LAPAN Jelaskan Geger Fenomena Meteor Jatuh di Sulteng

  • Bagikan
7ad5a4b4 2cd0 4090 a9ff 4f14292f1ade 169



7ad5a4b4 2cd0 4090 a9ff 4f14292f1ade 169

Jakarta, cakrawalarafflesia —

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) menjelaskan fenomena kilatan cahaya di langit Pantai Pagimana, Kecamatan Pagimana, Kabupaten Binggai, Sulawesi Tengah pada Selasa (16/3) malam terindikasi kuat meteor.

Fenomena itu, yang terjadi sekitar 21.00 WITA, sempat direkam warga kemudian viral di media sosial. Selain kilatan cahaya, suara ledakan dari kejauhan juga dikatakan terjadi.

“Berdasarkan rekaman video yang ada, terdapat indikasi kuat bahwa kilatan tersebut dihasilkan oleh bolide yang merupakan meteor berukuran beberapa puluh sentimeter yang terbakar dan meledak di atmosfer,” ujar Peneliti LAPAN Rhorom Priyatikanto melalui keterangan tertulis, Kamis (18/3).





Menurut Rhorom, ada banyak meteor yang masuk ke atmosfer Bumi namun sebagian besar tidak teramati karena jatuh di lautan atau tidak dekat daerah berpenghuni.

Baca Juga :  GoPay Kenalkan Fitur Auto Invest di GoInvestasi, Nabung Emas Makin Mudah

Dia juga bilang rata-rata meteor seukuran 50 cm masuk ke Bumi dua kali tiap pekan. Meteor cukup besar dikatakan dapat mencapai atmosfer bagian bawah kemudian mengalami ledakan yang suaranya menyusul setelah kilatan cahaya terlihat.

Pada beberapa kasus dia mengatakan sisa meteor yang masuk ke Bumi, meteorit, dapat jatuh ke permukaan.

Meteor sporadis

Rhorom menjelaskan meteor yang teramati di Pantai Pagimana diprediksi tidak berkaitan dengan aktivitas hujan meteor. Dengan kata lain meteor itu berjenis meteor sporadis yang tidak memiliki pola kemunculan khusus, baik waktu maupun lokasi kejadian.

Baca Juga :  Menang MPL Season 7, Bagaimana Rencana Pensiun Roster EVOS Legends?

Lebih lanjut ia mengimbau masyarakat untuk tidak khawatir akan bahaya yang ditimbulkan meteor itu karena ukurannya relatif kecil, kemungkinan benda tersebut habis terbakar di atmosfer.

Menurut Rhorom para astronom dunia telah berusaha keras memantau dan memperkirakan potensi malapetaka karena meteor atau asteroid berukuran besar.

“Langkah mitigasi telah dirancang untuk kejadian yang rata-rata terjadi sekali dalam 10 ribu tahun,” ujar Rhorom.

LAPAN sebagai lembaga keantariksaan di Indonesia dikatakan mengambil peran mengedukasi masyarakat terkait isu sains antariksa, termasuk kasus benda jatuh antariksa.

“LAPAN menerima dengan tangan terbuka bila ada entitas/institusi yang melaporkan dan menyerahkan temuan benda jatuh antariksa,” tutup dia.

[Gambas:Instagram]

(can/fea)

[Gambas:Video CNN]






Source link

  • Bagikan