Syarat Sah Khutbah Jumat dalam Fikih Empat Mazhab

  • Bagikan
bc6bff79 syarat sah khutbah jumat dalam fikih empat mazhab dakwah.id

Para ulama fiqih sepakat bahwa khutbah merupakan syarat sah shalat Jumat. Sehingga, memenuhi syarat sah khutbah Jumat menjadi sebuah tuntutan.

Secara ringkas pembahasan syarat sah khutbah Jumat terbagi menjadi dua kategori yaitu; pertama, syarat yang disepakati para ulama fiqih; dan kedua, syarat-syarat yang diperselisihkan.

Syarat sah khutbah Jumat yang disepakati oleh para ulama ada dua, yaitu: Pertama, khutbah dimulai ketika telah masuk waktu shalat Jumat. Kedua, khutbah dilaksanakan sebelum shalat Jumat.

Sedangkan syarat yang diperselisihkan para ulama fiqih ada enam, yaitu; pertama, niat berkhutbah; kedua, jamaah yang hadir; ketiga, berkhutbah dengan berdiri; keempat, bersuara keras; kelima, berbahasa Arab; dan keenam, berkesinambungan.

Berikut ini pembahasan lebih rinci terkait perbedaan pendapat ulama empat mazhab dalam hal syarat sah khutbah Jumat.

Syarat Khutbah Jumat Menurut Mazhab Hanafi

Para ulama fikih dari kalangan mazhab Hanafi menjelaskan bahwa khutbah di dalam shalat Jumat ada dua; Pertama, waktu shalat Jumat sudah tiba. Kedua, Khutbah sebelum shalat.

Ulama fikih dari kalangan mazhab Hanafi menyebutkan syarat sah khutbah Jumat yang pertama adalah waktu shalat Jumat sudah tiba.

Persoalannya, bagaimana cara menandai masuknya waktu shalat Jumat?

As-Sarkhasi dan beberapa ulama fikih dari kalangan mazhab Hanafi mengatakan bahwa awal waktu shalat Jumat sama seperti awal waktu shalat Zuhur, yaitu setelah tergelincirnya matahari. (As-Sarkhasi, Mabsuth 2/42, az-Zayla’i dalam Tabyinul Haqaiq Syarh Kanz ad-Daqaiq 1/219)

Dalil yang mendasari pendapat ini adalah hadits dari Anas bin Malik,

كان يُصلِّي الجُمُعةَ حين تَميلُ الشمسُ

“Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan shalat Jumat ketika matahari sudah condong (tergelincir ke arah barat).” (Hadits shahih riwayat Imam Al-Bukhari)

Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alai wa sallam mengerjakan shalat Jumat pada waktu matahari sudah tergelincir ke arah barat. (Al-Kasani, Badai’u Shana’i’, 1/267)

Adapun syarat sah khutbah Jumat yang kedua menurut mazhab Hanafi adalah khutbah harus dilaksanakan sebelum shalat. Ini juga merupakan pendapat mayoritas ulama mazhab. (As-Sarkhasi, Al-Mabsuth, 2/36)

Dalilnya adalah hadits dari Malik bin al-Huwairits,

صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي

Shalatlah kalian seperti kalian melihat aku (Nabi) melakukannya.” (HR. Al-Bukhari No. 6008)

Hadits ini menunjukkan secara implisit bahwa khutbah dilakukan sebelum shalat Jumat. Karena berdasarkan perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang selalu berkhutbah sebelum mendirikan shalat Jumat. Maka menjadi sebuah kewajiban untuk mengikuti seperti yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. As-Sarkhasi dan al-Kasani termasuk ulama yang menjadikan perbuatan Nabi sebagai dalil. (Al-Mabsuth 2/36; Badai’us Shanai’ 1/262)

Selain dua syarat di atas, mazhab Hanafi tidak menganggap syarat-syarat yang ditetapkan oleh mazhab lain sebagai syarat dalam mazhab Hanafi.

Sebagaimana pernyataan seorang ulama mazhab Hanbali, imam Ibnu Qudamah al-Maqdisi, dalam kitabnya Al-Mughni, beliau menukil pernyataan Imam Abu Hanifah bahwa tidak ada syarat jumlah jamaah yang menghadiri khutbah Jumat, baik khutbah pertama atau khutbah kedua. Sebab, khutbah Jumat itu seperti azan. Tidak ada syarat jumlah jamaah yang harus hadir.

Akan tetapi, menurut pernyataan Imam Ibnu Qudamah, khutbah Jumat itu adalah peringatan (az-Zikr), sehingga bagi mazhab Hanbali jumlah jamaah yang hadir merupakan syarat sah khutbah Jumat. Seperti halnya takbiratul ihram.

Kemudian imam Ibnu Qudamah memberikan sedikit sanggahan terkait argumentasi Imam Abu Hanifah, “Ini tentu berbeda dengan azan. Sebab, azan itu tujuannya adalah panggilan (i’lam); memanggil kaum muslimin yang belum hadir di masjid. Sedangkan khutbah itu adalah memberi peringatan dan nasehat yang ditujukan secara jelas kepada jamaah yang telah hadir dalam masjid. (Al-Mughni, Ibu Qudamah al-Maqdisi, 3/210)

Sementara berdiri ketika khutbah yang ditetapkan sebagai syarat sah khutbah Jumat oleh mazhab lain, mazhab Hanafi menetapkannya sebagai amalan sunnah. (As-Sarkhasi, Al-Mabsuth 2/62)

Hal ini berdasarkan zahir riwayat yang menjelaskan bahwa Utsman radhiyallahu‘anhu dan khalifah Mu’awiyah di usia lanjutnya pernah berkhutbah dengan duduk dan tidak ada satu pun di cakrawalarafflesia para sahabat yang mengomentari lantaran usia beliau yang sudah lanjut.

