Syarhus Sunnah: 10 Sahabat yang Dijamin Masuk Surga

30

Ada sepuluh orang yang dijamin masuk surga? Siapakah mereka?

Imam Al-Muzani rahimahullah berkata,

_

ثُمَّ البَاقِيْنَ مِنَ العَشَرَةِ الَّذِيْنَ أَوْجَبَ لَهُمْ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الجَنَّةَ  , وَنُخْلِصُ لِكُلِّ رَجُلٍ مِنْهُمْ مِنَ المحَبَّةِ بِقَدْرِ الَّذِي أَوْجَبَ لَهُمْ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ التَّفْضِيْلِ , ثُمَّ لِسَائِرِ أَصْحَابِ مِنْ بَعْدِهِمْ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ أَجْمَعِيْنَ

وَيُقَالُ بِفَضْلِهِمْ وَيُذْكَرُوْنَ بِمَحَاسِنِ أَفْعَالِهِمْ , وَنُمْسِكُ عَنِ الخَوْضِ فِيْمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ , فَهُمْ خِيَارُ أَهْلِ الأَرْضِ بَعْدَ نَبِيِّهِمْ اِرْتَضَاهُمُ اللهُ لِنَبِيِّهِ وَجَعَلَهُمْ أَنْصَارًا لِدِيْنِهِ فَهُمْ أَئِمَّةُ الدِّيْنِ وَأَعْلاَمُ المسْلِمِيْنَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ أَجْمَعِيْنَ

Kemudian sepuluh sahabat lainnya yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam katakana tentang mereka bahwa mereka dijamin masuk surga. Kita pun diperintahkan untuk mencintai mereka dengan kadar yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetapkan karena keutamaan yang ada pada mereka. Kemudian sahabat yang lain selain itu. Semoga Allah meridai mereka semua.

Keutamaan dan kebaikan perbuatan mereka disebut-sebut. Kita tahan diri dari membicarakan perselisihan di antara mereka. Karena mereka adalah sebaik-baik manusia di muka bumi sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah rida kepada mereka karena nabi-Nya. Allah menjadikan mereka penolong untuk agama ini. Mereka adalah para imam dalam agama ini. Mereka yang paling berilmu di antara kaum muslimin. Semoga Allah meridai mereka semuanya.

 

Sepuluh Orang yang Dijamin Masuk Surga

Mereka adalah:

  1. Abu Bakar Ash-Shiddiq
  2. Umar bin Al-Khaththab
  3. Utsman bin ‘Affan
  4. ‘Ali bin Abi Thalib
  5. Thalhah bin ‘Ubaidillah
  6. Az-Zubair bin Al-‘Awwam
  7. ‘Abdurrahman bin ‘Auf
  8. Sa’ad bin Abi Waqqash
  9. Sa’id bin Zaid
  10. Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarrah

Dari Sa’id bin Zaid radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَشَرَةٌ فِى الْجَنَّةِ أَبُو بَكْرٍ فِى الْجَنَّةِ وَعُمَرُ فِى الْجَنَّةِ وَعُثْمَانُ وَعَلِىٌّ وَالزُّبَيْرُ وَطَلْحَةُ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ وَأَبُو عُبَيْدَةَ وَسَعْدُ بْنُ أَبِى وَقَّاصٍ

“Ada sepuluh orang yang dijamin masuk surga: Abu Bakar di surga, Umar di surga, Utsman, ‘Ali, Az-Zubair, Thalhah, ‘Abdurrahman (bin ‘Auf), Abu Ubaidah (bin Al-Jarrah), dan Sa’ad (bin Abi Waqqash).”

قَالَ فَعَدَّ هَؤُلاَءِ التِّسْعَةَ وَسَكَتَ عَنِ الْعَاشِرِ فَقَالَ الْقَوْمُ نَنْشُدُكَ اللَّهَ يَا أَبَا الأَعْوَرِ مَنِ الْعَاشِرُ قَالَ نَشَدْتُمُونِى بِاللَّهِ أَبُو الأَعْوَرِ فِى الْجَنَّةِ. قَالَ أَبُو عِيسَى أَبُو الأَعْوَرِ هُوَ سَعِيدُ بْنُ زَيْدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ نُفَيْلٍ. وَسَمِعْتُ مُحَمَّدًا يَقُولُ هُوَ أَصَحُّ مِنَ الْحَدِيثِ الأَوَّلِ.

