Ciri-ciri Pedagang Sahabat Iblis di Pasar

  • Bagikan
6018ce55 images 2021 02 01t180557.595

IslamiTafsir Surat Al Muthaffifiin gerada berkisah menyangkut ajaran moral kejujuran dalam berdagang. Pedagang yang curang akan masuk neraka.

“Neraka Wail (Celakalah) bagi orang-orang yang curang (dalam menakar dan menimbang)! (Yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dicukupkan, dan apabila mereka menakar atau menimbang (untuk orang lain), mereka mengurangi.”(QS. Al Muthaffifiin 1-3)

Dalam kitab Tanbih al-Ghafilm, Imam Abu Laits as-Samarqandy menyampaikan suatu kisah ketika Rasulullah SAW bertemu iblis dan menanyakan tentang siapa saja yang menjadi sahabat iblis.

Dikutip dari buku Percikan Sains Dalam Al Quran: Menggali Inspirasi Ilmiah Oleh H. Bambang Pranggono,  Senin (1/2/2021), Iblis menjawab bahwa pedagang yang curang, at-tajir al-kha’m, merupakan satu dari sepuluh teman iblis, sedangkan pedagang yang jujur, at-tajir as-shadiq, adalah musuhnya.

Baca Juga :  Eugene Bocorkan Episode 13 The Penthouse 2, Bakal Tayang Sebelum Season 3

Tafsir Al Jami’ul Ahkam al-Qurthuby mengungkap pernyataan Ibnu Abbas bahwa Wail adalah nama sebuah lembah di Jahanam yang mengalirkan nanah penduduk neraka. Praktik yang dinamakan muthaffifün ialah bila menimbang untuk dirinya dilebihkan dan bila menimbang untuk orang dikurangi.

Esensinya ialah memakai dua takaran yang berbeda. Ini yang disebut standar ganda yang diancam masuk neraka Wail.

Baca Juga :  Quraish Shihab: Binatang Najis Bukan Berarti Tidak Boleh Disayangi

Sebetulnya, penerapan dua jenis ukuran saat ini berlangsung meluas. Hukuman yang berbeda bagi rakyat dan konglomerat. Pen- copet seribu rupiah babak belur dikeroyok massa, sedangkan koruptor 1 triliun dibiarkan leluasa ke luar negeri.

Bunga bank yang berbeda antara penabung dan peminjam. Denda tanpa ampun bagi peminjam yang terlambat mengangsur. Hadiah undian mobil mewah bagi pemilik deposito dengan nominal besar, tetapi sebaliknya denda bagi penabung yang saldonya kecil.

Sebenarnya, Surat Al Muthaffifin tadi berimplikasi jauh lebih luas, bukan sekadar ajaran moral. Secara teknis, dia menuntut adanya standardisasi ukuran sedunia.

  • Bagikan