Hukum Cara Sholat Nisfu Sya’ban Sendiri Berjamaah Dan Artinya

  • Bagikan
ea021670 hukum cara sholat nisfu syaban sendiri berjamaah dan artinya

 

IslamiKedatangan bulan sya’ban bagi sebagian kalangan umat islam, selalu di jadikan sebagai sebuah waktu untuk di isi dengan memperbanyak amalan-amalan kebaikan mulai dari puasa, bersilaturahmi, mengunjungi para guru dan kiyai hingga melakukan shalat nisfu sya’ban di pertengahan tanggal malam bulan tersebut. Tentu hal seperti ini di lakukan bukanlah tanpa sebab atau mengarang-ngarang saja tetapi bulan sya’ban di yakini sebagai bulan mulia yang menyimpan berbagai rahasia besar, sebagai mana di jelaskan dalam beberapa keterangan hadits dan pendapat para ulama dalam kitabnya.

Terlebih lagi ketika malam nisfu nisfu sya’ban datang, maka sudah menjadi budaya dari sejak dulu bahwa malam tersebut selalu di jadikan sebagai malam untuk melakukan banyak amalan dan salah satunya adalah dengan melkukan sholat sunnah. Namun tidak dapat di pungkiri, bahwa mengenai amalan sholat di malam nisfu sya’ban ini terjadi perbedaan pendapat bahkan ada di golongan yang mengnggap bahwa jika di kerjakan akan termasuk pada amalan bid’ah dhalalah. Padahal jika di cermati dengan baik tidak mungkin ulama salaf terdahulu mencontohkannya apabila tidak di dasari dengan keilmuannya.

Dituturkan oleh Sayyid Murtadha Azzabidi dalam Kitab Ittihafissadatil Muttaqin, Syarh Ihyaa` Ulumiddin juz 3 halaman 424 bahwa ” Ulama khalaf telah mewarisi para ulama salaf dalam menghidupkan malam Nishfu Sya’ban dengan melakukan shalat enam rakaat setelah shalat Maghrib, setiap dua rakaat dengan satu salaman. Setiap satu rakaat membaca surat Al Fatihah satu kali dan Surat Al Ikhlas enam kali. Usai shalat dua rakaat, membaca Surat Yasin satu kali dan berdoa dengan doa yang telah masyhur yaitu doa malam nisfu sya’ban dan berdoa memohon kepada Allah agar diberi keberkahan didalam umurnya, Bacaan kedua memohon agar agar diberi keberkahan didalam rizkinya, Bacaan ketiga memohon agar diberi keberkahan mendapat predikat husnul Khatimah.

Baca Juga :  Khutbah Jumat: Toleransi Sederhana yang Sering Kita Lupa

Hukum Cara Sholat Nisfu Sya'ban Sendiri Berjamaah Dan Artinya

وَقَدْ تَوَارَث الْخَلَفُ عَنِ السَّلَفِ فِيْ إِحْيَاءِ هَذِهِ اللَّيْلَةِ بِصَلَاةِ سِتِّ رَكَعَاتٍ بَعْدَ صَلَاة الْمَغْرِبِ
كُلُّ رَكْعَتَيْنِ بِتَسْلِيْمَةٍ يَقْرَأُ فِيْ كُلِّ رَكْعَةٍ مِنْهَا بِالْفَاتِحَةِ مَرَّةً وَالْإِخْلَاصِ سِتَّ مَرَّاتٍ
بَعْدَ الْفَرَاغِ مِنْ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ يَقْرَأُ سُوْرَةَ يس مَرَّةً وَيَدْعُوْ اَلدُّعَاءَ الْمَشْهُوْرَ بِدُعَاءِ لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ
وَيَسْأَلُ اللهَ تَعَالَى اَلْبَرَكَةَ فِي الْعُمْرِ ثُمَّ فِي الثَّانِيَةِ اَلْبَرَكَةَ فِي الرِّزْقِ ثُمَّ فِي الثَّالِثَةِ اَلْبَرَكَةَ فِيْ حُسْنِ الْخَاتِمَةِ

Bahkan tentang sholat di malam nisfu sya’ban ini juga di perkuat oleh fatwanya ibnu taimiyyah dalam kitab majmu juz 1 halaman 469 “Ibnu Taimiyah ditanyai tentang sholat nisfu sya’ban ? beliau menjawab : ” ketika seseorang sholat dimalam nisfu sya’ban secara sendirian atau secara berjama’ah khusus sebagaimana yang dilakukan oleh sekelompok ulama’ salaf maka itu lebih bagus.” Dengan begitu apabila menganggap bahwa ini amalan dhalalah berarti mengangap juga bahwa ulama salaf yang menyuruh dan menjalankannya juga termasuk di dalamnya.

وَأَمَّا لَيْلَةُ النِّصْفِ فَقَدْ رُوِيَ فِي فَضْلِهَا أَحَادِيثُ وَآثَارٌ وَنُقِلَ عَنْ طَائِفَةٍ مِنْ السَّلَفِ أَنَّهُمْ كَانُوا يُصَلُّونَ فِيهَا فَصَلَاةُ الرَّجُلِ فِيهَا وَحْدَهُ قَدْ تَقَدَّمَهُ فِيهِ سَلَفٌ وَلَهُ فِيهِ حُجَّةٌ فَلَا يُنْكَرُ مِثْلُ هَذَا.

Baca Juga :  Kisah Nabi Musa yang Menampar Malaikat Maut

Artinya, “Adapun (shalat) pada malam nisfu Sya‘ban, maka banyak hadits serta atsar dari sahabat yang menyebutkan keutamaannya. Dikutip dari segolongan ulama salaf bahwa mereka melakukan shalat pada malam nisfu Sya‘ban. Maka shalat yang dilakukan seseorang pada malam tersebut secara sendirian telah dicontohkan oleh para ulama salaf, amalan tersebut mempunyai dalil sehingga tidak perlu diingkari.”

Adapun jika ada anggapan mengenai hadits-hadits yang menerangkan hal tersebut dhaif, maka kedhaifannya tersebut tidak serta merta di hukumi sebagai dhalalah jika di kerjakan. Sebab hadits dhaif boleh di amalkan jika hanya bertujuan untuk fadhailul amal. Jadi kesimpulannya melaksanakan shalat pada malam nisfu sya’ban di perbolehkan tidak ada larangan sebagai mana para ulama terdahulu juga melaksanakannya, dan bagai mana pun kita sebagai penerusnya harus mengikuti mereka yang lebih tahu akan keilmuannya.

Sedangkan mengenai tata cara pelaksanaa dari sholat nisfu sya’ban tidak ada perbedaan dengan yang lainnya yaitu di kerjakan 2 rakaat 1 kali salam setelah sholat maghrib sebanyak 6 rakaat, sedangkan adapun mengenai bacaan surat di anjurkan setiap rakaat membaca surat al ikhlas sebanyak 6 kali. Silahkan anda amalkan dan pelajari juga semua hal yang berkaitan dengan hukum cara sholat nisfu sya’ban sendiri berjamaah dan artinya doa setelah berapa rakaat menurut nu suryalaya rumi dan lain sebagainya.

AG

  • Bagikan