Data Penerima BSU Bocor Bukan dari Kemendikbud

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) sedang mendalami sumber kebocoran data guru dan tenaga kependidikan penerima bantuan subsidi upah (BSU) Rp1,8 juta yang beredar di publik.

“Kami sudah telusuri itu bukan kebocoran dari Kemendikbud dan masih kami telusuri sumbernya,” katanya Dilansir CNNIndonesia.com melalui pesan singkat, Jumat (20/10).

Namun ia tidak menampik maupun membenarkan bahwa data tersebut adalah milik guru dan tenaga kependidikan peserta BSU dari Kemendikbud.

“Tanggapan terhadap hal ini kami sudah buatkan dan mungkin tidak lama lagi keluar melalui satu pintu,” lanjutnya.

Kepala Pusat Data dan Informasi Kemendikbud Hasan Chabibie juga menampik ada kebocoran yang berasal dari data di Kemendikbud.

Baca Juga :  Ratusan Pegawai RSUD Moewardi Solo Dinyatakan Positif Covid-19

“Tidak terjadi kebocoran data pada sistem Data Pokok Pendidikan (Dapodik),” ujarnya kepada CNNIndonesia.com.

Dia mengatakan pihaknya masih terus melakukan investigasi dalam insiden ini. Ia pun menyatakan Kemendikbud selalu berkomitmen menjaga perlindungan data pribadi yang dikelola dalam sistem pendidikan dan tenaga kependidikan nasional.

Dugaan tersebut mulanya datang dari Perhimpunan untuk Pendidikan dan Guru yang menemukan ratusan data guru dan tenaga kependidikan yang tersebar di grup percakapan guru.

“Sampai-sampai ada nomor induk kependudukan, nomor rekening yang bersangkutan, bahkan nama ibu kandungnya. Kami sangat menyayangkan data pribadi ini bocor dan tersebar ke publik melalui WAG,” kata Koordinator Nasional P2G Satriwan Salim melalui keterangan tertulis, Jumat (20/10).

Baca Juga :  12 Mei Hari Perawat Sedunia di Era Pandemik dan Bagi Perawat Tanah Air

Kejadian ini menurutnya tak seharusnya terjadi jika Kemendikbud dan pihak bank bisa menjaga kerahasiaan data pribadi peserta. Pendaftaran BSU itu dilakukan langsung oleh guru ke Kemendikbud, bukan melalui pihak ketiga.

Kepala Bidang Advokasi Guru P2G Iman Z. Haeri pun menyinggung latar belakang Mendikbud Nadiem Makarim yang seharusnya memahami perkara keamanan digital. Apalagi, dugaan ini bukan pertama kali terjadi dalam program di bawah naungannya.

“Kalau kecolongan lagi, ini mirip kejadian percakapan dalam penyederhanaan draf kurikulum beberapa waktu lalu. Kali ini yang bocor data guru. Dapat bantuan subsidi saja belum, datanya sudah bocor. Miris sekali nasib guru honorer,” ujarnya.

Baca Juga :  Gubernur Banten Tinjau KRL dan Check Point di Tangerang

Ia sendiri khawatir datanya ikut bocor karena insiden ini dan dimanfaatkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Saat ini ia juga berprofesi sebagai guru honorer.

Untuk mendapat BSU ini, peserta harus mendaftarkan diri secara mandiri dan membuat rekening baru. Nantinya insentif akan langsung ditransfer ke rekening itu.

BSU diberikan kepada 2.034.732 guru dan tenaga kependidikan non pegawai negeri sipil (PNS) selama masa pandemi covid-19. Setiap guru mendapat Rp1,8 juta sebanyak satu kali.


Dilansir CNNIndonesia