Anak Sa’id berkata, “Kalau dihitung mereka tadi ada sembilan, lantas tidak disebutkan yang kesepuluh.” Orang-orang berkata, “Kami berdoa kepada Allah, wahai Abul A’war siapakah yang termasuk yang kesepuluh.” Sa’id (bin Zaid) berkata, “Kalian mohon berdoa kepada Allah untukku semoga termasuk yang kesepuluh tersebut yang berada di surga.” Abu ‘Isa berkata, “Abul A’war itu adalah Sa’id bin Zaid bin ‘Amr bin Nufail. Aku mendengar Muhammad sedang berkata bahwa hadits ini lebih sahih dari hadits pertama.” (HR. Tirmidzi, no. 3748. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini sahih).

Dari ‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَبُو بَكْرٍ فِى الْجَنَّةِ وَعُمَرُ فِى الْجَنَّةِ وَعُثْمَانُ فِى الْجَنَّةِ وَعَلِىٌّ فِى الْجَنَّةِ وَطَلْحَةُ فِى الْجَنَّةِ وَالزُّبَيْرُ فِى الْجَنَّةِ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ فِى الْجَنَّةِ وَسَعْدٌ فِى الْجَنَّةِ وَسَعِيدٌ فِى الْجَنَّةِ وَأَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ فِى الْجَنَّةِ

Abu Bakar di surga, ‘Umar di surga, ‘Utsman di surga, ‘Ali di surga, Thalhah di surga, Az-Zubair di surga, ‘Abdurrahman bin ‘Auf di surga, Sa’ad (bin Abi Waqqash) di surga, Sa’id (bin Zaid) di surga, Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarrah di surga.” (HR. Tirmidzi, no. 3747 dan Ahmad, 1:193. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih).

Baca Juga :  Awal Mula Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW

Thalhah bin ‘Ubaidillah

Nama beliau adalah Thalhah bin ‘Ubaidillah bin ‘Utsman bin ‘Amr bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim bin Murrah, At-Taimi Al-Qurasyi, Abu Muhammad, putra paman Abu Bakar Ash-Shiddiq. Ibunya bernama Sha’bah binti ‘Abdillah bin Imad bin Malik bin Rabiah Ibnu Abkar Al-Hadhramiyyah Al-Kindiyah. Ia lahir sekitar enam belas tahun sebelum pengutusan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Keutamaan Thalhah bin ‘Ubaidillah

  1. Ia termasuk generasi pendahulu yang masuk Islam, juga termasuk dari orang yang mendapatkan hidayah lewat Abu Bakar Ash-Shiddiq.
  2. Thalhah tidak mengikuti perang Badar karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutusnya bersama Sa’id bin Zaid untuk menelisik berita rombongan kaum musyrik. Namun, Thalhah dan Sa’id bin Zaid tetap diberikan ghanimah dan upah.
  3. Thalhah yang melindungi Rasulullah dalam perang Uhud, ia menangkis anak panah yang melesak ke arah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga jari beliau terluka.
  4. Thalhah disanjung karena kebaikan hati dan sedekah beliau. Pada perang Uhud, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut Thalhah dengan sebutan Thalhah Al-Khair (orang yang baik hati). Dalam perang Dzul Asyirah, ia disebut Thalhah Al-Fayadh (orang yang melimpah pemberiannya). Dalam perang Khaibar, beliau menyebutnya dengan Thalhah Al-Jud (orang yang dermawan).
  5. Thalhah dijamin masuk surga dan ia disebut syahid.

Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى شَهِيدٍ يَمْشِى عَلَى وَجْهِ الأَرْضِ فَلْيَنْظُرْ إِلَى طَلْحَةَ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ

“Siapa yang ingin melihat seorang syahid yang berjalan di atas muka bumi, lihatlah pada Thalhah bin ‘Ubaidillah.”(HR. Tirmidzi, no. 3739 dan Ibnu Majah, no. 125. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih).

Thalhah wafat pada tahun 36 H pada peristiwa perang Jamal. Ia keluar bersama Aisyah dan Zubair untuk menuntut qisas atas terbunuhnya Utsman bin ‘Affan. Kemudian permasalahannya semakin berkembang hingga memaksa mereka berhadapan dengan pasukan Ali dalam sebuah pertempuran yang disebut sebagai pertempuran Jamal.

Thalhah bin ‘Ubaidillah menikah dengan delapan istri, memiliki 11 putra dan 4 putri.

Az-Zubair bin Al-‘Awwam

Nama beliau adalah Az-Zubair bin Awwam bin Khuwailid bin Asad bin ‘Abdul ‘Uzza bin Qushai bin Kilab, Al-Qurasyi Al-Azdi Al-Makki, Abu ‘Abdillah.

Ibunya bernama Shafiyah binti ‘Abdul Muththalib, bibi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. ‘Ali, Az-Zubair, Thalhah, dan Sa’ad berumur sebaya, mereka lahir pada tahun yang sama.

Ayah Zubair wafat ketika Zubair masih kecil. Ia pun diasuh oleh ibunya, Shafiyah, yang kadang mendidiknya dengan keras agar ia tumbuh sebagai pahlawan pemberani dan tangguh.

Keutamaan Az-Zubair bin Al-‘Awwam

  1. Zubair masuk Islam saat usia 16 tahun dan termasuk generasi awal yang masuk Islam.
  2. Zubair adalah orang pertama yang menghunuskan pedangnya di jalan Allah saat ia menduga ada orang musyrik yang hendak berbuat sewenang-wenang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  3. Zubair hijrah ke Madinah dan terlibat dalam perang Badar serta berbagai peristiwa penting lainnya. Urwah bin Zubair mengatakan bahwa terdapat tiga tebasan pada diri Zubair yang salah satunya terletak di bahunya. Ia terkena dua tebasan pada perang Badar dan satu tebasan pada perang Yarmuk.
  4. Zubair menunggang kuda dengan mengenakan sorban kuning yang dinyatakan bahwa para malaikat turun serupa dengan tampilannya.
  5. Zubair disebut sebagai tetanggga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di surga.
  6. Zubair itu dinilai sebagai Hawariyyun (pengikut setia).
  7. Zubair merupakan sosok pembela Rasulullah. Mereka yang jadi pembela setia nabi adalah: Hamzah, Ali, Az-Zubair sebagaimana dikatakan oleh Sufyan Ats-Tsauri.
Baca Juga :  Kisah Nabi Ibrahim dengan Empat Ekor Burung

Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ لِكُلِّ نَبِىٍّ حَوَارِيًّا ، وَحَوَارِىَّ الزُّبَيْرُ

“Setiap Nabi itu punya seorang Hawariyyun (pengikut setia). Pengikut setiaku adalah Az-Zubair.” (HR. Bukhari, no. 2846)

Zubair dan Thalhah serta Ummul Mukminin keluar pada perang Jamal pada tahun 36 H. Dalam perang tersebut, Zubair dibunuh oleh Umair bin Jurmuz.

Zubair menikah dengan tujuh istri dan mempunyai 11 putra dan 10 putri.

‘Abdurrahman bin ‘Auf

Nama beliau adalah ‘Abdurrahman bin ‘Auf bin Abdi ‘Auf bin ‘Abdul Harits bin Zahrah bin Kilab, Al-Qurasyi Az-Zuhri, Abu Muhammad.

Nama ibunya adalah Shafiyah. Menurut versi yang lain Namanya Shafa. Ada yang mengatakan pula nama ibunya adalah Syifa, ini namanya yang paling masyhur, juga Az-Zuhriyah. Ibunya adalah membidani kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. ‘Abdurrahman bin ‘Auf lahir 10 tahun setelah peristiwa Gajah. Ketika itu ia diberi nama ‘Abdul Ka’bah.

