Sejarah Sungai Tallo & Viral Buaya Jelmaan Manusia di Makassar

Makassar Warga Jalan Urip Sumohardjo, Kota Makassar, Sulawesi Selatan belum lama ini digegerkan oleh kemunculan buaya di Sungai Tallo. Buaya itu diyakini merupakan jelmaan manusia.

Seorang warga Jalan Paccinang, Kelurahan Tallo Baru, Kecamatan Panakukkang, Kota Makassar berhasil menangkap karnivora buas berukuran sedang itu.

Masyarakat meyakini jika buaya tersebut merupakan kembaran salah seorang anggota keluarganya yang telah meninggal dunia. Dalam video yang diunggah akun Instagram @info_kejadian_makassar, tampak buaya dikerumuni warga.

Video buaya yang jadi tontonan warga itupun menjadi viral di media sosial. Setelah dibawa pulang, buaya kemudian diselimuti kain hingga diberi makan layaknya seorang manusia. Namun belakangan diketahui, buaya berukuran 1,5 meter tersebut akhirnya mati dan telah dikubur di pinggir Sungai Tallo.

Baca Juga :  Ormas Ramai-ramai Desak Jokowi Buat Perppu Batalkan Ciptaker

Mitos tentang manusia memiliki kembaran seekor buaya memang telah turun temurun jadi kepercayaan masyarakat Bugis. Orang Suku Bugis meyakini bahwa sebagian dari mereka punya kembaran berwujud buaya, sekalipun di zaman modern seperti saat ini.

Sejarah Sungai Tallo

Kemunculan buaya diduga jadi-jadian tersebut tak terlepas dari keberadaan Sungai Tallo. Ya, nama sungai tersebut diambil dari nama kerajaan Tallo. Yaitu kerajaan Suku Makassar yang terdapat di Sulawesi Selatan. Kerajaan Tallo erat kaitannya dengan Kerajaan Gowa.

Baca Juga :  Bengkulu Kembali DiGuncang Gempa M 5,4 , Tidak Berpotensi Tsunami

Menyitir laman makassarkota.go.id, pada pertengahan abad XVI, Tallo bersatu dengan Kerajaan Gowa dan mulai melepaskan diri dari Kerajaan Siang. Mereka bahkan menyerang dan menaklukkan kerajaan-kerajaan di sekitarnya.

Imbas kian gencarnya kegiatan pertanian di hulu Sungai Tallo, menyebabkan pendangkalan sungai itu sehingga bandarnya dipindahkan ke muara Sungai Jeneberang.

Di sinilah cikal bakal terjadinya pembangunan kekuasaan kawasan istana oleh para keturunan raja Gowa-Tallo yang selanjutnya membangun pertahanan Benteng Somba Opu, yang seabad kemudian masuk dalam wilayah inti Kota Makassar.

Sungai Tallo bermuara di dua kabupaten/kota antara Kota Makassar dan Kabupaten Gowa, serta bermuara di Selat Makassar.

Sungai tersebut memiliki panjang 10 kilometer. Seiring berjalannya waktu, sungai sarat nilai sejarah itu kemudian menjelma menjadi destinasi wisata alternatif di Sulawesi Selatan.

Baca Juga :  Rupiah Tertekan ke Rp14.150

Melansir laman Makassar Guide, Sungai Tallo cukup kaya dengan vegetasi. Di mana tumbuhan hijau menyejukkan mata sangat dominan di sisi kiri dan kanan sungai.

Di sekitarnya juga terdapat kampung-kampung tradisional dengan jejeran rumah panggung tradisional khas Tanah Daeng.

Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar sendiri telah menetapkan Sungai Tallo sebagai jalur transportasi air.

Kegiatan susur sungai dengan perahu tradisional dapat menjadi wisata alternatif bagi mereka yang menyukai tantangan. Penyusuran ini dapat memakan waktu sekitar satu jam dengan lintasan sepanjang lebih kurang 6 kilometer.


Sc (okezone|put)