Kisah Pulau Terpencil Hanya Dihuni 62 Orang

  • Bagikan
75a7b1d6 kisah pulau terpencil dihuni 62 orang bagaimana mereka bertahan hidup 7qky8umsmg

CR — PULAU Palmerston berada di Samudera Pasifik, sekitar 3.200 kilometer arah timur laut Selandia Baru. Pulau koral milik Inggris ini hanya dihuni 62 orang dari satu keturunan, yakni William Masters. Tukang kayu asal Inggris itu merupakan manusia pertama yang tinggal di Palmerston.

Lalu, bagaimana mereka bertahan hidup di pulau terpencil dengan keindahan alam yang memesona itu?

Palmerston bagian dari gugusan Kepulauan Cook. Dinamakan Cook karena sesuai nama penemunya, James Cook, penjelajah Inggris yang hidup pada abad 18. Setelah ditemukan, tidak ada manusia yang tinggal di pulau-pulau itu selama lebih dari delapan dekade.

Kemudian William Marsters menemukan Palmerston di pertengahan abad 19 dan langsung jatuh cinta padanya. Pada saat itu, Palmerston dimiliki oleh seorang pedagang asal Inggris, John Brander yang tinggal di Tahiti. William dan Brander sempat bertemu.

ilustrasi

Pulau Palmerston (Cook Islands.Travel)

Brander meminta William mengurus Palmerston dan membiarkannya menanam serta memanen pohon kelapa di sana. William pindah ke Palmerston pada 1863 bersama istrinya, seorang wanita Polinesia, dan dua sepupunya (yang kemudian dia nikahi juga).

Baca Juga :  Polri Selidiki Akun Penyebar Video Seks Mirip Gisel

Pada 1899, William Masters meninggal dubua dab membagikan Pulau Palmerston seluas 2 Km per segi itu menjadi tiga bagian dan mewariskannya pada ketiga istrinya dan anak-anaknya.

Pulau Palmerston hanya dikunjungi kapal pasokan makanan selama beberapa bulan sekali, tapi tidak jarang sebagian penduduk pernah merasakan selama 18 bulan tanpa pengiriman pasokan makanan.

Tak ada toko dan supermarket membuat penduduk Palmerston mencukupi hidupnya dengan mencari ikan dan memanen kelapa. Uang yang mereka dapatkan juga hanya digunakan untuk membeli kebutuhan dari pulau tetangga.

William Masters, penemu pulau ini dikenal hingga hari ini sebagai “Ayah” oleh keturunannya yang jauh, ia menerapkan kebijakan pernikahan dan praktik berpikiran maju lainnya yang masih berlaku. Seperti perburuan burung bosun tahunan, dan temuannya terhadap budaya konservasi ra’ui tradisional Cooks.

Pada Sabtu pertama bulan Juni, penduduk pulau menangkap cukup banyak unggas. Kemudian diberikan kepada setiap orang setengah ekor burung. Penduduk dilarang berburu burung laut putih ekor panjang di luar ritual ini, agar kawanan burung yang ada tetap sehat dan tidak punah.

Baca Juga :  PWI Minta Polri Hukum Berat Pembunuh Wartawan Demas Laira
ilustrasi

Pulau Palmerston di Samudera Pasifik difoto dengan satelit (NASA)

Semua penduduk Palmerston tinggal di Home Island, yang terbesar di pulau, yang panjangnya kurang dari satu mil. “Kami memiliki lebih dari cukup ikan untuk makanan kami sendiri,” kata Will salah satu penduduk Palmerston dilansir dari Outside Online, Rabu (27/1/2021).

Ia menjelaskan bahwa laguna di pulau lain dipengaruhi oleh ciguatera, racun yang diproduksi secara alami yang dapat membuat makanan laut tidak dapat dimakan.

“Permintaan ikan karang tidak pernah terpuaskan di Rarotonga dan Aitutaki,” ujar Will.

Untuk melengkapi pola makan Palmerston, mereka memelihara babi dan ayam, dan sebuah kapal suplai datang setiap beberapa bulan dari Rarotonga, membawa barang-barang mewah dan barang-barang seperti beras, gula, dan domba dari Selandia Baru.

Meskipun lokasinya terpencil, penduduk Palmerston dapat mengikuti perkembangan terkini di luar negeri melalui Wi-Fi.

lanjut

  • Bagikan