Ketika itu para sahabat menganggap bahwa di usia lanjut seorang khatib diberi pilihan cakrawalarafflesia boleh berkhutbah dengan duduk atau pun berdiri. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri pun berkhutbah dengan berdiri. (Al-Kasani, Badai’u Shanai’, 1/263)

Ibnu Hajar al-‘Asqalani mengomentari pendapat ini dan menjelaskan bahwa memang benar Utsman dan Mu’awiyah radhiyallahu’anhuma melakukan hal tersebut lantaran uzur syar’i yaitu usia beliau yang telah lanjut.

Disebutkan pula bahwa khalifah Mu’awiyah pada waktu itu berkhutbah dengan duduk karena pada bagian perut beliau sudah banyak mengandung lemak. (Ibnu Hajar al-‘Asqalani, Fathul Bari, 2/401)

Kemudian, terkait dengan khatib harus mengeraskan suara ketika sedang berkhutbah, ulama mazhab Hanafi menetapkan bahwa hukumnya adalah sunnah. Berbeda dengan mazhab lain yang menyatakan sebagai syarat.

Ibnu Najim al-Hanafi mengemukakan bahwa fardhu khutbah ada dua yaitu waktu dan zikir (nasehat) dan sunnah khutbah ada lima belas. Di antaranya adalah mengeraskan suara ketika berkhutbah. Maka, apabila khatib berkhutbah dan jamaah tidak mendengarnya menurut mazhab Hanafi khutbah tersebut tetap sah.

Alasannya, karena pada asalnya, menurut mazhab Hanafi, jamaah dapat mendengarkan khutbah merupakan satu dari lima belas sunnah lainnya yang terdapat dalam khutbah shalat Jumat. (Ibnu Najim, al-Bahru ar-Raiq Syarh Kanz ad-Daqaiq 2/159).

Syarat Khutbah Jumat Menurut Mazhab Maliki

Para ulama fikih mazhab Maliki menyebutkan bahwa syarat sah khutbah Jumat ada tujuh:

Pertama, Jumlah jamaah yang hadir.

Kedua, Waktu shalat Jumat sudah tiba.

Ketiga, Khutbah sebelum shalat.

Keempat, Berdiri ketika berkhutbah.

Kelima, Khutbah dengan suara keras.

Keenam, Berbahasa arab.

Ketujuh, Berkesinambungan.

Rincian penjelasannya sebagai berikut.

Pertama, Jumlah jamaah yang hadir.

Ulama fikih mazhab Maliki menyebutkan syarat pertama yang menjadi syarat sah khutbah Jumat adalah jumlah jamaah yang hadir mendengarkan khutbah.

Jumlah minimal jamaah shalat Jumat tidak cukup dengan tiga atau empat orang saja, melainkan diukur dengan jumlah yang menurut ukuran ‘urf (dipahami masyarakat setempat) sudah cukup untuk membuat satu kampung. (Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid 1/158, Ibnu Abdil Barr, al-Kafi 1/149)

Maka menurut mazhab ini, jumlah jamaah yang hadir sejumlah jamaah yang cukup untuk membuat satu kampung merupakan syarat sah khutbah di dalam shalat Jumat. Artinya, khutbah Jumat tidak sah tanpa dihadiri jamaah yang mendengarkan sampai akhir khutbah. (Qadhi Abdul Wahhab Al-Baghdadi, Al-Isyraf ‘ala Nukati Mas’ilil Khilaf 1/134).

Hal ini didasarkan pada hadits Nabi shallallahu ‘alai wa sallam,

صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِيْ أُصَلِّيْ

“Shalatlah kalian seperti kalian melihat aku (Rasulullah) shalat.” (HR. Al-Bukhari No. 6008)

Hadits ini mengandung makna bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk menunaikan shalat persis sebagaimana Nabi shalat. Dan ketika beliau sedang menjadi khatib, beliau tidak pernah berkhutbah kecuali bersama jamaah dari para sahabat yang menghadiri dan mendengarkan beliau. (At-Tharabulusi, Mawahibul Jalil, 2/166)

Kedua, waktu shalat Jumat sudah tiba.

Ulama fikih mazhab Maliki menyebutkan syarat sah selanjutnya, yakni waktu shalat Jumat sudah tiba.

Abdul Wahhab al-Baghdadi dan beberapa ulama fikih mazhab Maliki seperti Ibnu Abdil Barr mengatakan bahwa awal waktu shalat Jumat sama seperti awal waktu shalat Zuhur, yaitu setelah tergelincirnya matahari. (Al-Baghdadi, Al-Isyraf ‘ala Nukati Masailil Khilaf, 1/134)

Pendapat ini berlandaskan atas hadits dari Salamah bin al-Akwa’,

‌كُنَّا ‌نُجَمِّعُ ‌مَعَ ‌رَسُولِ ‌اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِذَا زَالَتِ الشَّمْسُ، ثُمَّ نَرْجِعُ نَتَتَبَّعُ الْفَيْءَ

Kami shalat Jumat bersama beliau ketika matahari tergelincir, kemudian kami pulang sambil mencari-cari tempat berteduh.” (HR. Muslim No. 860)

Dari hadits di atas sudah jelas menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alai wa sallam mengerjakan shalat Jumat pada waktu matahari sudah tergelincir ke arah barat. (Al-Kafi, Ibn ‘Abdil Barr, 1/250)

Ketiga, Khutbah harus dilaksanakan sebelum shalat.

