Arab Saudi Konfirmasi Serangan Rudal ke Kilang Minyak Aramco

35

Internasional — Pemerintah Arab Saudi mengonfirmasi serangan rudal terhadap kilang minyak Saudi Aramco di Jeddah. Kementerian Energi Saudi menyebut aksi itu sebagai serangan teroris.

“Sebuah ledakan terjadi akibat serangan teroris oleh proyektil, yang menyebabkan kebakaran di tangki bahan bakar di terminal distribusi produk minyak di utara Jeddah,” kata Kementerian Energi Saudi dalam sebuah pernyataan seperti dikutip dari AFP.

_

Dia mengatakan tim pemadam kebakaran berhasil memadamkan api dan tidak ada korban jiwa.

Kementerian juga memastikan bahwa pengiriman bahan bakar Aramco tidak terpengaruh oleh serangan tersebut.

“Kelompok Houthi terlibat dalam serangan teroris pengecut ini, yang tidak menargetkan kemampuan nasional kerajaan, tetapi lebih menargetkan saraf ekonomi global dan pasokannya serta keamanan energi global,” kata Koalisi Militer yang dipimpin Saudi.

Baca Juga :  70 Persen Warga Korea Utara Nonton Drakor, Kim Jong Un Beri Hukuman Berat

Sebelumnya pemberontak Houthi di Yaman mengklaim bahwa mereka menyerang kilang minyak milik Arab Saudi, Aramco di Jeddah dengan sebuah rudal.

Serangan itu memicu ledakan dan kebakaran di tangki bahan bakar.

“Pasukan berhasil menargetkan stasiun distribusi Aramco di Jeddah dengan rudal Quds 2,” kata juru bicara militer Houthi Yahya Sarea pada Senin pagi (23/11).

Serangan itu terjadi sehari setelah Arab Saudi menjadi tuan rumah KTT virtual negara-negara G20.

Yahya menegaskan bahwa serangan itu sebagai tanggapan atas kelanjutan intervensi Saudi di Yaman.

Dia memperingatkan perusahaan asing yang beroperasi di Arab Saudi untuk berhati-hati sebab operasi terus berlanjut. Mereka diminta untuk menjauh dari instalasi vital.

Yaman dilanda kekerasan dan kekacauan sejak 2014, ketika pemberontak Houthi menguasai sebagian besar negara, termasuk ibu kota Sanaa.

Baca Juga :  Terinspirasi Nabi Nuh, Ahli Akan Kirim Jutaan Sperma ke Bulan

Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi terpaksa kabur setelah Houthi menduduki Istana Kepresidenan di Sanaa.

Krisis meningkat pada 2015 ketika koalisi militer pimpinan Saudi melakukan intervensi. Koalisi Saudi memulai kampanye militer di Yaman sejak Maret 2015 dengan tujuan memberangus kelompok Houthi yang didukung kuat oleh Iran.

Konflik ini disebut-sebut sebagai perang proksi antara Saudi dan Iran di kawasan karena sejumlah pihak menuding Teheran menyokong pergerakan Houthi.

Puluhan ribu rakyat Yaman meninggal akibat perang tersebut. Yaman bahkan didera krisis kelaparan dan wabah kolera.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menganggap konflik yang telah berjalan selama lima tahun di Yaman ini sebagai krisis kemanusiaan terburuk sepanjang sejarah.


Editor AG

Sumber CNNIndonesia