Kisah Gaib Tentang Bung Karno dan Jadi “Dukun” di Bengkulu

8

BUNG Karno saat dibuang pemerintah Hindia Belanda di Bengkulu sempat menjadi “dukun” yang menjadi rujukan meminta nasihat dan pengobatan warga sekitar.

Bung Karno menjelma menjadi sosok yang didudukkan pada status “orang cerdik-pandai”. Bahkan, sejumlah warga memperlakukannya laksana “dukun”.

“Ia tidak hanya dimintai nasihat spiritual, tetapi dimintai juga mengobati sejumlah warga yang terserang penyakit,” kisah Roso Daras, penulis buku Bung Karno, Serpihan Sejarah yang Tercecer saat diwawancara.

Bung Karno kedatangan seorang gadis sambil menangis meraung-raung meminta tolong Bung Karno, dengan keluhan: Sudah tujuh bulan tidak bisa menstruasi!

“Apa yang dapat saya lakukan? Saya bukan dokter,” kelit Bung Karno.

“Bapak menolong semua orang. Bapak adalah juru selamat kami. Saya percaya kepada bapak, dan saya merasa sangat sakit. Tolonglah… tolonglah saya… tolooong….”

Baca Juga :  Beasiswa Luar Negeri untuk Masa Depan Gemilang

Bung Karno tidak bisa mengelak. Bung Karno juga tidak ingin seorang gadis mendatanginya dengan harapan sembuh, lantas harus pulang dengan kecewa.

Setelah berkonsentrasi sejenak… Bung Karno membacakan surah pertama Alquran ditambah doa-doa. Esoknya, perempuan itu mens! Kabar itu pun lekas tersiar. Dan Bung Karno “sang dukun” makin terkenal.

Terdapat juga kisah seorang tukang perah susu yang tengah dililit kesulitan uang. Untuk suatu keperluan, dia sangat membutuhkan uang.

Celakanya, dia pun yakin, dengan mendatangi Bung Karno, persoalannya akan selesai. Apa yang terjadi? Memang begitu adanya. Dia datang ke Bung Karno dan menyampaikan keluhannya, serta memohon penyelesaian.

Bung Karno lantas meminta si pemerah susu menunggu. Sedangkan ia masuk bilik, mengambil satu potong baju dan keluar rumah lewat pintu belakang. Ia menggadaikan bajunya, demi mendapatkan uang tiga rupiah enam puluh sen. Jumlah yang dibutuhkan si pemerah susu.

Baca Juga :  Livio Suppo: 2 Orang yang Bikin Cedera Marquez Tambah Parah

Ternyata sejak kecil, Bung Karno juga telah memiliki kemampuan supranatural. Kisah itu terdapat di buku Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia karya Cindy Adams. Roso Daras juga mencuplik kisah itu di bukunya.

Bung Karno saat berusia sekitar empat-lima tahun, neneknya (dari pihak ayah) mengambil dan membawanya ke Tulungagung, tak jauh dari tempat tinggal Bung Karno ketika itu di Mojokerto.

“Berikanlah anak itu kepadaku untuk sementara,” kata nenek kepada bapak. “Aku akan menjaganya.”