6 Permainan Tradisional Indonesia

  • Bagikan
615cd599 fd44 4a40 9307 99e245b9395f 169

CR — Permainan tradisional Indonesia ini sangat populer pada masanya, jauh sebelum kehadiran gadget. Anak-anak zaman dulu sering memainkannya bersama teman-teman.

Di Indonesia sendiri, jumlah permainan tradisional ada banyak. Beda wilayah, beda pula jenis permainannya.

Namun tak jarang, ada juga permainan tradisional populer yang dikenal luas di berbagai daerah dengan konsep serupa, namun hanya berbeda istilah.

Meskipun eksistensi permainan tradisional sekarang sedikit tergeser karena berbagai faktor, tidak ada salahnya jika suatu waktu mencoba untuk memainkannya lagi sambil bernostalgia.

1. Balap Karung

Sejumlah anak beradu cepat saat lomba balap karung di Kelurahan Maccini, Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (10/8). Pesta rakyat seperti lomba balap karung yang diadakan oleh warga setempat dalam rangka menyambut peringatan HUT ke-70 Kemerdekaan RI. ANTARA FOTO/Sahrul Manda Tikupadang/aww/15.Foto: ANTARA FOTO/Sahrul Manda Tikupadang
Balap karung adalah permainan tradisional Indonesia yang sering dilombakan pada perayaan HUT RI

Permainan tradisional balap karung memang terkenal di masyarakat Indonesia, dan sering dijadikan lomba terutama saat hari perayaan kemerdekaan.

Jika ditarik sedikit ke sejarahnya, pertama kali permainan balap karung sampai ke Nusantara bermula dari kawanan Belanda yang menginjakkan kaki di Indonesia.

Pada saat itu, orang Belanda di Indonesia kerap kali bermain balap karung ketika mengadakan perayaan di instansi bentukan Belanda, dan keseruannya dapat dirasakan banyak kalangan.

Balap karung yang masuk ke Tanah Air pun mulai di adopsi hingga terkenal se-Indonesia. Kemudian sering dimainkan turun-temurun dan menjadi bagian dari permainan tradisional.

Tidak ada aturan tertentu untuk bermain balap karung, setiap peserta hanya diminta memasukan setengah badan ke dalam karung, lalu melompat-lompat sampai ke garis ujung yang ditetapkan.

2. Balogo

Balogo merupakan permainan tradisional asal Kalimantan Selatan yang berawal dari suku Banjar, dengan menggunakan ‘logo’ sebagai alat mainnya.

Permainan balogo sebelumnya sering dilakukan oleh warga Banjar sampai tahun 1980-an, namun saat ini permainan tersebut kurang banyak peminat.

Untuk melestarikan permainan tradisional balogo, pemerintah daerah setempat mulai banyak yang menjadikannya sebagai lomba dengan diikuti oleh anak-anak hingga dewasa.

Jumlah pemain bologo terdiri dari dua hingga lima orang atau kelompok. Cara bermainnya, setiap peserta harus meruntuhkan ‘logo’ berbentuk piramida mini.

Baca Juga :  Manfaat Buah Delima Yang Diungkap Al-Quran dan Sains

‘Logo’ yang dimaksud adalah tempurung kelapa dan sudah disusun tinggi, kemudian harus dihancurkan oleh lawan main menggunakan alat pemukul (panapak) sampai piramidanya roboh.

3. Cici Putri

Berikutnya, ada cici putri dari Betawi yang persebarannya cukup meluas terutama sekitaran Jabodetabek sebagai permainan tradisional anak-anak.

Permainan cici putri terancam punah dan sekarang masuk daftar Warisan Budaya Takbenda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai seni tradisi dan ekspresi lisan.

Untuk jumlah pemain cici putri ini antara tiga hingga lima orang, bahkan lebih. Selain itu, cara bermainnya juga mudah seperti tebak-tebakan.

Awalan bermain cici putri biasanya dengan melakukan ‘hompimpah gambreng’, untuk mengetahui siapa yang boleh mulai terlebih dulu.

