Faktor Kicauan ala Nikita Jadi Perhatian

Antropolog menilai celotehan habib tukang obat pada dasarnya adalah lelucon yang kemudian viral karena mengandung unsur emosi dan sensasi. (Noel/detikFoto)

Keributan akibat kicauan “habib tukang obat” oleh Nikita Mirzani yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir, dipandang antropolog memiliki faktor yang membuat celotehan itu menjadi kekisruhan: emosi dan sensasi.

Bukan hanya itu, akademisi antropologi UGM sekaligus Peneliti Visual-Digital Anthropology, Muhammad Zamzam Fauzanafi menilai akses media sosial yang mudah ikut mendukung situasi keributan semakin berkembang.

“Sekarang media sosial adalah piranti yang emosional. Ada sebutan social media is a emotional media, jadi dasar dari konten di media sosial dipenuhi oleh racikan-racikan emosi, sensasi,” kata Zamzam.

“Karena mudah seseorang [di media sosial] untuk memproduksi gambar, memproduksi teks foto [meme], merepitisinya, menyebarkannya,” lanjutnya.

“Itu akan membuat orang dengan cepat berkomentar, apalagi isunya yang sensasional, emosional, sensual. Mediumnya juga memudahkan orang untuk membuat isu itu cepat viral,” kata Zamzam.

Apalagi menurut Zamzam, kegaduhan itu juga menyeret nama-nama besar di balik konten tersebut, salah satunya selebritas yang memiliki banyak pengikut juga penggemar.

Sehingga, apa pun komentar dari si seleb, terutama yang menyangkut isu “sensitif, sensual, dan emosional” maka penyebarannya akan makin berlipat ganda, kata Zamzam.

Baca Juga :  Daftar Harga HP Samsung PEr 14 November 2020

Namun sejauh mana sebuah isu akan jadi viral juga dipengaruhi oleh faktor keviralan berbasis media sosial yang digunakan, seperti jumlah retweet pada Twitter, like atau komentar di Facebook, serta jumlah penonton atau pengikut di YouTube juga Instagram.

Zamzam menyebut, ada dua topik yang dapat memancing perhatian orang di media sosial. Pertama, segala sesuatu yang berhubungan dengan hal-hal sensasional: seks, kematian, agama, kebencian, kesedihan, dan kemarahan. Kedua, konten yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Ia mencontohkan selebriti jalan-jalan, selebriti sedang belanja, dan lain sebagainya. Konten yang bersifat domestik dipandang mudah menarik perhatian netizen.

“Kehidupan sehari-hari yang seolah-olah dekat dengan kita, artis yang melakukan kegiatan yang biasa saja, tapi karena itu biasa saja maka kita merasa dekat dengan pengalaman itu, ‘oh iya mereka juga seperti kita’,” kata Zamzam.

“Tapi tidak benar-benar mirip, seperti ada jarak, konten-konten seperti ini yang membuat ramai,” lanjutnya.

Baca Juga :  HUT Ke-75 TNI, Kapolda Bengkulu Berikan Kue Ulang Tahun Ke Danren Gamas

Perilaku Netizen

Sementara itu, untuk kasus kegaduhan akibat ucapan Nikita soal “Habib tukang Obat”, Zamzam menilai hal ini juga dipengaruhi oleh perilaku netizen di media sosial yang terpecah menjadi dua: setuju dan tidak setuju.

Kedua pihak tersebut pun punya andil yang sama dengan celotehan itu: merespons sehingga secara alami menyebar dan viral. Hal ini senada dengan yang disampaikan oleh pakar media sosial Ismail Fahmi, beberapa waktu lalu.

“Misal Nikita Mirzani yang menyebut habib tukang obat, meskipun dia tidak menyebut Habib Rizieq sebagai tukang obat secara langsung, orang langsung responnya ke situ,” kata Zamzam.

“Dan ada orang yang merasa berada di dalam posisi yang sama dengan Niki, yang mungkin belum berani untuk menyerang Habib Rizieq dan pengikutnya,” lanjutnya.

Ia juga melihat bahwa unggahan bernada kontroversial yang datang dari Nikita Mirzani bukan sebuah upaya untuk menggalang massa di media sosial.

Unggahan tersebut ia pandang sebagai unggahan biasa dan dilakukan tanpa ada maksud untuk memperjuangkan salah satu golongan ataupun ideologi.

Baca Juga :  Spesifikasi iPhone 12 Mini, iPhone 12 dan Harganya

“Kelihatan kan dia lagi santai, lalu baca berita, ada kemacetan, spontan aja, malah seperti mau melucu aja dia bilang tukang obat,” kata Zamzam.

“Media sosial memang wilayah itu, wilayah orang mengekspresikan emosi termasuk kebencian, dengan membuat komentar yang lebay, termasuk dibuat lucu, supaya orang ikut dalam perbincangan itu,” lanjutnya.

Kondisi Nikita ini dipandang berbeda bila dibandingkan dengan isu yang dibuat karena ada agenda tertentu. Zamzam mencontohkan dengan kasus dugaan penistaan agama yang melibatkan mantan gubernur DKI, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, beberapa tahun lalu.

Zamzam memandang kejadian itu berkaitan dengan politik elektoral atau politik praktis, sedangkan ia lihat Nikita tidak memiliki agenda politik apapun.

“Jika dibandingkan dengan kasus Nikita Mirzani, tidak ada hubungan dengan politik langsung. Sehingga tidak ada upaya untuk memantau isu ini akan berjalan lama, karena arahnya lelucon,” kata Zamzam.


SC CNNIndonesia