Heboh ! Meteor Seharga Rp26 Miliar

Meteorit yang timpa rumah warga di Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. (Foto: Abdi Somat Hutabarat/detikcom)

Sumut – Heboh fenomena meteor jatuh di Desa Satahi Nauli, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara menjadi sorotan masyarakat Indonesia. Pasalnya, meteorit yang ditemukan oleh Josua Hutagalung tersebut dimungkinkan mencapai Rp26 miliar.

Menanggapi harga batu meteor tersebut, Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Eko Budi Lelono mengatakan akan segera mengecek mengenai jatuhnya meteorit pada rumah Hutagalung. Hal ini untuk mengecek kelangkaan dari batu tersebut.

Baca Juga :  Jokowi Pimpin Upacara Hari Pahlawan di TMP Kalibata

Dirinya menjelaskan, harga batu meteor yang jatuh tersebut tergantung bahan dasarnya. Apalagi jika meteor tersebut langka, maka harga jualnya tinggi.

“Mungkin karena langka, sehingga harganya mahal,” bebernya dilansir Okezone, Jakarta, Kamis (19/11/2020).

Sebelumnya, pria di Desa Satahi Nauli, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, bernama Josua Hutagalung pada 5 Agustus lalu menemukan sebuah batuan luar angkasa atau meteorit. Batu tersebut diperkirakan berusia 4,5 miliar tahun dan diklasifikasikan sebagai Chondrite berkarbon CM1 / 2, varietas yang sangat langka, dan nilainya sekira USD1,85 juta atau setara Rp25 miliar.

Baca Juga :  Bawa HP 5G, Oppo Minta Izin Kominfo

Menanggapi peristiwa ini, Kepala Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN) Thomas Djamaluddin mengatakan itu merupakan meteorit biasa. Museum Geologi Bandung biasa mengidentifikasinya.

“Itu batu meteorit biasa. Museum Geologi Bandung yang biasa mengonfirmasinya,” ungkap Thomas.

Baca Juga :  Pelanggar Prokes Disanksi Sosial dan Push Up DI Kabupaten Kepahiang

Lebih lanjut ia mengungkapkan bahwa meteorit di Sumut itu merupakan objek yang biasa jatuh dari langit, sama seperti benda luar angkasa lainnya. Menurut Thomas, Museum Geologi Bandung memiliki banyak opsi dari temuan ini, tetapi tidak mengetahui prosedur yang akan dilakukan.

“Jadi Museum Geologi biasanya sekadar mengidentifikasi jenis meteorit. Mungkin pula mengoleksinya. Saya tidak tahu prosedurnya,” papar Thomas.


SC Okezone