Ulama fikih mazhab Maliki menyebutkan syarat sah selanjutnya adalah khutbah harus dilaksanakan sebelum shalat. Ini juga merupakan pendapat mayoritas ulama mazhab.

Dalilnya hadits yang sama yang diriwayatkan oleh Malik bin al-Huwairits, diama hadits tersebut menunjukkan bahwa khutbah dilakukan sebelum shalat Jumat. Karena berdasarkan perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang setiap shalat Jumat pasti berkhutbah sebelum mendirikan shalat. (Asy-Syarh ash-Shaghir, Ar-Rafi’i, 1/178)

Keempat, Berdiri ketika berkhutbah

Syarat sah khutbah Jumat selanjutnya menurut mazhab Maliki adalah dilaksanakan dengan berdiri.

Ibnu ‘Abdil Barr menambahkan pengertian sebaliknya bahwa dibolehkan untuk duduk sebelum dan di pertengahan khutbah (berarti waktu selain keduanya tetap disyaratkan berdiri), beliau mengatakan bahwa duduk tersebut hukumnya sunnah (dalam riwayat lain: mustahabbah).

Duduk sebelum dimulainya khutbah disunnahkan karena dalam sebuah riwayat dikatakan agar khatib menunggu azan selesai dikumandangkan. (Al-Kafi, Ibn ‘Abdil Barr, 1/249-251)

Kelima, Khutbah dengan suara keras.

Syarat selanjutnya adalah mengeraskan suara ketika berkhutbah. Pendapat ini seperti yang dikemukakan oleh Syaikh Ahmad Shawi bahwa dalam khutbah Jumat, khatib disyaratkan untuk mengeraskan suaranya ketika sedang berkhutbah. (Bulghatu as-Salik li Aqrabi al-Masalik, Abu al-Abbas al-Khalwati al-Maliki, 1/328)

Dalam riwayat lain ada yang mengatakan bahwa baik khatib bersuara keras ataupun pelan sampai tidak ada jamaah yang mendengar suaranya tetap boleh dan sah. Namun, pendapat ini sedikit rancu dan dikembalikan kepada zahir perkataannya Ibnu ‘Arafah, “Diamnya khatib berarti tidak ada khutbah”. (Mawahibul Jalil fi Syarh Mukhtashar Khalil, At-Tharabulusi, 2/172)

Keenam, Khutbah disyaratkan berbahasa Arab.

Syarat selanjutnya menurut mazhab Maliki adalah khutbah disyaratkan berbahasa arab selain saat membaca ayat Al-Quran Khatib disyaratkan berbahasa arab semampunya saat sedang berkhutbah meskipun jamaah asing atau yang mendengarnya tidak memahami apa yang sedang dibicarakannya. (Bulghatu as-Salik li Aqrabi al-Masalik, Abu al-Abbas al-Khalwati al-Maliki, 1/328)

Ketujuh, Berkesinambungan.

Syarat terakhir menurut mazhab Maliki adalah kesesuaian dan berkesinambungan. Dalam hal ini terbagi menjadi dua; berkesinambungan cakrawalarafflesia setiap bagian atau rukun khutbah, dan berkesinambungan cakrawalarafflesia khutbah dan shalat Jumat.

Adapun dari keduanya, baik berkesinambungan cakrawalarafflesia setiap bagian khutbah Jumat dan cakrawalarafflesia khutbah dengan shalat Jumat, mazhab Maliki berpendapat bahwa kedua hal tersebut merupakan syarat, artinya setiap isi bagian khutbah dan cakrawalarafflesia khutbah dan shalat harus dilakukan dengan berurutan dan berkesinambungan.

Namun, apabila jika terjadi jeda yang dianggap lama (ukuran ‘urf setiap tempat), maka khutbah diulang dan dimulai dari awal. Begitu juga semisal seusai khutbah terjadi jeda sebelum shalat yang dianggap lama dari biasanya maka khutbah diulang kembali dari awal. (Mawahibul Jalil fi Syarh Mukhtashar Khalil, At-Tharabulusi, 2/166)

Baca Juga :  Khutbah Jumat: Malaikat yang Selalu Patuh

Syarat Khutbah Jumat Menurut Mazhab Syafi’i

Para ulama fikih mazhab Syafi’i menyebutkan bahwa syarat sah dalam khutbah pada shalat Jumat ada delapan:

Pertama, Niat berkhutbah.

Kedua, Jamaah yang hadir.

Ketiga, waktu shalat Jumat sudah tiba.

Keempat, Khutbah sebelum shalat.

Kelima, Berdiri.

Keenam, Khutbah dengan suara keras.

Ketujuh, Berbahasa arab, dan

Kedelapan, Berkesinambungan.

Rincian penjelasannya sebagai berikut.

Pertama, Niat berkhutbah.

Sebagian ulama mazhab Syafi’i menjelaskan bahwa niat khatib untuk berkhutbah termasuk syarat sah khutbah Jumat. (Majmu’ Syarh Muhadzab, an-Nawawi, 4/595; Mughni al-Muhtaj, As-Syirbini, 1/288)

Imam as-Syirbini menganalogikan (qiyas) pendapat ini dengan ibadah shalat. Sebab, shalat juga mempunyai syarat sah berupa thaharah (bersuci), menutup aurat, dan harus berurutan. (Mughni al-Muhtaj, As-Syirbini, 1/288)

Beberapa ulama internal mazhab Syafii memiliki kritik terhadap pendapat beliau ini dan menyanggah bahwa qiyas dalam hal tersebut kurang tepat, karena ada berapa hal yang disyaratkan dalam shalat yang tidak terdapat dalam syarat sah khutbah Jumat.

