Maaf Teman, Terima Kasih

  • Bagikan
0806fd0d img 20210215 wa0039

HEH … gak tau diri banget lu, berani-berani banget lu duduk disini. Ngaca dulu, lu siapa, sadar diri dong …” Aku terpaksa menghentikan ayunan sendok yang sedang melayang indah dengan prinsip Archimedes ke mulutku – menengadahkan mukaku ke arah iblis betina yang lagi semangat ’45 mengomel tanpa titik koma – daripada tambah panjang urusannya nantinya.


Didepanku berdiri seekor iblis yang cantik jelita dengan kepribadian 180º bertolak belakang dengan rupanya. Disebelahnya aku melihat wajah yang sangat familiar, sedang membuang muka, menatap kearah lain seperti seorang profesor yang lagi mengamati objek mikroba spesies baru. Mau tak mau aku sedikit tersenyum melihat tingkah teman lamaku ini, atau lebih cocok kalau kusebut mantan teman. Sudahlah, daripada bikin kehebohan yang bikin namaku makin terkenal, lebih baik aku yang mengalah. Kuangkat piringku yang isinya tinggal seperempat piring nasi goreng ini (mubazir kalau dibuang kan?), berdiri meninggalkan meja ini mencari tempat baru dipojokan yang sekiranya aman dari pandangan manusia. Makin tersembunyi maka semakin bagus.

Ruang Kelas, tidak ada yang spesial

27abf1ce ruang kelas tidak ada yang spesial
Maaf Teman, Terima Kasih 5



Layaknya pelajar normal di mata pelajaran matematika, aku berusaha mati-matian menahan kantuk yang menggoda kedua mata ini. Walaupun posisi kursiku cukup aman untuk mengikuti godaan indahnya alam mimpi, aku berusaha segenap tenaga tetap menajamkan mataku melihat ke arah whiteboard untuk menyalin apa yang tertera disana ke buku lusuh ini. Apapun kondisinya, aku tidak boleh menyerah. Sudah cukup masalah hidupku tanpa harus ditambah nilai-nilai pelajaranku.


Dan akhirnya, suara merdu yang difavoritkan oleh mayoritas pelajar normal, bel pulang. Teman-teman sekelasku yang yang nyaris jadi pemeran figuran di film Walking Dead mendadak mendapat anti toxic plus dopping dalam skala overdosis. Guru kimia kami pun seolah bendera putih, cuek bebek dengan kehebohan kelas kami yang diluar logika ini. Layaknya orang-orang yang menyelamatkan diri dari colekan Godzilla, begitu kaki guru meninggalkan ruang kelas ini, teman-temanku langsung segera berebut keluar ruangan. Dan seperti biasa, aku akan selalu yang paling akhir keluar, jeda 10 menit setelah anggota terakhir gerombolan siberat keluar. Well, lebih baik cari aman.


Setelah kurasa situasi dan kondisi aman terkendali, aku keluar kelas. Sambil melangkah gontai aku merogoh saku celana dan mengeluarkan handphone tercintaku ini, menekan tombol power, dan menunggu beberapa detik hingga handphone ku beroperasional penuh. Segera setelah handphone ku menerima sinyal provider, sebuah SMS masuk. Setelah kubaca, lebih baik kutelepon saja si pengirim SMS ini, mumpung masih ada paket nelponnya. “… oke bos, siyaaap … jangan kuatir, kapan sih anggota kesayangan bos ini mengecewakan”. Sebuah percakapan yang singkat tanpa tedeng aling-aling. Akupun merubah tujuan langkah kaki ini ke arah yang berbeda.


Gang Durian, semerbak namanya

cdb846fc gang durian semerbak namanya
Maaf Teman, Terima Kasih 6



Langkahku terpaksa terhenti setelah melihat segerombolan pecundang yang sedang bercanda layaknya kumpulan Pithecanthropus Erectus sedang kongkow. Aku dilema. Jika aku balik kanan, aku akan terlambat setibanya di rumah bang Torus nanti, karena jalan memutar yang lumayan jauh. Jika aku tetap nekat maju, alamat bakal ada peristiwa ini sepertinya. Karena aku sendiri tidak yakin, apa aku masih mampu menahan emosiku menghadapi tingkah mereka yang seperti bocah idiot ini.


