Makna Mamuli, Perhiasan Sumba yang Bentuknya Menyerupai Vagina-Rahim

95

CR — Masyarakat Pulau Sumba memiliki perhiasan logam khas adat berbentuk vagina dan rahim yang disebut Mamuli. Bahan perhiasan itu beragam, dari emas, perak, hingga kuningan.

Menurut peneliti sekaligus penulis novel Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam, Dian Purnomo, perhiasan berupa anting ini merupakan mahar dalam pernikahan di Pulau Sumba.

_

Dian menjelaskan ada makna filosofis dibalik bentuk anting Mamuli yang seperti rahim perempuan sebagai wujud penghargaan kepada ibu.

“Jadi sebenarnya itu bentuknya menyerupai organ reproduksi perempuan, bukan hanya vaginanya. Itu meliputi ovarium, rahim, termasuk serviks, sampai vagina,” kata Dian kepada CNNIndonesia.com.

Dian melanjutkan anting Mamuli ini adalah salah satu seserahan dari pihak laki-laki saat melamar perempuan Sumba. Selain Mamuli yang menjadi milik ibu, ada pula Marangga yakni kalung untuk anak perempuan.

“Mamuli ini sudah otomatis pihak laki-laki akan menyerahkannya. Mamuli ini akan diberikan ke ibu perempuan sebagai ganti susu. Artinya sebagai ganti air susu ibu yang telah membesarkan, menyusui anaknya. Kalau ibu menerima Mamuli itu, anak perempuannya diserahkan kepada laki-laki,” kata Dian.

Baca Juga :  Segera Cek Rekening! BLT Subsidi Gaji Cair Lagi Loh

Dalam kehidupan masyarakat Sumba, Mamuli juga dijadikan simbol status sosial seseorang. Dian bahkan menyatakan pihak ibu perempuan boleh menolak jika Mamuli yang diserahkan tidak sesuai dengan keinginannya.

Perhiasan khas Sumba, Mamuli, yang menyerupai organ reproduksi perempuan.Mamuli kini juga diciptakan dalam bentuk liontin kalung. (Dok. cnnindonesia)

“Nah, mereka tuh jika si ibunya boleh menolak jika tidak dikasih [Mamuli] emas. Jadi jawaban mereka bakalan di sini: ‘Kami makan beras merah, bukan beras putih.’ Putih maksudnya pertanda perak, merah pertanda emas,” kata Dian.

Mamuli tidak hanya digunakan dalam pernikahan, tapi juga di ritual adat lain seperti kematian.

Dalam penelitian Dian di Sumba Barat, jika ada wanita adat meninggal dunia, ia akan dikubur bersama dengan Mamulinya. Hal itu untuk menunjukkan status sosial keluarga mendiang.

Seiring perkembangan zaman, Mamuli tidak selalu berupa emas atau perak. Sekarang sudah ada Mamuli dari bahan kuningan yang lebih terjangkau. Bahkan sudah banyak warga yang menjual Mamuli untuk mencukupi kebutuhan hidup.

Baca Juga :  Viral 'Tendangan Gaib' Adrian di Ajax vs Liverpool

“Jadi sudah tidak seperti dahulu, kalau dahulu Mamuli ini disakralkan, disimpan, karena kalau [ibu] meninggal itu [mamuli] ikut dikubur karena itu bagian dari harta mereka. Sekarang sudah tidak. Orang lebih realistis [sehingga bisa dijual],” ujar Dian.

Mamuli juga bisa diwariskan ke anggota keluarga lain. Dalam pandangan Dian, seorang ibu boleh saja menyerahkan Mamuli untuk anak laki-lakinya sebagai mahar untuk melamar apabila ia tidak sanggup memesan Mamuli.

Selain itu, warga dari luar Sumba juga kini boleh memesan Mamuli tanpa harus membuat pesta pernikahan. Bahkan, Mamuli yang awalnya digunakan sebagai anting juga telah bergeser menjadi liontin kalung. Dian memandang kelonggaran dalam pemakaian ini telah menyebabkan terjadi pergeseran nilai dan kesakralan Mamuli.

“Mamuli [saat ini] jarang dipakai [sebagai anting] oleh ibu-ibu karena berat dan siapa saja boleh memesan Mamuli. Nanti akan dibuatkan persis dengan Mamuli untuk pengantin, tapi nilai kesakralan buat [orang-orang] non-Sumba tidak ada. Sebatas perhiasan saja,” ujar Dian.

(nly/bac) cnn