Kemudian, orang pertama yang menang ‘hompimpah gambreng’ akan menyanyikan sebuah lirik sambil tangannya menyentuh kawan. Setiap lirik berhenti, lawan harus menyebutkan jawaban.

4. Cublak-cublak Suweng

‘Cublak-cublak Suweng’ yaitu lagu daerah asal Jawa Tengah, yang kerap kali dinyanyikan dalam sebuah permainan bernama serupa.

Permainan cublak-cublak suweng dilakukan dengan jumlah pemain tak terbatas atau lebih dari tiga.

Aturan mainnya sederhana, kebanyakan dimulai dengan ‘hompimpah gambreng’ dan yang kalah harus membungkuk menjadi ‘Pak Empo’, lalu peserta lain duduk mengelilinginya.

Setelah itu, para pemain mulai menyanyikan syair lagu cublak-cublak suweng sembari memindahkan krikil dari satu tangan ke tangan lain.

Jika syair lagu berhenti, ‘Pak Empo’ harus menebak keberadaan kerikil tersebut di tangan peserta yang mana. Kalau salah tebak, maka kembali jadi ‘Pak Empo’ dan permainan diulang.

5. Engklek

Bagi kebanyakan anak-anak pedesaan, permainan ‘engklek’ sudah sangat populer dan bisa dilakukan berdua atau lebih dari itu.

Permainan tradisional ‘engklek’ memiliki sebutan beragam untuk setiap daerahnya, seperti di pulau Jawa dikenal dengan ‘engklek’ atau ‘dolanan engklek’, lalu di suku Sunda adalah ‘sondah’.

Baca Juga :  Cara Pakai Pulse Oximeter yang Direkomendasikan WHO

Menyoal tentang sejarah, permainan ‘engklek’ ini diduga berasal dari “zondag-maandag” asal Belanda yang menyebar ke Indonesia semasa zaman kolonial.

Media bermain ‘engklek’ pun terbilang mudah, karena cukup menggambar delapan kotakan di tanah yang biasanya diukir dengan potongan kayu atau kapur.

Setelah kotakan dibuat, siapkan pecahan genteng atau sesuatu berbentuk pipih sebagai penanda yang tidak boleh diinjak pemain lain, lalu mulai melompat dengan satu kaki di atas kotakan itu.

6. Lompat Tali

Permainan karet atau lompat tali, merupakan mainan yang menggunakan kepangan karet gelang berwarna-warni dan dirangkai hingga menjadi panjang.

Lompat tali biasa dimainkan anak-anak, baik perempuan maupun laki-laki secara berkelompok atau lebih dari dua orang.

Variasi permainan tradisional lompat tali berbeda-beda setiap daerahnya. Ada yang memakai konsep nomor yaitu memulainya dari lompatan terendah sampai tinggi, ada juga yang tidak.

Kemudian ada pula konsep berputar, di mana karet akan diputar secara melingkar-lingkar oleh lawan main dan peserta lainnya harus melompat tanpa menyentuh karet yang diputar tersebut.

Konsep bermain lompat tali tidak hanya dengan nomor rendah tinggi dan berputar, ada juga yang memainkannya dengan membuat pola sesuatu seperti tebak-tebakan atau jebakan.

Permainan karet atau lompat tali, merupakan mainan yang menggunakan kepangan karet gelang berwarna-warni dan dirangkai hingga menjadi panjang.

Lompat tali biasa dimainkan anak-anak, baik perempuan maupun laki-laki secara berkelompok atau lebih dari dua orang.

Variasi permainan tradisional lompat tali berbeda-beda setiap daerahnya. Ada yang memakai konsep nomor yaitu memulainya dari lompatan terendah sampai tinggi, ada juga yang tidak.

Kemudian ada pula konsep berputar, di mana karet akan diputar secara melingkar-lingkar oleh lawan main dan peserta lainnya harus melompat tanpa menyentuh karet yang diputar tersebut.

Konsep bermain lompat tali tidak hanya dengan nomor rendah tinggi dan berputar, ada juga yang memainkannya dengan membuat pola sesuatu seperti tebak-tebakan atau jebakan.


Editor AG

Sumber cnnindonesia

  • Bagikan