Dokumen Bocor, Ungkap China Kontrol Ketat Berita Covid-19

  • Bagikan
04ed9bf2 426f 4a3c a8e1 3cc3e4d4ac8d 169

Tak lama dari situ, Li dinyatakan meninggal dunia pada Februari lalu karena terinfeksi Covid-19.

Kematian Li memicu kritikan dan kecaman masyarakat China bahkan publik internasional terkait kekejaman pemerintahan Xi Jinping untuk membungkam berita yang tidak menyenangkan atau menimbulkan sentimen negatif bagi Negeri Tirai Bambu.

ProPublica menuturkan pemerintah China juga memerintahkan berbagai platform media sosial untuk mengapus nama Li Wenliang dari laman trending topics.

China juga disebut mengerahkan pasukan daring atau buzzer untuk membuat rentetan komentar palsu di berbagai platform media sosial untuk mengalihkan para pengkritik pemerintah.

“Kepada situs berita dan platform media sosial: jangan aktifkan push notification, jangan mengunggah komentar, jangan menghasut spekulasi. Kontrol ketat setiap forum diskusi daring, jangan buat hastag, secara bertahap hapus (nama Li Wenliang) dari trending topics, kontrol ketat informasi berbahaya,” bunyi perintah pejabat China terhadap media terkait kematian Li.

Baca Juga :  Dispora Kab Lebong Targetkan Tari Adat Rejang Masuk MURI

Perintah tersebut satu di antara ribuan arahan rahasia pemerintah China yang tertuang dalam sejumlah dokumen lainnya ditinjau oleh ProRepublica dan New York Times.

Dokumen-dokumen itu memaparkan dengan sangat rinci sistem siber yang membantu pemerintah China menggiring dan membentuk opini di dunia maya selama pandemi.

Presiden Xi Jinping disebut membentuk Administrasi Dunia Siber (CAC) pada 2014 sebagai pusat manajemen pemblokiran internet dan propagada.

ProPublica menuturkan CAC mulai mengontrol ketat aliran informasi soal virus corona pada pekan pertama Januari 2020. Pejabat CAC mewajibkan seluruh portal berita hanya menggunakan data yang dirilis pemerintah.

Saat itu, CAC juga memerintahkan media untuk tidak menghubungkan virus corona dengan wabah SARS yang juga muncul dan menyebar di China pada 2002 lalu.

Pada awal Februari, pertemuan tingkat tinggi Presiden Xi dan pejabat pemerintah lainnya menyerukan manajemen media gitial yang lebih ketat. Kantor CAC di seluruh China disebut mulai bertindak mengawasi peredaran berita dan pergerakan netizen soal perkembangan corona di China.

Baca Juga :  Kemenperin Tetapkan SNI Masker Kain, Berikut Kriterianya

Kantor agensi juga mulai menerima tautan ke sejumlah artikel berita soal virus corona yang boleh dipromosikan di media sosial dan agregator berita. CAC juga mengatur tautan mana yang boleh ditampilkan di beranda situs berita, berapa lama, dan artikel mana yang menjadi berita utama.

CAC juga disebut memerintahkan media online memainkan wacana soal upaya heroik petugas medis lokal yang dikirim ke Wuhan serta kontribusi Partai Komunis dalam menangani pandemi.

CAC juga meminta media menghindari kata-kata “tidak dapat disembuhkan” dan “fatal” dengan dalih menghindari kepanikan masyarakat.

Pemerintah China juga meminta media menghindari penggunaan istilah “penguncian wilayah” atau “lockdown” dan arahan lainnya dengan menegaskan bahwa berita “negatif” tentang pandemi tidak boleh dipromosikan.

(Cnnindonesia)

  • Bagikan
Positive SSL