Cerpen : Dinamika Aku, Kamu Dan Dia

  • Bagikan
c60d9ddf images 76

Sponsored By Lapaksomplaq

Prolog

“Dirman, keluar, ada yang jenguk lu” “Siap bos” Aku hanya bisa melihat teman satu kamar ku melangkah keluar dengan perasaannya yang gembira, tercetak jelas dari lebarnya senyuman berhiaskan deretan gigi ompong.

Dibalik jeruji dia melihatku sekilas, membuatku terpaksa tersenyum lemah supaya dia memantapkan langkahnya. Dia, teman sekamarku untuk 4 tahun kedepan, berhak untuk bertemu sanak saudaranya.

Satu-satunya yang tetap menjaganya waras untuk sepanjang umurnya di kamar berdinding polos tanpa jendela ini. Sementara aku sendiri? Harus cukup puas dengan salam semangat dari keluarga Dirman yang menjenguknya.

Sepeningggalnya Dirman, aku mengeluarkan selembar foto dari sebuah kitab yang sudah ratusan kali kubaca, kitab yang dulu tak pernah kusentuh sama sekali. Selembar foto yang mulai lusuh inilah pengingatku.

Pengingat untuk dosa-dosa yang harus kutanggung seumur hidup. Pengingat untuk kebodohanku, yang menyerah pada nafsu sesaat.

Kusentuh foto lusuh ini, melihat penuh rindu pada senyuman seorang ibu, senyuman bangga seorang ayah, senyuman jahil bocah-bocah kembar fraternal, dan senyuman seorang pemuda yang bodoh diantara mereka.

Ya, bodoh, karena menyia-nyiakan hidupnya hanya demi nafsu sesaat.
Andai waktu bisa kuputar kembali …

Di sebuah kafe pada sore yang cerah

dd0f914d images 73
Cerpen : Dinamika Aku, Kamu Dan Dia 4

Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling kafe dengan mode radar VERA-NG. Setelah sukses menemukan targetku, aku melambai penuh semangat kearahnya, mengabaikan teman disebelahku yang menggeleng-geleng putus asa.

“Yuk, itu dia” aku langsung menarik tangan temanku dan menyeretnya dengan sepenuh hati, tidak perduli dengan rentetan omelannya.

“Hai cowok, udah lama nunggunya?”

Aku menyapanya dengan senyumku yang manis ini. Manis dong, buktinya senyuman ini mampu melelehkan gunung es dihatinya.

“Gak kok, baru … baru sejam’an disini”

Aku mulai terbiasa dengan sarkasme cool nya. Sarkasme yang membuatku semakin gemas dengan wajah imut-imutnya.

“Dah kan? Lu dah ketemu sama cowok culun lu kan? Gua cabs dulu ya, ogah banget gua jadi obat nyamuk lu bedua. Mending kalo dibayar, boro-boro ini mah …”

“Eits, gak bisa. Janji is janji. Pokoknya hari ini elu harus nemenin gue” aku segera memotong celotehan temanku yang tomboy ini, bahaya kalau dibiarkan lama-lama.

Sementara dia akan protes diawali dengan pelototan matanya, sebuah suara yang akhirnya menyudahi debat kami

“Masih lama?”. Singkat, padat, gemesin.

“Hehehe … udah kok. Yuk, jalan” segera kugandeng tangan calon suamiku. Tak lupa tentunya sambil menyeret sahabat terbaikku semenjak SD ini.

Ya, pria ini adalah calon suamiku. Anthony, satu-satunya laki-laki yang mampu mendapatkan kesetiaanku secara total. Bukan hanya karena dari paras wajahnya, tapi dari kecerdasan dan kepribadiannya.

Terkadang aku seperti bermimpi, bisa dapat seorang calon imam yang begitu sempurna. Setidaknya itu menurut kakak-kakakku yang bisa dibilang iri dengan keberuntunganku.

Sementara disebelahku, sahabat terbaik yang selalu setia menemaniku semenjak kecil. Fatimah, seorang muslimah ayu dengan kepribadian yang jauh bertolak belakang.

