laa Ilaaha Illallah Muhammad Rasulullah”, dan mereka bernaung di bawah sumber ilmu yang sama yaitu al-Quran dan as-Sunnah.

Baca Juga :  Resep Praktis Sahur: Terong Goreng Tepung

Allah subhanahu wata’ala berfirman,

قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ

Katakanlah (Muhammad), ‘Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama cakrawalarafflesia kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.” (QS. Ali ’Imran: 64)

Maka wajib bagi setiap individu muslim untuk melaksanakan dan menegakkan kewajiban persatuan tersebut dengan sebaik-baik pelaksanaan.

Hindarilah sejauh mungkin perkara yang bisa menimbulkan persengketaan dan perpecahan antar umat Islam, karena itu merupakan tindak perbuatan tercela yang dosanya amat besar.

Allah berfirman,

وَاَطِيْعُوا اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ وَلَا تَنَازَعُوْا فَتَفْشَلُوْا وَتَذْهَبَ رِيْحُكُمْ وَاصْبِرُوْاۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَۚ

Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang dan bersabarlah. Sungguh, Allah beserta orang-orang sabar.” (QS. Al-Anfal: 46)

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah

Ada sebuah slogan yang dipopulerkan oleh Sayyid Rasyid Ridha rahimahullah yang berbunyi:

نَجْتَمِعُ عَلَى مَا اِتَّفَقْنَا عَلَيهِ وَيُعَذِّرُ بَعْضُنَا بَعْضًا فِيْمَا اِخْتَلَفْنَا فِيْهِ

Kita bersatu dalam perkara yang disepakati bersama dan memberi udzur masing-masing terhadap perkara yang diperselisihkan.”

Artinya adalah wajib bagi kita untuk saling tolong-menolong dalam perkara yang disepakati bersama oleh semua kaum muslimin yaitu menolong kebenaran dan mendakwahkan agama Islam serta menjauhi semua yang dilarang Allah dan Rasul-Nya.

Atau kita juga tolong-menolong dalam masalah ushul (pokok). Dan kita bertoleransi dalam permasalahan-permasalahan ijtihadi atau furu’ (cabang) yang mana dalilnya bisa ditafsirkan dari berbagai sudut pandang.

Artikel Tsaqafah: Fenomena Perbedaan Fatwa di Kalangan Para Ulama Fikih

Maka selama pendapat itu bersandar kepada dalil yang benar maka tidak boleh kita ingkari melainkan kita harus menerimanya. Namun manakala pendapat itu bertentangan dengan nash kitab dan sunnah maka harus kita ingkari.

Allah berfirman,

وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۖوَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksaan-Nya.” (QS. Al-Ma’idah: 2)

Langkah Membangun Persatuan dan Mengikis Perbedaan

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah

Lantas bagaimana caranya mewujudkan persatuan umat khususnya umat Islam di Indonesia dan secara umum kaum muslimin di seluruh dunia? Para ulama dan pemikir merangkumkan untuk kita beberapa poin pokok bagi siapa yang saja yang mendamba persatuan umat, di antaranya:

Pertama: Merealisasikan Iman yang Haq

Hendaknya umat Islam siap merealisasikan keimanan yang benar sebagaimana yang telah dipahami oleh salaf ash-shalih. Tidak menoleransi penyimpangan-penyimpangan dalam masalah akidah. Karena jika ini dibiarkan maka mustahil persatuan akan terwujud.

Kedua: Memberikan ketaatan yang mutlak kepada Allah dan Rasul-Nya

Jika manusia meninggalkan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya mereka pasti akan ditimpa kelemahan dan perselisihan sehingga persatuan tidak mungkin bisa tercapai.

Allah berfirman,

وَاَطِيْعُوا اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ وَلَا تَنَازَعُوْا فَتَفْشَلُوْا وَتَذْهَبَ رِيْحُكُمْ وَاصْبِرُوْاۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَۚ

Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang dan bersabarlah. Sungguh, Allah beserta orang-orang sabar.” (QS. Al-Anfal: 46)

Baca Juga :  Resep Sahur: Nasi Goreng Shirataki

Ketiga: Menaati para pemimpin dan ulama yang tsiqah (konsisten) dalam kebenaran

Di cakrawalarafflesia yang menghalangi terealisasinya persatuan adalah ketaatan mereka dalam rangka bermaksiat kepada Allah, sementara agama Islam melarang kita taat kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Khaliq.

Allah berfirman,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَاُولِى الْاَمْرِ مِنْكُمْۚ فَاِنْ تَنَازَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَالرَّسُوْلِ اِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا

Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di cakrawalarafflesia kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa’: 59)

Keempat: Tidak berlaku fanatik buta

Sikap fanatik buta akan melahirkan kesombongan, sedangkan orang yang sombong ia pasti akan menolak kebenaran yang datang. Mengikis sikap fanatik merupakan asas membangun persatuan yang utama. Sikap fanatik dilarang dalam Islam dilarang karena ia adalah perbuatan mendahulukan yang lain daripada Allah dan Rasul-Nya.

Allah berfirman,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُقَدِّمُوْا بَيْنَ يَدَيِ اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. Al-Hujurat: 1)

 

Kelima: Membuka ruang diskusi dan musyawarah

Islam adalah agama yang mengajarkan musyawarah, karena manusia memiliki kemampuan yang terbatas. Tidak suatu kaum yang memaksakan suatu pendapat ataupun pemikiran tanpa membuka ruang diskusi dan musyawarah maka pastilah kaum itu akan binasa.

Allah berfirman,

وَالَّذِيْنَ اسْتَجَابُوْا لِرَبِّهِمْ وَاَقَامُوا الصَّلٰوةَۖ وَاَمْرُهُمْ شُوْرٰى بَيْنَهُمْۖ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَ ۚ

Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhan dan melaksanakan salat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah cakrawalarafflesia mereka; dan mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” (QS. Asy-Syura: 38)

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah

Demikian materi khutbah Jumat tentang Ramadhan momentum membangun persatuan dan mengikis perbedaan, semoga Allah Ta’ala membimbing kita menuju jalan yang diridhai-Nya, amiin.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

 

 

KHUTBAH KEDUA

أَحْمَدُ رَبِّي وَأَشْكُرُهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ حَيْثُ قَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ

اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِيْنَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى، والتُّقَى، والعَفَافَ، والغِنَى

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

  • Bagikan