Penghitungan Suara di 3 Negara Bagian Digugat Tim Donald Trump

  • Bagikan
318e12dc donald trump 9 169

Internasional — Tim pemenangan Capres petahana Amerika Serikat (AS) Donald Trump sejauh ini telah melayangkan gugatan untuk menghentikan penghitungan suara Pilpres AS 2020 di tiga negara bagian.

Tiga negara bagian itu adalah Pennsylvania, Nevada, dan Georgia. Sejauh ini, pesaing Trump, Joe Biden unggul atas Trump berdasarkan perhitungan cepat yang dipantau via CNN dan Fox News pada Kamis (5/11) pagi WIB.

Dalam gugatannya tersebut, tim hukum Trump menyebut pemantau dari pihaknya kesulitan mendapat akses sedekat mungkin untuk melihat proses penghitungan suara Pilpres AS.

Seperti dilansir dari AP, Deputi Manajer Kampanye Trump, Justin Clark, mengatakan pihaknya juga meminta Mahkamah Agung untuk meneliti keabsahan surat suara lewat pos yang diterima tiga hari sebelum penghitungan.

Selain gugatan di tiga negara bagian tersebut, tim kampanye Trump juga mendesak penghitungan ulang di negara bagian Wisconsin. Berdasarkan penghitungan cepat, Joe Biden berhasil menang di negara bagian tersebut.

Menanggapi hal gugatan tim Trump, juru bicara Joe Biden, Andrew Bates, mengatakan penghitungan suara harus tetap dilanjutkan di semua negara bagian.

“Tidak ada yang akan mencuri demokrasi kita, dari kita. Tidak sekarang, tidak selamanya,” ujar Bates dalam pernyatannya.

Sementara itu, meskipun gugatan dilayangkan, sejumlah negara bagian tetap melakukan penghitungan suara, termasuk pula di Pennslvania.

Baca Juga :  Polri Bantah Video Viral Polisi Menyamar Massa Aksi Mahasiswa

Seperti dilansir dari CNN, Gubernur Pennsylvania, Tom Wolf memastikan integritas penghitungan suara Pilpres AS 2020 yang berlangsung di wilayahnya saat ini, Rabu (4/11) malam waktu setempat atau Kamis (5/11) pagi WIB. Dia pun menjamin transparansi dan akuntabilitas proses penghitungan yang digelar terbuka tersebut.

“Saya kira ini sudah ditayangkan langsung secara streaming di situsnya [panitia penghitungan suara], jadi saya kira siapapun bisa melihatnya, setiap orang bisa melihatnya dari manapun di dunia ini,” ujar Tom Wolf menanggapi gugatan hukum tim kampanye capres petahana Donald Trump untuk menghentikan penghitungan suara.

“Jadi, saya tidak yakin lagi bagaimana kurangnya transparansi ini. Bagi saya, ini tidak pernah lebih transparan dibandingkan sekarang,” imbuhnya.

Sementara itu, Sekretaris Negara Bagian Pennsylvania Kathy Boockvar mengatakan dia tak bisa mengomentari proses litigasi atas gugatan tim kampanye Trump. Meskipun demikian, dia menjamin negara bagian Pennsylvania akan “melawan setiap upaya untuk menghentikan pemungutan suara kapan saja”.

Sebelumnya pada Kamis pagi WIB atau Rabu waktu setempat, para pendukung Donald Trump melakukan aksi di depan fasilitas tempat penghitungan suara, TCF Center, Kota Detroit, Michigan.

Mereka menuntut penghitungan suara yang berlangsung di sana dihentikan sementara.

Baca Juga :  Bitcoin Tembus Rekor Tertinggi Rp883 Juta Akhir Pekan Lalu

Hentikan penghitungan! Hentikan penghitungan!,” demikian teriakan Republikan berulang-ulang di luar TCF Center.

Berdasarkan pantauan dari rekaman video demonstran yang diunggah ke media-media sosial, termasuk Twitter, terlihat para polisi berjaga di luar TCF Center mencegah massa Republikan merangsek ke dalam fasiltas tersebut.

“Biarkan kami masuk,” ujar salah satu pengunjuk rasa di luar fasilitas TCF Center di Kota Detroit tersebut.

Di Negara Bagian Michigan sendiri, berdasarkan hitung cepat yang dilansir dari CNN dan Fox News, berhasil dimenangkan Biden.

Sementara itu di New York, massa pendukung Biden melakukan aksi tandingan mendesak penghitungan suara terus dilakukan.

Seperti dilansir AFP, para pendukung Biden di New York melakukan aksi damai dengan berjalan kaki dari mulai Fifth Avenue menuju Washinton Square Park yang brada di jantung Manhattan.

Kekinian, merujuk pada penghitungan CNN, Biden sementara unggul dengan 253 suara elektoral. Sedangkan Donald Trump, mendapatkan 213 suara elektoral. Sementara itu, Fox News sejauh ini menyatakan Biden unggul dengan 264 suara elektoral, sementara Trump di belakangnya dengan 214 suara elektoral.

Untuk diketahui, kandidat capres harus mendapatkan 270 dari 538 suara elektoral untuk bisa memenangkan pilpres AS.


AG

Source CNNIndonesia

  • Bagikan