Pengomel, anti rok, ketus (hanya terhadap kaum adam), dan segudang kriteria lainnya, you name it, yang membuat dia layak disebut singa betina. Namun untuk kesetiaannya, terutama ke teman-temannya, tidak perlu diragukan lagi.

Butik penuh cerita

Lihat postingan ini di Instagram

Tunik Wanita – LLS 995

Sebuah kiriman dibagikan oleh Lapak Somplaq (@lapaksomplaq) pada

Akhirnya kami sampai di butik yang cukup mentereng di kota ini. Dengan semangat bak anak kecil di toko mainan, aku segera melompat dari mobil begitu sang supir, sekaligus calon suamiku, memarkirkan mobilnya.

Bergegas aku berlari-lari kecil menuju pintu butik. Sesampainya disana, aku berbalik badan menunggu mereka berdua yang bahkan belum keluar dari mobil. Aku melipat kedua tanganku dan melotot kearah mobil, supaya mereka yang masih di mobil tiga meter jauhnya dari tempatku berdiri sekarang bisa melihat aku yang berpura-pura marah ini.

Cukup lama aku menunggu, apa mereka dandan dulu di mobil? Capek juga rasanya harus tetap berpura-pura marah selagi menunggu mereka.

Dan akhirnya, mereka keluar juga dari mobil dan berjalan beriringan menghampiriku.

“Lama amat di mobil. Ngapain? Dandan?” “Ngggg … anu … itu tadi …” “Fatima jatuhin HPnya tadi” jawaban singkat ditambah tangannya yang mengacak-acak rambutku sukses membuyarkan sandiwara marahku ini.

“Aaahh … kan kusut jadinya. Udah ah, yuk masuk” aku segera menarik tangan Fatimah, seperti kebiasaanku, yang hanya menundukkan kepalanya. Sementara sang (calon) suamiku hanya geleng-geleng seraya tersenyum.

Didalam butik, aku segera mencoba satu-persatu baju yang ditawarkan pramuniaganya. Aku yang memang tidak punya taste of fashion sama sekali hanya bisa manggut-manggut ke setiap baju yang disodorkan padaku.

Itulah gunanya aku menculik si fashion blogger nasional yang mulai merambah ke mancanegara ini. Dia dengan cerewetnya memberi kritik untuk setiap baju yang datang silih berganti.

Syukurlah dia sudah kembali ke dirinya semula, setelah tadi sempat murung sesaat di pintu masuk. Walaupun itu berarti harus menerima tatapan sinis dari si pramuniaga yang harus bolak-balik mengantarkan baju lain sampai sesuai dengan kriterianya, kami sudah biasa kok.

Walaupun ini baju untuk hari pernikahanku nanti, tapi aku mempercayakan sepenuhnya ke Fatimah. Karena ini baju yang sangat spesial bagiku, baju yang kuingin hanya kupakai sekali seumur hidupku.

Dan karena dia yang jadi konsultan fashion abadiku semenjak zaman seragam putih-biru dulu, maka dia otomatis jadi orang yang sangat mengerti bagaimana membuatku jadi ratu sehari nanti.

Setelah beberapa jam yang tidak terasa karena antusiasku dan semangat mengkritik dari sang fashion blogger ternama ini, akhirnya kami menemukan satu baju yang cocok.

Aku tidak perduli dengan label harga yang menampilkan angka dua puluh juta, aku harus memiliki baju indah dan mempesona ini.

Segera aku menyerahkan ke pramuniaga yang kurang beruntung karena melayani kami hari ini, untuk dibungkus serapi-rapinya.

Saat akan ke ruang tunggu untuk melapor ke sang donatur, tiba-tiba Fatimah berhenti dan menutup mulutnya. Dia terbungkuk dan mengeluarkan suara seperti akan muntah.

“Ti, elu gak pa pa?” aku mengusap-usap punggungnya dengan khawatir.

