Penjelasan LAPAN Terkait Hubungan Lapisan Inversi dan Suara Dentuman

6

Jakarta — Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) menduga dentuman yang terjadi di Indonesia salah satunya bisa disebabkan adanya lapisan inversi di atmosfer.

Koordinator Humas LAPAN Jasyanto mengatakan lapisan inversi adalah lapisan atmosfer yang hangat berada di atas lapisan atmosfer yang dingin.

“Pada kondisi normal, suhu atmosfer turun bersama ketinggian, sehingga lapisan atmosfer yang dingin berada di atas lapisan atmosfer yang hangat,” ujar Jasyanto dalam laman resmi, Kamis (8/2).

Pada lapisan inversi, Jasyanto menuturkan bahwa kondisi suhu atmosfer berbanding terbalik dengan yang terjadi di lapisan inversi. Pada lapisan itu, lapisan atmosfer yang hangat berada di atas lapisan atmosfer yang dingin, karena itu disebut inversi (terbalik).

Jasyanto menjelaskan lapisan inversi biasa terjadi pada malam dan dini hari. Hal itu akibat udara di dekat permukaan mendingin atau pendinginan radiatif, sementara udara di atasnya tetap hangat.

Baca Juga :  Gisel Dapat Pesan dari Wijin

Lapisan inversi, kata dia juga dapat terjadi karena aliran udara hangat/dingin (adveksi) dan bertemunya udara hangat/dingin (front). Lapisan inversi merupakan sesuatu yang biasa dan normal terjadi dalam dinamika atmosfer.

“Inversi dapat terjadi di dekat permukaan hingga lapisan batas sampai dengan 5 kilometer, bahkan terjadi pada ketinggian sekitar 17 km (tropopause) dan luasnya bervariasi dari skala lokal hingga regional,” ujarnya.

Lebih lanjut, Jasyanto menyebut lapisan inversi menahan pengangkatan udara ke atas (konveksi) sehingga dapat mengakibatkan terkumpulnya energi di dekat permukaan dan dilepaskan dalam bentuk thunderstorm yang kuat. Lapisan inversi juga dapat menyebabkan cuaca yang berkabut dan menahan polutan berada di dekat permukaan.

Baca Juga :  Ini 11 Gejala yang Muncul karena Covid-19 Jenis Baru

“Lapisan inversi dapat menyebabkan suara dipantulkan atau dibelokkan sampai ke tempat yang lebih jauh,” ujar Jasyanto.

Jasyanto mengklaim tidak ada bukti suara yang dipantulkan lapisan inversi dapat memecahkan kaca. Sebab, keberadaan lapisan inversi juga perlu dibuktikan dengan data, misalnya dari pengukuran radiosonde, alat pengukur profil vertikal atmosfer yang diterbangkan balon atau alat lainnya.

Adapun energi suara yang merambat, lanjut dia akan mengalami pelemahan yang cepat bersama jarak, apalagi jika mengalami pemantulan karena sebagian besar energi akan diserap atau diteruskan.

“Untuk memecahkan kaca diperlukan energi suara yang cukup kuat, shock, blast, atau proses resonansi dengan frekuensi yang tepat,” ujarnya.

cnn