Sebagian lain, masih jajaran ulama mazhab Syafii, juga mengemukakan pendapat bahwa niat bukanlah syarat sah khutbah Jumat. Atau khutbah Jumat tetap sah walaupun tanpa adanya niat dari khatib untuk berkhutbah. (Mughni al-Muhtaj, As-Syirbini, 1/288)

Argumentasi pendapat ini adalah bahwa dalam khutbah Jumat tercakup beberapa hal, di antaranya zikir kepada Allah, ajakan untuk berbuat makruf dan menjauhi yang mungkar, doa kepada Allah, dan membaca beberapa ayat dari al-Quran. Setiap amalan tersebut tidak perlu membutuhkan niat.

Karena dari awal tujuan khatib adalah mengajak umat untuk kembali mengingat Allah. Seperti yang dipahami bahwa maksud khutbah Jumat adalah nasihat dan peringatan atau pelaksanaan khutbah yang dikembalikan kepada ukuran ‘urf (sesuai kebiasan setiap daerah). (Mughni al-Muhtaj, As-Syirbini, 1/288)

Namun, jika dipahami lebih dalam bahwa setiap hal yang tercakup di dalam khutbah Jumat baik zikir kepada Allah, ajakan untuk berbuat makruf dan nahi munkar, dan yang lainnya; semua hal tersebut tidak memerlukan niat, lalu bagaimana jika semua hal tersebut terangkai menjadi khutbah yang utuh. Padahal khutbah jumat menjadi bagian penting (syarat sah) dalam rangkaian ibadah shalat Jumat, dan memerlukan niat untuk membedakannya dengan khutbah dalam ibadah shalat lainnya.

Kedua, Jumlah jamaah yang hadir.

Ulama fikih dari kalangan mazhab Syafi’i menyebutkan syarat sah selanjutnya adalah jamaah yang hadir mendengarkan khutbah.

Mazhab Syafi’i berpendapat bahwa jumlah minimal jamaah shalat Jumat adalah empat puluh orang. Maka empat puluh jamaah yang hadir tersebut merupakan syarat sah khutbah Jumat. Artinya khutbah Jumat tidak sah tanpa dihadiri sejumlah jamaah yang mendengarkan sampai akhir khutbah. (Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, Imam an-Nawawi, 4/507; Raudhatu ath-Thalibin, Imam an-Nawawi, 2/27; Mughni al-Muhtaj, As-Syirbini, 1/283).

Ketiga, waktu shalat Jumat sudah tiba.

Syarat sah selanjutnya adalah waktu shalat Jumat sudah tiba.

Imam as-Syafi’i dan Imam an-Nawawi mengatakan bahwa awal waktu shalat Jumat sama seperti awal waktu shalat Zuhur, yaitu setelah tergelincirnya matahari atau ketika matahari tegak lurus. (Al-Umm, Imam As-Syafi’i, 1/223; Raudhatu ath-Thalibin, Imam an-Nawawi, 2/3; Majmu’ Syarh al-Muhadzab, Imam an-Nawawi, 4/509)

Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa karena shalat Jumat adalah pengganti shalat Zuhur, maka shalat Jumat memiliki hukum sama dengan shalat Zuhur, yaitu waktu awal mengerjakannya dimulai setelah matahari tergelincir ke arah barat. (Minhaj ath-Thalibin, Imam an-Nawawi, 1/116)

Ibnu Hajar al-‘Asqalani mengemukakan bahwa Abu Bakar as-Shiddiq dan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhuma mengerjakan shalat Jumat di waktu setelah matahari tergelincir ke arah barat. (Fathul Bari, Ibnu Hajar al-Asqalani, 2/387)

Demikian pula Umar bin Khatthab radhiyallahu ‘anhu yang mengerjakannya di waktu yang sama. (Shahih al-Bukhari, 1/217)

Pendapat ini berdasarkan hadits dari Salamah bin al-Akwa’,

كُنَّا نَجْمَعُ مَعَهُ إِذَا زَالَتِ اَلشَّمْسُ، ثُمَّ نَرْجِعُ، نَتَتَبَّعُ اَلْفَيْءَ

Kami shalat Jumat bersama beliau ketika matahari tergelincir kemudian kami pulang sambil mencari-cari tempat berteduh.” (Muttafaq ‘Alaihi. Lafal hadits ini milik Imam Muslim)

Imam an-Nawawi mengatakan bahwa lafal “mencari-cari tempat berteduh” bermakna jelas masih ada bayangan walaupun sedikit, karena tembok pada saat itu berukuran pendek. Maka, bayangan itu akan tampak terlihat setelah matahari tergelincir dalam waktu yang lebih lama. (Majmu’ Syarh al-Muhadzab, Imam an-Nawawi, 4/512)

Keempat, Khutbah dilaksanakan sebelum shalat.

Ulama fikih mazhab Syafi’i menyebutkan syarat sah selanjutnya adalah khutbah dilaksanakan sebelum shalat. (Majmu’ Syarh al-Muhadzab, Imam an-Nawawi, 4/514; Raudhatu ath-Thalibin, Imam an-Nawawi, 2/26). Ini juga merupakan pendapat mayoritas ulama mazhab.