Kenapa Fatimah? Padahal tadi pagi dia kelihatan segar bugar. Kami juga sudah sarapan sebelum berangkat ke kafe.

“Gua gak pa pa, palingan masuk angin doang” “Aduh, jangan sakit dong Ti, elu kan bridesmaid gue. Ya udah, abis ini kita langsung ke dokter aja, biar …”

“Eh, gak usah gak usah. Gak perlu. Gak pa pa, gua cuman masuk angin biasa doang ini. Ntar dikerokin Umi dirumah juga palingan udah minggat ini masuk angin. Udah, lu kedepan aja duluan, laporan dulu sono sama donatur lu tuh. Kasian udah bengong berjam-jam nungguin sendirian”

“Yakin Ti?”

“Iya bawel. Udah buruan sana. Gua mau ke toilet bentar” seraya melambaikan tangan seolah-olah mengusirku. “Gue tungguin di depan ya Ti?” yang dijawab dengan anggukan ringan.

Diruang tunggu, aku melihat priaku terlelap nyaman di sebuah sofa yang disediakan khusus untuk para pengunjung yang sedang sial.

Sial karena harus menunggu pasangannya yang sedang asyik memilah outfit terbaik hingga lupa waktu.

Pelan ku sentuh pipinya. “Ton …” bisikku lirih di telinganya.

“Udah?” jawabnya dengan mata yang masih tertutup.

“Udah. Maaf, lama ya?”

“Gak, bentar kok. Cukuplah buat tidur siang” aku tersenyum mendengar sarkasmenya.

Dia membuka mata, berdiri, meregangkan badan “Ya udah, yo ke kasir”

“Anu … enggg … harganya …”

“Semilyar juga bakal kubayar. As long I keep those beautiful smile” Ingin rasanya aku menabrak lelaki didepanku ini, memeluknya sekuat tenaga, menciumnya tanpa henti. Untung masih ada sedikit bagian otakku yang masih bekerja, mengingatkanku bahwa ini tempat umum.

Di kasir, tiba-tiba Anthony menoleh ke kanan-kiri.

“Mana Fatimah?” “Dia ke toilet dulu. Kayaknya dia masuk angin” “Masuk angin?” tiba-tiba dahinya mengernyit “Iya, tadi dia nya sih bilang gitu” “Abis ini langsung ke dokter aja kita” “Tadi udah ditawarin, dia nya gak mau. Katanya dikerokin Umi aja ntar di rumah” mendadak dia terkekeh “Cakep cakep kerok’an” wajahnya yang tadi terlihat khawatir kini diganti wajah yang terlihat geli.

Aku pun ikut nyengir. Setelah menyelesaikan pembayaran di kasir, Fatimah baru kembali bergabung dengan kami.

“Kamu gak pa pa?”

“Eh …iya … gak pa pa kok …” aku terkikik melihat reaksi Fatimah “Napa lu? Bahagia amat liat temen lagi menderita” “Gak, cuma … singa betina nya lagi melempem” tawa ku pun pecah, mengabaikan matanya yang melototiku “Udah udah, ayo ke dokter sekarang” “Gak perlu, gua bisa sendiri” “Yaaah … singa nya balik” aku menimpali dengan susah payah karena tawaku yang tak kunjung usai “Gua balik sendiri nih?” “Eh eh, pake ngambek’an. Gak seru elu ah. Iye iye, gue diem nih” segera aku menyembunyikan wajahku ke lengan kekar pria macho disebelahku, meredam tawaku agar tak lebih meledak lagi. Kamipun berjalan beriringan meninggalkan butik.

Rumahku istanaku

7a12ff31 images 75
Cerpen : Dinamika Aku, Kamu Dan Dia 5

Sesampainya di depan rumahku, aku segera menoleh kebelakang “Ti, istirahat di rumah gue aja ya? Ntar kalo udah enak’an baru pulang” “Gak usah Syg, gua pulang aja. Yang ada ntar malah bikin repot lagi” “Hadeeeh … Ti, kayak rumah siapa aja elu bikin. Pan elu bolak-balik tidur dirumah gue, ada kali jutaan kali. Elu kan udah jadi anak idaman nyokap …” “Tasya Kamila, di rumah lu kan lagi rempong nyiapin si tuan putri ini mo kawinan.