Keutamaan ‘Abdurrahman bin ‘Auf

  1. Ia termasuk kalangan yang masuk Islam lebih dahulu sebelum ada pertemuan di rumah Arqam (Darul Arqam) yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  2. Ia mengharamkan khamar bagi dirinya sendiri pada masa Jahiliyyah.
  3. Ia melakukan dua kali hijrah.
  4. Ia terlibat dalam perang Badar dan seluruh perang lainnya.
  5. ‘Abdurrahman terluka dalam perang Uhud sebanyak 21 luka.
  6. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mempersaudarakan dirinya dengan Sa’ad bin Ar-Rabi’.
  7. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus ‘Abdurrahman bersama tujuh ratus orang ke Daumatul Jandal yang terjadi pada bulan Syakban tahun enam Hijriyah. Ia menyeru penduduknya kepada Islam, lalu ditolak sebanyak tiga kali. Namun, Ashbagh bin Amr Al-Kalbi yang Nashrani masuk Islam. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh untuk menikahi Tumadhir binti Ashbagh.
  8. ‘Abdurrahman termasuk orang yang memberikan fatwa pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  9. ‘Abdurrahman adalah satu di antara enam sahabat yang menjadi ahli syura yang diberitahukan oleh ‘Umar bin Al-Khaththab.
  10. Para perang Tabuk, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sempat menunaikan satu rakaat dari shalat Shubuh dengan mengikut di belakangnya. Ia sebagai satu-satunya sahabat yang secara meyakinkan menunaikan shalat yang demikian ini.
  11. ‘Abdurrahman itu sosok yang rendah hati dan rajin sedekah.

Diriwayatkan dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan,

كَانَ بَيْنَ خَالِدِ بْنِ الْوَلِيدِ وَبَيْنَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ كَلاَمٌ فَقَالَ خَالِدٌ لِعَبْدِ الرَّحْمَنِ تَسْتَطِيلُونَ عَلَيْنَا بِأَيَّامٍ سَبَقْتُمُونَا بِهَا. فَبَلَغَنَا أَنَّ ذَلِكَ ذُكِرَ لِلنَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ « دَعُوا لِى أَصْحَابِى فَوَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَوْ أَنْفَقْتُمْ مِثْلَ أُحُدٍ أَوْ مِثْلَ الْجِبَالِ ذَهَباً مَا بَلَغْتُمْ أَعْمَالَهُمْ

“Saat itu terjadi pembicaraan kurang harmonis antara Khalid bin Walid dengan ‘Abdurrahman bin ‘Auf, hingga Khalid berkata kepada ‘Abdurrahman, “Kalian bersikap sombong terhadap kami terkait peristiwa-peristiwa yang lebih dahulu kalian alami daripada kami!” Kejadian itu pun disampaikan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau bersabda, “Tinggalkan bicarakan seperti itu. Demi yang jiwaku di tangan-Nya, seandainya kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud (atau seperti gunung), maka kalian tetap tidak mampu menyamai amal-amal mereka.” (HR. Ahmad, 3:266. Syaikh Syuaib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih).

‘Abdurrahman bin ‘Auf wafat pada tahun 31 Hijriyah, dimakamkan di pekuburan Baqi’ dan dishalatkan oleh ‘Utsman. ‘Abdurrahman bin ‘Auf hidup dengan usia 72 tahun. ‘Abdurrahman berwasiat untuk memberikan dana sebesar 400 dinar kepada setiap orang yang ikut dalam perang Badar, sedangkan jumlah mereka yang masih hidup ada sekitar 100 orang.

‘Abdurrahman menikah dengan 12 istri, memiliki 20 putra dan 8 putri.

Masih berlanjut pada tiga sahabat lainnya, insya Allah.

Diselesaikan di @ Darush Sholihin, 6 Februari 2021 (24 Jumadal Akhirah 1442 H)

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumasyho