Masa Pandemi Covid-19, Penjualan Album K-pop Melonjak

42
Girlband K-pop BLACKPINK. (dok. YG Entertainment via YouTube)

CR — Penjualan album fisikĀ K-pop telah menentang tren belakangan ini, terutama di tengah era serba digital dan virtual akibat perkembangan zaman dan pandemi Covid-19.

Berdasarkan data Gaon Chart, penjualan album fisik K-pop di dalam dan luar negeri diperkirakan bisa mencapai 35 juta keping hingga akhir 2020. Angka tersebut melonjak dibandingkan data penjualan pada 2019, yakni 25 juta keping album K-pop.

_

Gaon Chart merupakan tabulasi popularitas mingguan lagu dan album di Korea Selatan yang Asosiasi Konten Musik Korea (KMCA) dan disponsori Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata Korea Selatan.

Peningkatan itu sejatinya sudah terlihat dari semester pertama 2020. Pada Juli 2020, Gaon merilis bahwa 18,08 juta kopi album telah terjual dalam enam bulan. Penjualan itu meningkat 40 persen dibandingkan periode yang sama pada 2019.

“Menurut data kami sudah lebih dari 30 juta album yang terjual dari Januari-Oktober 2020,” kata Kepala Peneliti Gaon Kim Jin-woo.

“Kami memprediksikan bisa lebih dari 35 juta hingga akhir tahun karena BTS baru merilis album baru BE (Deluxe Edition). Mereka biasanya menjual lebih dari 4 juta kopi untuk setiap albumnya,” ucapnya seperti dilansir Korea Times.

Pendorong Penjualan Album

Beberapa hal mendorong peningkatan penjualan album. Salah satunya adalah pandemi Covid-19 itu sendiri. Wabah virus corona menyebabkan sebagian besar aktivitas para boyband dan girlband Korea tertunda, terutama acara seperti konser dan fan meeting baik di Korea maupun dunia.

Baca Juga :  Lagi Tidur Digangguin Anak, Reaksi Arya Saloka Manis Banget

Kim Jin-woo mengatakan ironisnya hal tersebut membuat pencinta K-pop ‘membalaskan dendamnya’ dengan membeli album fisik idola mereka.

“Karena pandemi mereka tidak bisa ke konser atau acara lainnya. Jadi mereka beralih dan menjadikan album fisik sebagai alternatif,” kata Kim Jin-woo.

Sementara itu, Profesor Antropologi Budaya di George Mason University Korea, Lee Gyu-tag, menyatakan banyak fan K-pop yang mengira membeli album merupakan kewajiban untuk mendukung bintang favorit mereka.

“Penggemar percaya bahwa menghargai tidak hanya lewat menikmati musik tapi juga dengan membeli lebih banyak album fisik untuk membantu pengembangan karier idola,” kata Lee.

“Kini juga angka penjualan album dianggap sebagai persaingan di antara para penggemar. Mereka ingin grup favorit melampaui pesaing mereka dan menunjukkan bintang mereka lebih populer.”

Di sisi lain, Lee Gyu-tag juga menyoroti strategi penjualan agensi yang membuat para penggemar K-pop semakin memiliki ketertarikan emosional untuk memiliki lebih banyak album.

Baca Juga :  Tamara Bleszynski Unggah Foto Jadul, Netizen: Enggak Ada Lawan

Satu album di Korea biasanya dijual sekitar 20 ribu won atau sekitar Rp256 ribu (1 won= Rp12,8). Album tersebut hanya memberikan satu foto (photocard) member dari sekian banyak member grup idola, bersama poster grup, photobook, dan CD musik.

Banyak penggemar yang membeli album dalam jumlah banyak demi mengumpulkan foto para member kesukaan (bias). Apalagi kini, setiap pembelian album bisa ditukarkan dengan kupon untuk diundi kemudian yang terpilih bisa berinteraksi langsung dengan idola melalui acara panggilan video.

Sehingga, sudah wajar apabila ingin memiliki kesempatan yang lebih besar maka pembelian album juga harus lebih banyak.

“Perusahaan selalu mencari metode untuk meningkatkannya. Bahkan di luar Korea, banyak penyanyi menggunakan taktik bisnis serupa dengan memberikan pizza atau hoodies kepada mereka yang membeli hard copy,” kata Lee Gyu-tag.

“Karena salah satu aliran pendapatan terbesar K-pop adalah penjualan album. Itu juga memengaruhi kinerja penyanyi di tangga musik.”


Editor AG

Melansir CNNIndonesia