Mengenal Kitab Kuning ala komjen Listyo

  • Bagikan
3da3f012 images 2021 01 23t205224.504

Jakarta — Kitab Kuning merupakan istilah nusantara bagi karya para ulama salaf yang jauh dari unsur politis dan subjektivitas. Temanya terbentang dalam berbagai bidang keilmuan, dari fikih, akidah, etika, hingga politik.

Sebelumnya, readyviewed calon Kapolri Listyo Sigit Prabowo mengatakan akan mewajibkan anggota Polri untuk mengkaji kitab kuning.

“Seperti dulu di Banten, saya sampaikan anggota wajib belajar kitab kuning,” kata dia, dalam uji kepatutan dan kelayakan calon Kapolri, pada Rabu (20/1) di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.

Lantas apa itu kitab kuning?

Rais Syuriah PBNU Masdar Farid Mas’udi menjelaskan kitab kuning merupakan kitab-kitab yang dikaji di banyak pesantren. Umumnya, kitab-kitab tersebut dicetak menggunakan kertas berwarna kuning.

“Istilah kitab kuning sebenarnya istilah nusantara itu,” ujarnya, melansir CNNIndonesia.com pada Kamis (21/1) malam.

Kitab kuning, kata dia, berisi pemikiran, penafsiran, dan pemahaman para ulama salaf terhadap prinsip-prinsip islam berikut detailnya. Ulama salaf sendiri merujuk pada intelektual muslim yang hidup pasca generasi ketiga pengikut nabi.

“Kitab kuning itu kitab yang berisikan pemikiran, interpretasi, dan pemahaman para ulama terkait dengan prinsip-prinsip Islam maupun detail-detailnya,” jelas Masdar.

Kalangan pesantren, kata Masdar, menilai kitab-kitab yang ditulis oleh generasi tersebut cenderung tidak terpengaruh oleh konflik, gejolak politik, serta gesekan antar-aliran ketuhanan dan kelompok dalam Islam. Pada masa itu, konflik antar pemahaman dalam Islam belum banyak bermunculan.

Baca Juga :  Cakupan Dari Perpres tentang VaksinCovid-19 yang Diteken Jokowi

“Ulama salaf itu menjauhi konflik-konflik yang bersifat subjektif, politik, apalagi berkaitan dengan perebutan kekuasaan,” jelas Masdar.

Orang-orang yang termasuk dalam generasi ini antara lain imam empat mazhab, yakni Imam Syafi’I, Maliki, Hanbali, dan Hanafi.

Adapun kitab kuning memuat berbagai bidang keilmuan seperti, syariat (hukum islam), akhlak (moral), tasawuf, dan akidah (ketuhanan).

Menurut Masdar, semua bidang ilmu tersebut penting. Contohnya, tanpa ilmu syariat orang bisa tersesat. Akidah juga penting untuk dipahami dengan benar. Jika keliru, itu bisa menyebabkan kemusyrikan atau kekufuran.

Sementara, kata dia, pengetahuan akhlak juga sangat penting karena menjadi keluaran keislaman seseorang.

“Karena akhlak itu ujung muara dan pembuktian dari apakah orang itu betul-betul Islam atau tidak, itu pada akhlaknya, perilakunya, pada etikanya,” terang lulusan program pascasarjana Studi Filsafat, Universitas Indonesia ini.

Selain bidang tersebut, terdapat bidang siyasah atau politik yang juga dikaji di lingkungan pesantren. Masdar mengatakan, arah dari kajian politik ini adalah bagaimana mengkondisikan dan memastikan suatu kekuasaan benar-benar melayani rakyat demi keadilan sosial.

Siyasah Islam mengajarkan dalam menjalankan kekuasaan tidak diperbolehkan terdapat diskriminasi terhadap kelompok tertentu karena agama, mazhab, partai, suku, dan ideologi yang berbeda.

Baca Juga :  Pasti Kalian Ingat Suara Lembut Shizuka? Ia Telah Tiada

“Jadi harus inklusif, penguasaan pemerintah harus inklusif,” ucap dia, yang juga mantan jurnalis pada masa Orde Baru ini.

Berjenjang

Dalam lingkungan pesantren, pendidikan keagamaan dilakukan secara berjenjang. Dilansir dari situs NU Online, terdapat beberapa judul kitab dasar yang menjadi rujukan utama yang umumnya ditulis ratusan tahun lalu.

Pertama, kitab Al Ajurumiyah karya Syekh Sonhaji pada abad ke 7 hijriah/13 Masehi. Kitab ini menjadi rujukan dalam mempelajari dasar-dasar ilmu nahwu yang mengkaji gramatika Bahasa Arab.

Ilmu ini mempelajari bahasa dari struktur yang paling dasar seperti jenis kata, kalimat, kedudukan kalimat, hingga konteks dalam suat bahasa. Orang-orang di lingkungan pesantren kerap menyebut ilmu ini sebagai kunci untuk memahami pengetahuan.

Setelah menghafal dan mempelajari kitab ini, pada umumnya para santri akan mengkaji kitab Al Imrity yang berisi 250 bait syair-syair dalam Bahasa Arab.

Pada jenjang selanjutnya, santri akan menghafal dan mengkaji kitab Al Fiyyah Ibnu Malik yang terdiri dari 1001 bait dalam Bahasa Arab.

Kedua, kitab Amtsilah at Tashrifiyah, karya ulama asal Indonesia, KH. Ma’shum ‘Aly dari Jombang. Kitab ini merupakan bagian dari ilmu shorof.

  • Bagikan