Cara Pakai Pulse Oximeter yang Direkomendasikan WHO

3

Health — Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan pasien Covid-19 isolasi mandiri untuk memiliki pulse oximeter atau oksimeter.

Rekomendasi itu tercatat dalam pedoman tatalaksana Covid-19 yang baru diperbarui oleh WHO.

Berikut fungsi, manfaat, dan cara pakai pulse oximeter atau oksimeter.

Fungsi pulse oximeter

Pulse oximeter merupakan alat untuk mendeteksi jumlah kadar oksigen di dalam darah.

Pada pasien Covid-19, pulse oximeter umumnya digunakan untuk mencegah terjadinya happy hypoxia yang bisa mengancam nyawa.

Happy hypoxia dapat terjadi kala kadar oksigen pasien Covid-19 rendah tanpa mengalami gejala apapun sebelumnya.

Manfaat pulse oximeter

Sebagaimana dilansir Medical News Today, Pulse oximeter berguna untuk orang yang memiliki masalah kesehatan yang memengaruhi saturasi oksigen, seperti Covid-19.

Baca Juga :  Wajib Sediakan Alat Pemadam Kebakaran, Harga Mobil Naik Ratusan Ribu

Beberapa dokter kerap menggunakan pulse oximeter untuk menilai keamanan aktivitas fisik pada orang dengan masalah kardiovaskular atau pernapasan, serta mungkin merekomendasikan agar seseorang memakainya saat berolahraga.

Seorang dokter juga dapat menggunakan alat tersebut sebagai bagian dari tes stres.

Beberapa rumah sakit menggunakan oksimeter ini untuk pasien yang sangat rentan, seperti lansia serta bayi di unit perawatan intensif.

Cara pakai pulse oximeter

Cara pakai pulse oximeter atau oksimeter cukup mudah. Anda bisa langsung menggunakan pulse oximeter dengan menaruhnya di ujung jari telunjuk.

Baca Juga :  Draf Omnibus Law Diserahkan ke Jokowi Hari Ini

Dengan menunggu beberapa waktu, hasil yang menunjukkan kadar oksigen dalam tubuh akan terlihat di layar pulse oximeter.

Tingkat saturasi oksigen dinyatakan normal jika angka menunjukkan antara 95 dan 100 persen.

Sementara, untuk tingkat saturasi oksigen di bawah 90 persen dianggap sangat rendah dan dapat menjadi keadaan darurat klinis.

Saturasi oksigen bisa turun karena berbagai alasan, termasuk:

– kekurangan nafas
– tersedak
– infeksi, seperti pneumonia
– tenggelam
– penyakit, seperti emfisema, kanker paru-paru, dan infeksi paru-paru
– menghirup bahan kimia beracun
– gagal jantung atau riwayat serangan jantung
– reaksi alergi
 sleep apnea

cnn