LAPAN Duga Asteroid Jatuh di Bali

2

Jakarta — Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) menduga, dentuman yang terdengar di sekitar wilayah Kecamatan Buleleng, Bali, Minggu (24/1) disebabkan hantaman asteroid.

Kepala LAPAN Thomas Djamaluddin mengatakan hal ini serupa dengan fenomena yang pernah terjadi di Bone, Sulawesi Selatan pada 8 Oktober 2009.

“Bila dibandingkan dengan kejadian di Bone, ada kemiripan sehingga diduga ledakan di Buleleng juga disebabkan adanya asteroid besar yang jatuh,” kata Thomas kepada CNNIndonesia Minggu (24/1) malam.

Thomas menjelaskan, pada Oktober 2009 warga Kabupaten Bone mendengar adanya ledakan yang disertai getaran kaca-kaca rumah, dan disusul dengan jejak asap di langit.

Baca Juga :  Ini 19 Syarat New Normal di Sekolah, Posisi Duduk Antar Siswa Minimal 1,5 Meter

Berdasarkan bukti penelitian dari National Aeronautics and Space Administration (NASA), data infrasound menjelaskan fenomena ini disebabkan asteroid jatuh diperkirakan berdiameter 10 meter, yang menyebabkan getaran 1,9 magnitudo.

Sementara itu, peristiwa dentuman di Kabupaten Buleleng, seismograf BMKG mencatat, adanya anomali dengan getaran sebesar 1,1 magnitudo.

“Bila dibandingkan dengan kejadian di Bone, ada kemiripan sehingga diduga ledakan di Buleleng juga disebabkan adanya asteroid besar yang jatuh. Asteroid itu menimbulkan gelombang kejut yang terdengar sebagai ledakan. Diduga asteroid tersebut berukuran beberapa meter, lebih kecil daripada asteroid di Bone,” ucap Thomas.

Baca Juga :  Ustaz Yusuf Mansur Positif Corona

Sebelumnya, sejumlah warga bali dikejutkan dengan suara dentuman keras. Sejumlah warga bahkan mengaku melihat benda yang melintas di langit sebelum dentuman terjadi.

BMKG memastikan dentuman bukan bersumber dari gempa. Namun, BMKG mendeteksi anomali sinyal seismik di Bali pada pukul 10.27 WITA.

Rekaman seismik disebut memiliki durasi sekitar 20 detik. Berdasarkan formulasi penentuan magnitudo gelombang gempa, dentuman menciptakan magnitudo 1,1.

(can/mik)cnn