Saham Boeing Rontok 2,11 Persen, Buntut Pesawat Dikandangkan

11

Internasional — Saham perusahaan penerbangan Amerika Serikat (AS), The Boeing Company (BA), rontok 2,11 persen menjadi US$212,88 pada penutupan perdagangan Senin (22/2) waktu setempat.

Sebelumnya, saham perusahaan yang melantai di bursa saham New York ini masih naik 4,3 persen ke US$217 pada penutupan Jumat ((19/2) lalu.

Melemahnya saham perusahaan terjadi usai keputusan untuk mengandangkan seluruh pesawat tipe Boeing 777. Hal ini bermula dari insiden yang dialami maskapai  United Airlines pada Sabtu (20/2). Pada penerbangan menuju Honolulu, Hawaii, pesawat mendarat darurat di Bandara Internasional Denver setelah salah satu mesin pesawat meledak di udara.

Baca Juga :  Pimpin Apel Pagi, Kapolres Kepahiang Tegaskan Jaga Netralitas Jelang Pilkada 2020

Kerusakan mesin dilaporkan terjadi tak lama setelah pesawat lepas landas. Pesawat kemudian kembali ke bandara awal. Dalam insiden itu tidak ada laporan korban luka, baik di pesawat maupun di darat.

Perakit pesawat terbesar dunia ini lantas merekomendasikan maskapai penerbangan di seluruh dunia untuk menghentikan sementara (grounded) penggunaan pesawat Boeing 777.

Perusahaan mengatakan saat ini ada 69 pesawat seri 777 yang beroperasi dan 59 tersimpan di hanggar karena adanya penurunan jadwal penerbangan di tengah pandemi Covid-19.

Saham Boeing yang sebelumnya dikenal aman di kalangan investor yang memercayai ketangguhan ekonomi AS, kini tengah berjuang untuk bertahan.

Baca Juga :  Daftar Miras yang Dilarang dalam RUU Minol

Sejak pesawat tipe 737 Max pada Maret 2019 lalu jatuh dan mengakibatkan kematian 346 orang, 737 Max dilarang terbang hingga November 2020.

Di sisi lain, pandemi menyebabkan perusahaan merugi hampir US$12 miliar pada tahun lalu.

Melansir CNN Business, CEO Boeing Dave Calhoun menyebut tahun ini masih akan menjadi tahun yang berat bagi Boeing. Pada Januari lalu, perusahaan menyatakan menunda pengiriman pesawat terbaru, 777X menjadi 2023.

Diperkirakan perusahaan akan mengurangi sekitar 31 ribu pekerja dari 161 ribu di awal 2020 menjadi 130 ribu pekerja pada akhir 2021.

(wel/sfr) cnnindonesia