Menjelang Kedaluwarsa Sinovac, Distribusi AstraZeneca Disetop

89

Jakarta — Program vaksinasi Covid-19 di Indonesia telah dimulai sejak Januari 2021. Kini program tersebut dihadapkan pada tantangan vaksin Sinovac jelang kedaluwarsa dan penghentian distribusi vaksin Astrazeneca ke sejumlah daerah.

Vaksin Sinovac gelombang pertama yang tiba sejak 6 Desember 2020 dikabarkan akan kedaluwarsa pada 25 Maret ini. Jumlah vaksin Sinovac yang didatangkan pada tahap ini sebanyak 1.200.568.

_

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan sebagian besar vaksin Sinovac gelombang pertama telah digunakan. Namun ada beberapa daerah yang masih memiliki vaksin tersebut.

Budi menyebut pihaknya masih akan mengevaluasi program vaksinasi di Papua, salah satu dari 34 provinsi yang didistribusikan vaksin Sinovac tahap pertama. Evaluasi itu untuk memastikan apakah vaksin sudah terpakai di Papua.

“Kita masih cek di Papua karena saat pertama kita kirimnya ke 34 provinsi. Kita konfirmasi lagi daerah Papua [vaksinnya] tapi di luar Papua semuanya sudah terpakai,” kata Budi dalam Rapat Kerja Komisi IX DPR RI, Senin (15/3).

Baca Juga :  Aplikasi Clubhouse, Bisa Pilih Tema Teknologi-Politik

Sementara itu, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil juga mengakui ada vaksin Sinovac yang akan kedaluwarsa pada 25 Maret. Vaksin tersebut akan dihabiskan dalam program vaksinasi pada 18 Maret mendatang.

Selain persoalan kedaluwarsa vaksin Sinovac, vaksin asal Inggris AstraZeneca juga disetop distribusinya karena dugaan efek samping berupa pembekuan darah.

Vaksin AstraZeneca yang telah tiba di Indonesia pada 8 Maret lalu itu juga akan memasuki masa kedaluwarsa pada Mei 2021. Namun hingga saat ini, penggunaannya masih belum bisa dipastikan.

“Sementara kami belum bisa distribusikan,” kata Plt Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes Maxi Rein Rondonuwu.

Baca Juga :  Marbot Yang Lecehkan 13 Anak di Masjid Cirebon, Terancam Kebiri

Maxi juga menjelaskan AstraZeneca sedang dalam kajian ulang oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) serta ITAGI terkait dugaan efek samping.

“Memang sudah ada laporan EUA dari WHO tetapi karena ada masalah laporan yang ada di Eropa dan di beberapa negara, sehingga BPOM dan ITAGI sudah menentukan rapat terkait dengan efek samping AstraZeneca,” kata Maxi.

Selain itu, kata Budi, vaksin AstraZeneca yang sudah ada di Indonesia akan kedaluwarsa pada Mei 2021. Dengan demikian, vaksin asal Inggris tersebut hanya bisa digunakan kurang dari tiga bulan.

Budi mengaku baru mengetahui masa kedaluwarsa vaksin AstraZeneca belakangan ini. Sementara sebanyak 1.113.600 dosis vaksin AstraZeneca telah tiba di Indonesia.

(mln/pmg)