Pendapat ini juga berlandaskan dalil hadits yang diriwayatkan oleh Malik bin al-Huwairits, bahwa khutbah dilakukan sebelum shalat Jumat. Hal ini karena berdasarkan perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang setiap shalat Jumat pasti berkhutbah sebelum mendirikan shalat. (An-Nawawi dan as-Syirbini termasuk ulama yang menjadikan perbuatan Nabi sebagai dalil, Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, Imam an-Nawawi, 4/514, Mughni al-Muhtaj, Imam asy-Syirbini, 1/285)

An-Nawawi mengatakan bahwa pada asalnya shalat Jumat adalah ibadah yang dilaksanakan secara berjamaah. Dan maksud khutbah didahulukan dan shalat diakhirkan lantaran agar jamaah yang terlambat tidak tertinggal shalat Jumat secara berjamaah. (Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, Imam an-Nawawi, 4/514)

Kelima, Berdiri ketika berkhutbah.

Syarat khutbah selanjutnya menurut mazhab Syafi’i adalah berdiri. Imam an-Nawawi mengemukakan bahwa khutbah dilakukan dengan berdiri bagi yang mampu. (Syarh Shahih Muslim, Imam an-Nawawi, 6/150)

Dalam riwayat lain sebagian ulama kalangan mazhab Syafi’i juga mengatakan bahwa berdiri ketika khutbah adalah sunnah. Namun hal ini dikomentari oleh Imam an-Nawawi sebagai pendapat yang lemah dan keliru. (Majmu’ Syarh al-Muhadzab, Imam an-Nawawi, 4/514)

Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan dari Jabir bin Samurah rahdiyallahu’anhu,

أنَّ رَسولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ، كانَ يَخْطُبُ قَائِمًا، ثُمَّ يَجْلِسُ، ثُمَّ يَقُومُ فَيَخْطُبُ قَائِمًا، فمَن نَبَّأَكَ أنَّهُ كانَ يَخْطُبُ جَالِسًا فقَدْ كَذَبَ، فقَدْ وَاللَّهِ صَلَّيْتُ معهُ أَكْثَرَ مِن أَلْفَيْ صَلَاةٍ.

Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkhutbah sambil berdiri. Kemudian beliau duduk, setelah itu beliau berdiri kembali dan menyampaikan khutbah kedua. Maka barang siapa yang memberitakan kepadamu bahwa beliau berkhutbah sambil duduk, sesungguhnya ia telah berkata dusta. Demi Allah, saya telah shalat bersama beliau lebih dari dua ribu kali.” (HR. Muslim No. 862)

Berdasarkan hadits di atas, Imam an-Nawawi mengatakan bahwa khutbah shalat Jumat tidak sah kecuali khatib berkhutbah dengan keadaan berdiri (selama mampu berdiri). Kemudian beliau menjelaskan bahwa lafal “shalat bersama beliau lebih dari dua ribu kali”, maksudnya adalah bukan shalat Jumat melainkan shalat fardhu lima waktu dalam sehari. (An-Nawawi, Syarh Shahih Muslim 6/150)

An-Nawawi juga menjelaskan bahwa khutbah merupakan salah satu bentuk kewajiban di dalam ibadah shalat Jumat. Dan seperti halnya di dalam shalat ada kewajiban untuk berdiri dan duduk, maka di dalam khutbah juga ada kewajiban berdiri dan duduk. (Majmu’ Syarh al-Muhadzab, Imam an-Nawawi, 4/514)

Keenam, Khutbah dengan suara keras.

Syarat khutbah berikutnya menurut mazhab Syafi’i adalah khatib mengeraskan khutbahnya. Dalam sebagian pendapat ada yang mengatakan hal ini adalah mustahab atau bukan menjadi bagian dari syarat khutbah Jumat, maka Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa pendapat tersebut adalah pendapat yang keliru. (Raudhatu ath-Thalibin, Imam an-Nawawi, 2/27)

Pendapat yang paling benar menurut kalangan mazhab Syafi’i adalah khatib mengeraskan suara saat berkhutbah. Namun, apabila khatib sudah mengeraskan suara semampunya dan beberapa jamaah masih belum terdengar suara khutbah, apakah khutbahnya sah?

Dalam hal ini ada dua pendapat; pendapat pertama menyatakan khutbahnya tidak sah, karena sama seperti jamaah yang terlalu jauh berjarak dengan khatib, pendapat kedua menyatakan khutbahnya tetap sah, karena sama seperti jamaah yang mendengar khutbah tetapi tidak paham isinya. (Raudhatu ath-Thalibin, Imam an-Nawawi, 2/28)

Pada zaman sekarang ini sudah umum di setiap masjid ketika khutbah Jumat menggunakan pengeras suara. Artinya kemungkinan sangat kecil jika khatib sampai tidak mampu berkhutbah dengan suara keras karena sudah terbantu dengan adanya mikrofon.

Syaikh Shalih al-‘Utsaimin mengatakan dalam fatwa beliau bahwa menggunakan pengeras suara, seperti mikrofon, dibolehkan dalam rangka memberikan manfaat kepada umat Islam dan orang-orang yang berada di luar masjid secara umum, kecuali jika dengan hal tersebut timbul keributan dan kekacauan, maka hukumnya menjadi tidak boleh. (Majmu’ Fatawa wa Rasail as-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin jilid ke 13)

Ketujuh, Khutbah berbahasa arab.

Syarat selanjutnya menurut mazhab Syafi’i adalah khutbah disyaratkan berbahasa Arab selain saat membaca ayat Al-Quran.

Tetapi di dalam riwayat lain dikatakan berbahasa Arab ketika sedang berkhutbah hukumnya adalah mustahab (dianjurkan) dengan alasan bahwa maksud khutbah adalah nasihat atau peringatan. Dan hal tersebut bisa dilakukan dengan bahasa mana pun. (Majmu’ Syarh al-Muhadzab, Imam an-Nawawi, 4/522)

Namun, pendapat yang lebih shahih dalam mazhab Syafi’i adalah berbahasa Arab merupakan syarat sah dalam khutbah shalat Jumat. Hal ini berdasarkan penjelasan Imam an-Nawawi bahwa paling shahih adalah pendapat berkhutbah dengan bahasa Arab.

Tetapi jika tidak ada seorang pun yang mampu berbahasa Arab dengan baik dan benar, maka dibolehkan menggunakan bahasa setempat. Dan wajib sebagian dari mereka berusaha untuk tetap belajar berbahasa Arab. Dikarenakan hal ini sama seperti seseorang yang tidak dapat mengucap kalimat takbir dengan bahasa arab ketika shalat. (Raudhatu ath-Thalibin, Imam an-Nawawi, 2/26)

Kedelapan, Berkesinambungan.

Syarat terakhir menurut mazhab Syafi’i adalah kesesuaian dan berkesinambungan.

Dalam hal ini terbagi menjadi dua; berkesinambungan cakrawalarafflesia setiap bagian atau rukun khutbah, dan berkesinambungan cakrawalarafflesia khutbah dan shalat Jumat.

Keduanya menjadi syarat khutbah dalam shalat Jumat. Dan ini adalah qaul jadid (pendapat terakhir) Imam As-Syafi’i. (Perkataan ini dinukil oleh an-Nawawi dalam Al-Majmu’ Syarh Muhadzab, 4/507; Raudhatu ath-Thalibin, Imam an-Nawawi, 2/8)

Pendapat ini pun juga sama seperti halnya yang dikemukakan para ulama fikih kalangan mazhab Maliki.

Syarat Khutbah Jumat Menurut Mazhab Hanbali

Para ulama fikih dari kalangan mazhab Hanbali menyebutkan bahwa syarat sah dalam khutbah pada shalat Jumat secara umum hampir sama dengan kalangan mazhab Syafi’i, yaitu; niat berkhutbah, jumlah jamaah yang hadir, waktu shalat Jumat sudah tiba, khutbah sebelum shalat, berdiri, khutbah dengan suara keras, berbahasa Arab semampunya, dan berkesinambungan.

Baca Juga :  Materi Khutbah Jumat Bulan Ramadhan Kesempatan Belajar Menjaga Lisan

Pertama, Niat berkhutbah.

Para ulama fikih mazhab Hanbali mengatakan bahwa niat (niatnya khatib) adalah termasuk syarat sah khutbah. (Al-Inshaf, Al-Mardawi, 2/389; Kasysyaf al-Qina’, Imam al-Buhuti, 2/33)

Pendapat ini didasarkan atas hadits Umar radhiyallahu’anhu,

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

Amalan itu tergantung pada niatnya. Dan setiap orang akan mendapatkan sesuai apa yang diniatkan.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Imam al-Buhuti menjelaskan bahwa kesimpulan dari hadits di atas secara umum adalah niat merupakan salah satu hal yang tercakup dalam khutbah shalat Jumat. Karena pada dasarnya shalat Jumat tidak akan sah dikerjakan tanpa khutbah Jumat (baca: rukun khutbah). (Kasysyaf al-Qina’, Imam al-Buhuti, 2/23)

Kedua, Jumlah jamaah yang hadir.

Ulama fikih dari kalangan mazhab Hanbali menyebutkan syarat sah selanjutnya adalah jumlah jamaah yang hadir mendengarkan khutbah.

Ulama fikih mazhab Hanbali berpendapat bahwa jumlah minimal shalat Jumat adalah empat puluh orang. Maka empat puluh jamaah yang hadir tersebut merupakan syarat sah khutbah di dalam shalat Jumat. Artinya khutbah Jumat tidak sah tanpa dihadiri sejumlah jamaah yang mendengarkan sampai akhir khutbah. (Al-Mughni, Ibnu Qudamah, 3/210; Al-Furu’, Ibnu Muflih, 2/101; Al-Inshaf, Imam al-Mardawi, 2/390)

Ketiga, waktu shalat Jumat sudah tiba.

Ulama fikih mazhab Hanbali menyebutkan syarat sah selanjutnya adalah waktu shalat Jumat sudah tiba. (Syarh az-Zarkasyi, Imam az-Zarkasyi, 2/180; Al-Inshaf, Imam al-Mardawi, 2/387; Kasysyaf al-Qina’, Imam al-Buhuti, 2/31)

Sebagian ulama fikih mazhab Hanbali berpendapat bahwa awal waktu shalat Jumat sama halnya awal waktu shalat Zuhur, yaitu setelah tergelincirnya matahari.

Ada pula yang berpendapat bahwa awal waktunya adalah dimulai pada paruh waktu ke enam semenjak matahari terbit sampai tergelincirnya matahari. (Al-Furu’, Ibnu Muflih, 2/96; Al-Inshaf, Imam al-Mardawi, 2/376).

