Akhlak Nubuwah #1: Sederhana dan Bersahaja

  • Bagikan
c86d4ece akhlak nubuwah sederhana dan bersahaja dakwah.id

IslamiSederhana dan bersahaja adalah bagian dari akhlak nubuwah yang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam contohkan. Sebagai seorang Nabi dan Rasul sekaligus pemimpin kaum muslimin, tidak membuat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bergaya berlebihan dalam hidup.

Sikap rendah hati, sederhana dan bersahaja melekat pada diri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengingat satu episode saat ia melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidur di atas tikar yang kasar hingga berbekas di wajah beliau.

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu bertutur:

نَامَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى حَصِيرٍ فَقَامَ وَقَدْ أَثَّرَ فِي جَنْبِهِ، فَقُلْنَا: يَا رَسُولَ اللهِ لَوِ اتَّخَذْنَا لَكَ وِطَاءً، فَقَالَ: مَا لِي وَلِلدُّنْيَا، مَا أَنَا فِي الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا.

“Rasulullah shalalllahu ‘alaihi wa salam tidur di atas tikar yang kasar, ketika beliau bangun, terlihat bekas tikar di wajah beliau. Maka kami berkata, ‘Ya Rasulullah, bagaimana sekiranya kami siapkan karpet untukmu.’ Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Apa urusanku dengan dunia, sesungguhnya aku di dunia ini hanyalah seperti musafir yang berteduh sejenak di bawah pohon kemudian pergi berlalu.” (HR. Tirmidzi No. 2377. Hadits shahih)

Inilah prinsip Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam memandang dunia; tampak kecil dan remeh di mata beliau, sehingga hal tersebut berpengaruh pada sikap beliau yang menjauh dari kemewahan dan memilih hidup sederhana lagi bersahaja.

 

Bergaul Dengan Semua Orang

Ringan saja bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk bergaul dan membaur bersama orang-orang fakir-miskin yang dalam pandangan masyarakat dinilai sebagai masyarakat berstatus sosial kasta rendah. Tapi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah sungkan untuk melakukan hal demikian.

Baca Juga :  Akhlak Nubuwah #3 Mengomentari Makanan

Sahabat Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu pernah menyaksikan kesederhanaan tersebut di depan matanya sendiri. Ia berkata:

جَلَسْتُ فِي عِصَابَةٍ مِنْ ضُعَفَاءِ الْمُهَاجِرِينَ وَإِنَّ بَعْضَهُمْ لَيَسْتَتِرُ بِبَعْضٍ مِنَ العُرْيِ فَجَلَسَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَسْطَنَا لِيَعْدِلَ بِنَفْسِهِ فِينَا

“Aku duduk bersama sekelompok orang-orang miskin dari sahabat-sahabat Muhajirin, sebagian mereka menutupi sebagian yang lain dari ketelanjangan. Maka kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam duduk di tengah-tengah kami untuk menyamakan diri beliau dengan kami.” (HR. Abu Daud No. 3666)

Menjadi lumrah bagi seorang pemimpin kaum, apatah lagi penguasa besar untuk tampil beda dari lainnya dengan menggunakan pakaian kebesaran agar mudah dikenali sebagai sosok yang harus dihormati.

Akan tetapi akhlak nubuwah yang ditunjukkan Nabi kita shallallahu ‘alaihi wasallam justru sebaliknya.

Tidak jarang orang-orang yang datang ingin bertemu, gagal mengidentifikasi sosok beliau. Karena kesamaan tampilan cakrawalarafflesia beliau dan sahabat-sahabatnya yang lain; sebuah penampilan sederhana dan bersahaja.

Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan satu kesempatan adanya seorang tamu datang bertandang mencari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Tamu itu pun bingung mencari sosok mulai yang bernama Muhammad.

دَخَلَ رَجُلٌ عَلَى ‌جَمَلٍ، ‌فَأَنَاخَهُ ‌فِي ‌المَسْجِدِ ثُمَّ عَقَلَهُ، ثُمَّ قَالَ لَهُمْ: أَيُّكُمْ مُحَمَّدٌ؟ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُتَّكِئٌ بَيْنَ ظَهْرَانَيْهِمْ، فَقُلْنَا: هَذَا الرَّجُلُ الأَبْيَضُ المُتَّكِئُ. فَقَالَ لَهُ الرَّجُلُ: يَا ابْنَ عَبْدِ المُطَّلِبِ فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: قَدْ أَجَبْتُكَ.

“Seseorang masuk ke dalam masjid dengan menunggang untanya, lalu dia menambatkannya, dan bertanya, ‘Mana yang namanya Muhammad?’ dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang bersandar di cakrawalarafflesia para sahabat. Maka kami berkata, ‘Ini, laki-laki putih yang sedang bersandar.’ Laki-laki tadi berkata, ‘wahai anak Abdul Muthallib.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Aku menjawab panggilanmu.” (HR. Al-Bukhari No. 63)

Baca Juga :  Akhlak Nubuwah #3 Mengomentari Makanan

Amboi!

Lihatlah bagaimana penampilan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang begitu sederhana dan bersahaja, sampai tidak ada perbedaan cakrawalarafflesia beliau dengan sahabat-sahabatnya. Sangat jauh dari kesan megah dan mewah ala para raja zamannya.

Akhlak nubuwah ini semakin hilang ditelan zaman. Kian hari orang-orang justru ingin tampil beda dalam penampilan dan gaya hidup demi mendapat pengakuan dan penilaian sebagai trendsetter; yang mempopulerkan sesuatu.

Tidak jarang orang melakukan hal-hal aneh dan tidak lazim demi dianggap gaul dan nyentrik. Hal ini tidak hanya dilakukan para pejabat dan penguasa, bahkan telah merambah pada rakyat jelata. Gaya hidup sederhana dan bersahaja ala Nabi dan para sahabatnya sudah tidak menarik lagi, kecuali bagi mereka yang memiliki hati yang bersih.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berpesan tentang kesederhanaan seperti yang diriwayatkan oleh sahabat Sahl bin Sa’ad as-Sa’idi radhiyallahu ‘anhu:

‌ازْهَدْ ‌فِي ‌الدُّنْيَا ‌يُحِبَّكَ ‌اللَّهُ، وَازْهَدْ فِيمَا فِي أَيْدِي النَّاسِ يُحِبُّكَ النَّاسُ

Zuhudlah terhadap dunia, Allah akan mencintaimu. Dan Zuhudlah terhadap apa yang ada pada manusia, manusia akan mencintaimu.” (HR. Ibnu Majah No. 4102)

Dunia ini sungguh menipu, perhiasannya menyilaukan mata manusia, dan setan menjadikan indah dunia yang hanya sementara ini. Maka sungguh benar Firman Allah Ta’ala:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّ وَعْدَ اللّٰهِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَاۗ وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللّٰهِ الْغَرُوْرُ

“Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah.” (QS. Fathir: 5) Wallahu a’lam (Fajar Jaganegara/dakwah.id)

 

 

 



Source link

  • Bagikan