Bersiap March Madness, Segila Apa Pergerakan Harga Bitcoin?

  • Bagikan
ad1347be 07f1 46b7 b087 35750b72f15e 169



ad1347be 07f1 46b7 b087 35750b72f15e 169

Jakarta, CNBC Indonesia – Bank sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed akan mengumumkan hasil rapat kebijakan moneter pada Kamis (18/3/2021) dini hari waktu Indonesia. Pengumuman kali ini mendapat perhatian yang besar dari pelaku pasar, bahkan diperkirakan bisa memicu “March Madness” atau kegilaan di bulan Maret, tentunya dalam konteks pergerakan aset-aset di pasar finansial global, tak terkecuali bitcoin.

Mata uang kripto ini sedang dalam masa kejayaannya, harganya terus meroket dan mencetak rekor tertinggi sepanjang masa sejak tahun lalu.

Tanda-tanda bitcoin juga akan ikut kegilaan di bulan Maret terlihat dari pergerakannya di hari Selasa yang berakhir stagnan, serta pada perdagangan Rabu (17/3/2021) yang juga mager (malas bergerak) dengan rentang pergerakan yang sempit US$ 55.187/BTC sampai US$ 57.185/BTC sepanjang sesi Asia, melansir data Refinitiv. Padahal bitcoin terkenal dengan volatilitasnya yang ekstrim, naik turun tajam dalam waktu singkat. 


Adalah Rick Rieder, CIO BlackRock yang mengatakan konferensi pers ketua The Fed, Jerome Powell, akan memicu “March Madness” bagi pasar, sebab ada kemungkinan Powell akan menjelaskan mengenai arah kebijakan moneter ke depannya.

Baca Juga :  Cara Melihat Kode Undangan Sendiri di Snack Video Untuk Dibagikan

“Jika Powell tidak mengatakan apapun, itu akan menggerakkan pasar. Jika dia memberikan banyak penjelasan itu akan menggerakkan pasar,” kata Rieder, sebagaimana dilansir CNBC International, Selasa (16/3/2021).

Kenaikan yield obligasi (Treasury) ke level tertinggi dalam satu tahun terakhir menjadi isu utama yang membuat The Fed mendapat perhatian yang besar. Maklum saja, yield saat ini berada di level tertinggi sejak Februari 2020, atau sebulan sebelum virus corona dinyatakan sebagai pandemi dan sebelum The Fed membabat habis suku bunganya menjadi 0,25%, serta sebelum program pembelian aset (quantitative easing/QE) kembali dijalankan.

Penyebab kenaikan yield tersebut yakni perekonomian AS yang diprediksi pulih lebih cepat dari prediksi, dan akan memicu kenaikan inflasi. Alhasil, pelaku pasar melepas kepemilikan Treasury, sehingga yield-nya menjadi naik.

Baca Juga :  Redmi Note 10T 5G Dirilis, Harga Mulai Rp 2,7 Juta

Dengan ekspektasi kenaikan inflasi, The Fed diprediksi akan mengurangi nilai QE yang saat ini senilai US$ 120 triliun dalam waktu dekat, atau yang dikenal dengan istilah tapering. Berkaca dari tahun 2013, tapering dapat memicu taper tantrum dimana dolar AS menguat tajam, dan aset-aset lainnya mulai dari aset berisiko seperti saham hingga aset aman (safe haven) seperti emas rontok.

Bitcoin saat ini digadang-gadang sebagai emas digital serta dibanderol dengan dolar AS, sehingga ketika taper tantrum terjadi harganya berisiko jeblok.

Oleh sebab itu, pelaku pasar akan menanti kemana arah kebijakan The Fed selanjutnya, apakah akan memberikan indikasi tapering atau masih tetap dengan pernyataan sebelumnya tidak akan merubah kebijakannya dalam waktu dekat.

HALAMAN SELANJUTNYA >>> Operation Twist Bisa Bikin Bitcoin Meroket Lagi



Source link

  • Bagikan
Positive SSL