Pendapat ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ غُسْلَ الْجَنَابَةِ ثُمَّ رَاحَ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَدَنَةً وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّانِيَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَقَرَةً وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّالِثَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ كَبْشًا أَقْرَنَ وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الرَّابِعَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ دَجَاجَةً وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الْخَامِسَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَيْضَةً فَإِذَا خَرَجَ الْإِمَامُ حَضَرَتْ الْمَلَائِكَةُ يَسْتَمِعُونَ الذِّكْرَ

Barang siapa mandi pada hari Jumat seperti mandi junub, kemudian pergi (ke masjid) pada waktu yang pertama, maka seakan-akan dia berkurban dengan seekor unta. Dan barang siapa yang datang pada waktu kedua, maka seakan-akan dia berkurban dengan seekor sapi. Dan barang siapa yang datang pada waktu yang ketiga, maka seakan-akan dia berkurban dengan seekor domba yang bertanduk. Dan barang siapa yang datang pada waktu yang keempat, maka seakan-akan dia berkurban dengan seekor ayam. Dan barang siapa yang datang pada waktu yang kelima, maka seakan-akan dia berkurban dengan sebutir telur. Maka, jika imam telah keluar, malaikat pun bergegas untuk mendengarkan khutbah.” (Muttafaqun ‘alaih)

Jika lafal hadits di atas yang terakhir datang adalah pada waktu yang kelima, maka waktu yang keenam adalah telah masuk awal waktu shalat Jumat, yaitu ketika khatib memulai khutbahnya.

Ibnu Hajar al-‘Asqalani menjelaskan maksud dari hadits di atas bahwa maksud pembagian menjadi lima waktu yang dimulai dari terbitnya matahari sampai khatib naik mimbar adalah bentuk anjuran setiap muslim agar bisa mempersiapkan dirinya untuk melaksanakan shalat Jumat lebih awal.

Karena jika seorang muslim persiapan lebih awal akan lebih longgar waktunya untuk mandi sebagaimana mandi junub. Di dalam hadits di atas juga dijelaskan, orang yang akan mendapatkan keutamaan adalah mereka yang sempat mandi janabah sebelum bergegas menuju ke masjid. (Fathul Bari, Ibnu Hajar al-Asqalani, 2/368)

Hadits ini bukan menjelaskan tentang awal waktu dimulainya shalat Jumat, tetapi menjelaskan keutamaan persiapan lebih awal untuk pergi shalat Jumat, karena ia dapat mandi janabah sebelum pergi ke masjid untuk menunaikan shalat Jumat.

Namun, pendapat yang lebih masyhur di kalangan mazhab Hanbali bahwa awal waktu shalat Jumat adalah dimulai ketika matahari meninggi setinggi tombak sampai sebelum zawal; atau ketika matahari tegak lurus. (Al-Hidayah Li Abi Khatthab, Mahfudz bin Ahmad Al-Kalwazani, 1/52; Al-Mughni, Ibnu Qudamah, 3/239)

Pendapat ini berlandaskan hadits Salamah bin al-Akwa’,

كُنَّا نُصَلِّي مَعَ رَسُولِ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم اَلْجُمُعَةَ، ثُمَّ نَنْصَرِفُ وَلَيْسَ لِلْحِيطَانِ ظِلٌّ نَسْتَظِلُّ بِهِ

Kami shalat bersama Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam hari Jumat, kemudian kami bubar pada saat tembok-tembok tidak ada bayangan untuk berteduh.” (Muttafaq ‘Alaih. Lafal hadits ini milik imam al-Bukhari)

Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari di atas menunjukkan bahwa shalat Rasulullah dan para sahabat pada saat itu dikerjakan sebelum matahari tergelincir. Maka, jika seandainya shalat Zuhur dikerjakan pada waktu setelah itu, maka bisa dipastikan akan ada bayangan tembok-tembok untuk berteduh. (Nailul Authar, Imam asy-Syaukani, 3/361)

Pendapat ini juga dilandasi hadits dari Sahl bin Sa’ad,

مَا كُنَّا نَقِيلُ وَلَا نَتَغَدَّى إِلَّا بَعْدَ اَلْجُمُعَةِ

“Kami shalat bersama Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam hari Jumat, kemudian kami bubar pada saat tembok-tembok tidak ada bayangan untuk berteduh”. (Muttafaq Alaih. Lafal hadits ini milik imam Muslim)

Waktu makan siang dan tidur siang para sahabat adalah sebelum matahari tergelincir. Ibnu Qudamah mengambil kesimpulan dari hadits di atas bahwa shalat Jumat juga dilaksanakan sebelum zawal (matahari tergelincir). (Asy-Syarh al-Kabir, Ibnu Qudamah, 1/466)

Keempat, Khutbah dilaksanakan sebelum shalat.

Ulama fikih mazhab Hanbali menyebutkan syarat sah selanjutnya adalah khutbah dilaksanakan sebelum shalat (Al-Inshaf, Imam al-Mardawi, 2/389; Kasysyaf al-Qina’, Imam al-Buhuti, 2/31). Ini juga merupakan pendapat mayoritas ulama mazhab.

Pendapat ini juga berlandaskan dalil hadits yang diriwayatkan oleh Malik bin al-Huwairits, yang menunjukkan secara tidak langsung bahwa khutbah dilakukan sebelum shalat Jumat. Karena berdasarkan perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang setiap shalat Jumat pasti berkhutbah sebelum mendirikan shalat. (Az-Zarkasyi dan Al-Buhuti juga termasuk ulama yang menjadikan perbuatan Nabi sebagai dalil; Syarh al-Khiraqi, Imam az-Zarkasyi, 2/180; Kasysyaf al-Qina’, Imam al-Buhuti, 2/31)

Kelima, Berdiri ketika berkhutbah.

