BNPB Sebut Kawasan Malunda yang Terparah Hancur Akibat Gempa Sulbar : Okezone Nasional

  • Bagikan



bnpb sebut kawasan malunda yang terparah hancur akibat gempa sulbar cN97LqfrfW

JAKARTA – Plt. Direktur Pemetaan dan Evaluasi Risiko Bencana BNPB, Abdul Muhari mengatakan, bukan wilayah Majene dan Mamuju, tetapi Malunda yang mengalami guncangan terparah akibat gempa bumi M6,2 di Sulawesi Barat.

“Bahwa daerah yang mengalami guncangan paling keras skala MMI itu sebenarnya ada di kawasan Malunda. Majene dan Mamuju itu ada di skala MMI 5. Sedangkan kawasan sub urban disini Malunda itu MMI nya sampai 6,” ungkap Abdul dalam Focus Group Discussion (FGD) Gempa Bumi di Sulawesi Barat secara virtual, Senin (1/2/2021).

Baca juga:  Gempa M 6,2 di Sulbar Picu Gempa Lain di Indonesia? Ini Penjelasan Guru Besar ITB

Abdul mengatakan, bahwa awal terjadi gempa di Sulbar banyak informasi yang beredar jika wilayah Majene dan Mamuju. Sehingga, kata Abdul ada bias informasi pada saat itu.

“Tetapi ketika kita di Jakarta yang kita lihat itu dari formasi media itu fokus ke Mamuju.”

Baca juga:  BPBD Catat 105 Orang Meninggal Akibat Gempa Sulbar

“Bahkah, dari pemberitaan-pemberitaan yang kita dapatkan di sosial media 1-2 hari pasca gempa, seakan-akan Mamuju pernah benar-benar hancur, benar-benar lumpuh karena pemberitaan yang berulang, dan dengan gambar-gambarnya yang luar biasa dramatis itu tetap di disiarkan, sehingga mungkin memberikan bisa informasi. Bahwa ada kemungkinan tempat-tempat lain yang mungkin lebih juga perlu kita perhatikan,” kata Abdul.

 

Abdul juga mengatakan, masyarakat yang mengungsi juga semakin banyak akibat berita hoaks yang beredar di sosial media.

“Apalagi pada saat itu ada pesan-pesan kesiapsiagaan sebenarnya bahwa masih ada potensi gempa susulan, masih ada potensi tsunami karena gempa susulan yang kemudian melahirkan banyaknya hoaks yang bergulir di sosial media termasuk grup WhatsApp dan lain-lain,” katanya.

Padahal, kata Abdul, pada saat itu semua pihak yang membantu dalam proses penanganan harus berpacu dengan tingginya eskalasi masyarakat yang mengungsi.

“Ini mempengaruhi sekali accelerasi dalam tanggap darurat, yang kita lakukan karena pengerahan sumber daya kita kemudian berpacu dengan eskalasi pengungsi yang kemudian terpengaruh oleh pemberitaan ini. Sehingga peningkatan jumlah pengungsi itu dari hari ke hari sangat luar biasa pesatnya,” tuturnya.

“Sehingga kita sangat penting untuk me-maping di mana sebenarnya titik-titik pengungsi, di mana titik rumah rusak, untuk mendapatkan gambaran secara secara umum tentang medan perang yang harus kita hadapi,” kata Abdul.



Source link

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.