Setelah melakukan kalkulasi secara kilat dengan menimbang baik-buruknya berdasarkan variabel- variabel yang (mungkin) ada, aku memutuskan untuk tetap melangkah maju. Que Sera Sera. Aku hanya perlu memikirkan ibu dan adikku untuk menekan emosi menghadapi para gangsta wannabe ini. Aku memantapkan kakiku untuk tetap melangkah maju. Kucoba melihat lebih jelas siapa-siapa saja para sampah masyarakat ini. Hanya lima orang, dua dari kelasku, satu dari kelas bahasa dan dua dari kelas sosial. Sebaiknya kali ini aku mengabaikan mereka, mengingat bang Torus sudah menungguku. Kapan lagi ada kesempatan kerja kelas kakap seperti ini. Para begundal ini tidak sepadan dengan apa yang aku dapat nanti.

Baca Juga :  Ekonom Hingga DPR Kritik Penghentian BLT Subsidi Upah


Namun setelah semakin dekat, aku terpaksa mengkoreksi kalkulasi awalku. Ada orang keenam yang luput dari pengamatan awalku. Dan lagi-lagi bocah ini. Kenapa aku harus selalu bertemu dengan orang yang tiba-tiba berubah dari teman dekat jadi arch enemy. Dulu yang layaknya amplop dan perangko, sekarang tak ada angin tak ada hujan jadi seperti Batman-Joker (tentu aku dong … Jokernya, secara dia kaya raya layaknya Bruce Wayne). Aku tetap melangkah maju. Ada atau tidaknya dia tidak jadi masalah. Namun ada yang aneh kali ini. Jika biasanya dia selalu membuang muka setiap kali kami bertemu, kali ini kebalikannya. Dia menatap tajam kearahku. Ada yang salah. Matanya merah seperti orang yang begadang dua malam berturut-turut. Apa dia akhirnya jadi junkie seperti saudara sepupunya yang berdiri disebelahnya? Oh oh, sepertinya kali ini semuanya akan meledak.


Dan akhirnya “WOY, anak lonte …” aku membeku, memutar badanku kekiri, dan otomatis tangan kiriku mencengkram lehernya. Lebih tepatnya meremas dengan seluruh tenaga yang ada di tangan kiriku. Sementara kaki kananku naik membentuk sudut 450 secara sempurna menerjang saudara sepupunya yang mencoba jadi pahlawan kesiangan. Empat orang lainnya hanya bisa mematung. “KENAPA? EMANG NYOKAP LU PELACUR. GARA-GARA NYOKAP LU KELUARGA GUE BERANTAKAN …” Walaupun aku takjub bagaimana dia masih bisa berteriak ditengah cengkraman tanganku dilehernya, aku shock. Apa maksud perkataan dia barusan. Apa hubungan Ibuku dengan hancurnya pernikahan orang tuanya? Sepanjang pengetahuanku, orang tuanya cerai karena bapaknya ketahuan selingkuh. Apa jangan-jangan … tanpa sadar tanganku melepas lehernya. Beruntung dia tidak mendadak menyerangku setelah lehernya dalam kondisi aman, karena otakku masih dalam kondisi shock. Ibuku? Selingkuh dengan bapaknya? Benang merah mulai tersambung di pikiranku yang sedang mengembara ini. Yang aku tahu, Ibuku seorang janda. Beliau selalu mengelak setiap kali aku bertanya mengenai sosok ayahku. Sementara adikku? Dia sebenarnya anak dari bibiku yang menghilang tak jelas rimbanya. Di asuh oleh Ibuku sedari bayi ditengah segala keterbatasan ekonomi kami. Jika memang benar bapaknya selingkuh dengan Ibuku, berarti … aku dan dia …

Bye-Bye, bravery or dumb-dumb

dadc2750 bye bye bravery or dumb dumb
Maaf Teman, Terima Kasih 7



“HAAAJAAAAARRR …” pekikan membahana menyentak kami kembali ke bumi. Refleks aku membalik badan, melihat puluhan siswa dari sekolah rival berlari ke arah kami. Masing-masing dari mereka membawa senjata favorit mereka. Gawat, kami dalam posisi dead spot. Tujuh lawan dua puluh, tiga puluh, atau empat puluh? Yang jelas mereka terlalu banyak. Dan kupastikan bahwa tidak ada satupun diantara kami bertujuh yang berkerabat dengan Leonidas, sehingga sangat tidak mungkin kami mengikuti jejak 300 Spartan. Sementara untuk lari dari medan pertempuran pun tidak semudah yang dibayangkan.


Dan aku membuat kesalahan paling bodoh sepanjang sejarah hidupku. Sebelum lari aku melihat ke arah bocah yang nyaris mati ditanganku tadi. Kilasan-kilasan masa kecil kami melintas di depan mataku. Ingatanku kembali ke masa-masa kelulusan SD, dimana dia mendadak menjauhiku. Tiba-tiba aku kembali teringat, momen dimana mamanya menampar Ibuku, berteriak-teriak ke Ibuku sehingga dilerai oleh para guru SD kami. Aku yang waktu itu masih kecil tidak mengerti apa yang terjadi pada saat itu. Dan kilasan itu yang akhirnya membuat hidupku berada dalam hitungan detik. Di sekian detik ini, aku harus membuat keputusan yang paling penting seumur hidupku.