Syarat khutbah berikutnya adalah berdiri.

Sebagian ulama mazhab Hanbali berpendapat bahwa berdiri ketika sedang berkhutbah merupakan syarat sah khutbah Jumat. (Syarh az-Zarkasyi, Imam az-Zarkasyi, 2/174; Al-Mughni, Ibnu Qudamah, 3/171; Al-Inshaf, Imam al-Mardawi, 2/387)

Namun, pendapat yang lebih masyhur di kalangan mazhab Hanbali adalah berdiri ketika sedang berkhutbah hukumnya adalah sunnah. (Al-Hidayah Li Abi Al-Khatthab, 1/52; Al-Furu’, Ibnu Muflih, 2/119)

Pendapat ini berdasarkan firman Allah,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا ‌نُودِيَ ‌لِلصَّلاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ

“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk melaksanakan shalat pada hari Jumat, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Jumuah: 9)

Syamsuddin Az-Zarkasyi menjelaskan bahwa melalui ayat di atas Imam Ahmad bin Hanbal menjadikan firman Allah subhanahu wa ta’ala di atas sebagai dalil mutlak yang menyebutkan zikir (khutbah) tanpa ada keterkaitan dengan kondisi berdiri, dan mengatakan bahwa khutbah dengan duduk merupakan sunnah. (Syarh az-Zarkasyi, Imam az-Zarkasyi, 2/174)

Namun ada pendapat lain yang mengomentari hal ini bahwa pada ayat selanjutnya dijelaskan lafal zikir itu dilakukan dengan berdiri, وَتَرَكُوكَ قَاۤىِٕمࣰا yang seakan-akan berkaitan dengan ayat sebelumnya.

Keenam, khutbah dengan suara keras.

Syarat khutbah berikutnya menurut mazhab Hanbali adalah khatib mengeraskan khutbahnya. Pendapat ini juga didasari firman Allah ta’ala dalam surat Al-Jumu’ah ayat 9.

Al-Buhuti menjelaskan bahwa Allah ta’ala pada ayat di atas memerintahkan agar bersegera mengingat Allah. Dan seperti yang telah dijelaskan di awal, bahwasanya zikir yang dimaksud di dalam ayat ini adalah khutbah.

Artikel Fikih: Hukum Dua Transaksi Dalam Satu Transaksi

Sebagaimana halnya khatib ketika berkhutbah menasihati dan mengajak jamaah untuk bersegera mengingat Allah, tentu agar para jamaah dapat mendengar dan merespons ajakan tersebut. Dan tentu yang demikian mustahil dilakukan kecuali sang khatib berkhutbah dengan suara yang keras.

Terkecuali jika jamaah tidak bisa mendengar karena lalai, tidur ketika khutbah, suara hujan, atau tuli, maka khutbah dan shalat Jumatnya tetap sah. Namun, jika penyebab jamaah tidak bisa mendengar suara khutbah lantaran suara khatib terlalu pelan atau karena saking jauh jaraknya dengan jamaah, maka menurut mazhab Hanbali khutbahnya tidak sah, karena tujuan khutbah tidak terpenuhi. (Kasysyaf al-Qina’, Imam al-Buhuti, 2/33)

Ketujuh, Khutbah berbahasa Arab.

Syarat selanjutnya menurut mazhab Hanbali adalah khutbah disyaratkan berbahasa Arab selain saat membaca ayat Al-Quran. Seperti halnya mazhab Syafi’i yang menetapkan berbahasa Arab sebagai syarat khatib ketika sedang berkhutbah.

Namun, tetap dalam kadar semampunya. Dan apabila benar-benar tidak mampu setelah berusaha setidaknya mengganti dengan lafal-lafal zikir lainnya. (Al-Inshaf, Imam al-Mardawi, 2/390; Kasysyaf al-Qina’, Imam al-Buhuti, 2/34)

Kedelapan, Berkesinambungan.

Syarat terakhir menurut mazhab Hanbali adalah kesesuaian dan berkesinambungan. Dalam hal ini seperti yang menjadi pendapat mayoritas ulama fiqih empat mazhab (kecuali mazhab Hanafi) bahwa berkesinambungan cakrawalarafflesia setiap bagian atau rukun khutbah dan berkesinambungan cakrawalarafflesia khutbah dan shalat Jumat merupakan syarat dalam khutbah shalat Jumat.

Ibnu Qudamah menjelaskan berkesinambungan cakrawalarafflesia isi atau rukun dalam khutbah Jumat merupakan syarat. Artinya, ketika ada jeda baik itu perkataan ataupun diam yang lebih lama seperti biasanya maka diulangi dari awal.

Hal yang sama juga pada berkesinambungan cakrawalarafflesia khutbah dan shalat, apabila ada hajat untuk berwudhu karena batal wudhunya tetap dibolehkan, asalkan bukan terjeda selain hajat syar’i dalam waktu lama yang lebih dari biasanya, karena khutbah harus diulangi dari awal. (Al-Mughni, Ibnu Qudamah, 3/181)

Demikian pemaparan tentang syarat sah khutbah Jumat dalam fikih empat mazhab.

Semoga tulisan ini semakin meluaskan cakrawala ilmu pengetahuan sehingga mampu menyingkirkan sikap negatif berupa merasa paling benar sendiri, memvonis keliru terhadap amalan orang yang memilih pendapat yang berbeda namun masih dalam koridor ijtihadi, dan semisalnya. Wallahu a’lam (Syarif Amrullah/dakwah.id)

Source link

  • Bagikan