Cek Segera ! Wilayah dengan Prediksi Cuaca Ekstrem BMKG

43

Nasional — BNPB mengimbau masyarakat mewaspadai bahaya hidrometeorologi selama sepekan ke depan, 21-27 November 2020. Peringatan itu dikeluarkan berdasarkan prediksi cuaca ekstrem BMKG yang dirilis akhir pekan lalu.

“Bahaya tersebut dapat berupa banjir, banjir bandang, tanah longsor maupun angin kencang,” ujar Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Raditya Jati dalam keterangan pers, Minggu (22/11).

_

Prediksi cuaca ekstrem BMKG muncul setelah memantau perkembangan sirkulasi siklonik di Samudera Hindia barat Bengkulu dan di Laut Jawa selatan Kalimantan.

Sirkulasi siklonik itu membentuk daerah pertemuan/perlambatan kecepatan angin (konvergensi) yang memanjang di perairan utara Aceh, mulai dari Sumatera Utara hingga perairan barat Bengkulu, di Selat Karimata bagian utara, Papua bagian barat hingga Maluku bagian selatan, serta dari Kalimantan Tengah hingga Selat Karimata bagian selatan.

“Kondisi ini dapat meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sekitar wilayah sirkulasi siklonik dan di sepanjang daerah konvergensi tersebut,” demikian rilis BMKG yang diterima Minggu lalu juga.

BMKG menganalisis dinamika atmosfer yang tidak stabil dalam sepekan ke depan dapat meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di beberapa wilayah Indonesia.

“Kondisi tersebut diperkuat oleh aktifnya fenomena Madden Julian Oscillation (MJO) dan gelombang Rossby Ekuatorial di wilayah Indonesia dalam periode sepekan ke depan,” ujar Deputi Bidang Meteorologi Guswanto mengutip dari rilis BMKG akhir pekan lalu.

“Berdasarkan kondisi tersebut, BMKG memprakirakan dalam periode sepekan ke depan potensi cuaca ekstrem dan hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang,” tambahnya.

Baca Juga :  Fakta Penantian BLT Subsidi Gaji Masuk Rekening

BMKG memprediksi setidaknya di 30 dari 34 provinsi di Indonesia akan mengalami potensi cuaca ekstrem dan hujan dengan intensitas lebat disertai kilat-angin kencang.

Tiga puluh provinsi itu adalah Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Bengkulu, Kepulauan Bangka Belitung, Sumatera Selatan, dan Lampung.

Lalu Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, dan Nusa Tenggara Barat. Kemudian Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan.

Selanjutnya Gorontalo, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Maluku, Papua Barat, dan Papua.

Empat provinsi yang tak termasuk dalam potensi cuaca ekstrem BMKG itu adalah Bali, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sulawesi Utara, dan Maluku Utara.

“Masyarakat diimbau agar tetap waspada dan dan berhati-hati terhadap potensi cuaca ekstrem (puting beliung, hujan lebat disertai kilat/petir, hujan es, dll) dan dampak yang dapat ditimbulkannya seperti banjir, tanah longsor, banjir bandang, genangan, angin kencang, pohon tumbang, dan jalan licin,” ujar Guswanto.

Sementara itu pada Senin (23/11) pagi, BMKG mengeluarkan peringatan dini hujan sedang-lebat terjadi di wilayah Jabodetabek.

Sementara itu di Lombok Timur, NTB, terjadi hujan es pada Minggu sore. Hujan es itu dilaporkan terjadi sekitar pukul 15.20 WITA.

BMKG menyatakan hujan es yang terjadi di kawasan Montong Gading, Lombok Timur itu akibat pembentukan awan Cumulonimbus.

Berdasarkan laporan warga yang kami terima, benar adanya hujan es di wilayah Montong Gading, Kabupaten Lombok Timur, pada siang menjelang sore tadi,” kata Prakirawan Stasiun Meteorologi Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (ZAM) Levi Ratnasari.

Baca Juga :  Ramalan Zodiak 7 Januari 2021

Ia mengatakan dari hasil pantauan citra radar dan satelit, terpantau bahwa liputan awan konvektif, yakni awan Cumulonimbus terpantau di sekitar wilayah terjadinya hujan es.

Levi mengatakan terlihat suhu puncak awan Cumulonimbus terpantau sangat dingin, yakni mencapai kurang dari 80 derajat celcius.

Perlu diketahui awan Cumulonimbus atau dikenal dengan awan Cb dapat terbentuk akibat adanya pemanasan yang kuat di permukaan serta udara yang labil di wilayah tersebut.

Levi menambahkan pertumbuhan puncak awan Cb dapat lebih dari enam kilometer, di mana kandungan dari awan Cb dengan suhu puncak awan yang sangat dingin tersebut kurang dari 80 derajat celcius dapat menghasilkan butiran es.

Butiran es dapat jatuh ke permukaan juga didukung oleh kondisi dari suhu di permukaan di wilayah tersebut.

“Ketika suhu di permukaan atau daratan cukup dingin maka butiran es dari puncak awan Cb tersebut dapat jatuh masih berupa partikel es, sehingga hujan yang di hasilkan berupa butiran es,” ujarnya.

Umumnya, kata dia, hujan es terjadi dalam waktu singkat, namun diikuti terjadinya hujan lebat yang disertai petir bahkan angin kencang.

Atas dasar itu, Levi mengimbau masyarakat untuk selalu waspada dan mengenali cuaca di sekelilingnya jika teramati awan Cb, yakni awan berwarna hitam seperti bunga kol dan berlapis. Jika itu terjadi, masyarakat diminta mengurangi aktivitas luar rumah karena prediksi cuaca ekstrem BMKG.


Editor AG

Sumber CNNIndonesia