Baca Juga :  Intip Gaya Seksi Nia Ramadhani di TikTok Awards Indonesia 2020


Aku menoleh ke arah para begundal ini, berusaha menegarkan diri dan terlihat berwibawa “LARI” dan beruntungnya kali ini mereka jadi anak patuh. Tidak perlu diperintah dua kali, mereka langsung menjelma menjadi para cheetah.


Apa yang kupikirkan? Berharap secara ajaib bisa menang lawan puluhan orang bak Samson? Mungkin benar kata orang, orang idiot tak berumur panjang. Setidaknya keidiotanku bisa memberi waktu buat para bocah-bocah gangsta wannabe itu lari sejauh-jauhnya, semoga. Well … here I come …

Epilog


“Terima kasih mbak” aku tersenyum ke waitress yang mengantarkan kopi pesananku. Segera aku menyeruput kopi luwak pesananku. Setelah meletakkan cangkir kopi, kulirik sekilas jam di tanganku. Masih ada waktu 10 menit lagi, cukup untuk merokok sebatang. Walaupun pacarku (yang sebentar lagi jadi mantan pacar, alias istri) sangat tidak suka melihatku merokok, tapi dia tidak bisa protes jika aku merokok saat tidak didekatnya. Aku tersenyum geli membayangkan reaksi wajahnya yang lucu begitu mencium aroma rokok dari mulutku.


Sambil menatap langit senja yang cerah, aku membayangkan hidupku saat ini. Lulus dari universitas bofanide di negara ini dengan memuaskan, sukses mendirikan start up sendiri yang kini merambah ke internasional. Dan sebentar lagi, menikah dengan wanita cantik yang membuatku jadi bucin sejati. Aku ketawa lepas membayangkan perjuanganku dulu untuk mendapatkan cintanya. Namun mendadak mood ku menjadi mellow. Aku teringat, semua ini tidak akan bisa kucapai tanpa pengorbanan temanku dulu. Tanpa dia, aku yang sekarang mungkin hanya berupa kenangan. Tak terasa, sepuluh tahun sudah berlalu. Terima kasih teman …


“Udah lama nunggunya mas?” sebuah suara merdu yang di iringi tepukan ringan dipundakku membawa ku kembali ke alam realita. Aku tersenyum “Baru kok, baru sekitar sejam’an ini” aku tersenyum geli melihat reaksinya yang cemberut manja. “Berangkat sekarang?” “Apa gak mau ngopi dulu? Ato pesen apa gitu kek …” “Gak ah mas, disini mahal-mahal. Ntar aja dirumah, gratis” Tawaku meledak mendengar ini “Udah cocok nih jadi ibu rumah tangga” Dia hanya menjulurkan lidahnya manja “Yuk ah mas, ntar maminya nungguin lho” “Iye iye, yang gak sabaran ketemu calon mertua … aaakkkh…ampun ampun” aku meringis mengelus-elus perutku yang jadi korban cubitannya. “Ya udah, yok jalan” setelah aku menghabiskan kopiku. Aku berdiri, merenggangkan badan, dan berjalan ke arah parkir …

Epilog II


“Yuk ah mas, ntar maminya nungguin lho” “Iye iye, yang gak sabaran ketemu calon mertua … aaakkkh…ampun ampun” aku segera mencubit perutnya supaya dia berhenti menggodaku. Melihat dia meringis sambil mengelus-elus perutnya membuatku tertawa geli. Dia pun menghabiskan kopi yang tersisa di cangkirnya. Setelah memastikan kopinya habis tak bersisa “Ya udah, yok jalan” ajaknya. Dia pun berdiri, merenggangkan badannya, dan mulai berjalan ke arah tempat parkir. Aku mengikuti dari belakang.


Melihat punggungnya, aku kembali harus menguatkan diriku. Kucoba menahan air mata yang mulai merebak di sudut mataku. Kukepalkan tanganku sekuat tenaga “Sabar ya bang, bentar lagi abang bisa beristirahat dengan tenang …” ku ulangi kata-kata yang jadi mantra penguatku dikala aku mulai goyah. Tak akan kusia-siakan perjuangan yang penuh kesabaran selama sepuluh tahun ini. Sebentar lagi … ya, sebentar lagi …

Lapak Somplaq
Koleksi Baju Unik Cantik Menarik

  • Bagikan