Masa harus ditambah ribet ngurusin gua. Udah, gua dirumah di was wus sama Umi pake uang gopek’an juga sembuh ntar. Tenang aja …” “ehem … permisi ibuk ibuk, ini argonya jalan terus lho” seketika aku menoleh ke arah sang supir yang sempat terabaikan. “Eh iya, maaf pak, buru-buru amat si bapak” aku cuma bisa nyengir.

“Ton, gak pa pa kan nganterin Fatimah?” “Udah biasa kok jadi supir grab dadakan, tenang aja” tidak kuat lagi menerima godaan oleh sarkasmenya, tanpa pikir panjang aku langsung mencium pria pencuri hatiku ini.

Hanya beberapa detik, tapi bagiku terasa lama seolah disentuh freeze time effect. “Ehem … hellooowww, ini dibelakang orang-orangan sawah, gak usah peduliin, dunia cuma milik lu bedua kok, gua kan ngekost di planet ini …” rentetan omelan membuat ku terpaksa menyudahi ciuman dadakan ini. “Iya iya, maap maap … hehehe” aku memberikan cengiran maut ku, senjata andalan untuk menghadapi teman yang lagi sewot “Get well soon ya Ti, harus. Inget, elu pan jadi bridesmaid gue …” “Iya iye bawel, udah buruan, biar cepat gua nyampe rumahnya nih” kali ini, aku tersenyum ke sahabat terbaikku. “Ton, titip Fatimah ya” “Siap bos” sebuah cengiran terkembang di wajahnya, momen langka yang mungkin terjadi hanya sekali seabad. Sayang, sahabat terbaikku lebih menjadi prioritas saat ini, sehingga aku harus mengalah menikmati momen ini. Mungkin lain kali. Kubuka pintu, melangkahkan kakiku keluar. Aku mengiringi kepergian mereka dengan lambaian tanganku.

Pernah melihat kesibukan sebuah hotel yang kedatangan seorang presiden untuk bermalam di hotelnya? Kira-kira seperti itulah kesibukan rumahku saat ini. Rangkaian mantra berupa perintah, omelan, dan teriakan, bersahut-sahutan satu dengan lainnya. Namun seolah punya kartu bebas penjara dalam permainan monopoli, para keponakan yang jumlahnya bisa membentuk satu tim sepak bola kompak membuat komunitas mereka sendiri di depan televisi yang menayangkan berita, reality show, kontes kuliner, kartun, komedi stand up, dan beragam acara lainnya, tergantung siapa pemegang remote. Namun tiba-tiba sebuah teriakan yang cukup menarik perhatianku “Idiiiihhh … jilbab’an mesum, kan kegrebek kan jadinya …” aku mendadak penasaran dan memutuskan ikut bergabung sejenak. “Eh eh, ini bocah bocah nontonnya ginian. Gak pantes, gak sesuai umur” “ini seru tau calon mpok-mpok …” kurang ajar, tidak sopan “… ada berita pasangan mesum digrebek di apartemen Tiga Dunia” aku tersentak. Apartemen Anthony juga disana. Lebih kufokuskan perhatianku sekarang ke acara televisi yang sedang kami tonton sekarang. Layar kaca menampilkan seorang pemuda, yang mukanya ditutupi, diseret keluar kamar. Sementara sang wanita menangis meraung-raung, sehingga dicoba ditenangkan oleh para petugas wanita. Eh, jilbab itu … baju itu … bukankah itu … ruangan seolah-olah berputar di sekitarku, pikiranku mendadak kosong. Tumpukan piring yang tadi kubawa terlepas dari tanganku yang saat ini tidak merasakan apapun. Bunyi piring-piring pecah membuat kumpulan bocah di depanku terdiam, menyita perhatian seisi rumah, setelah itu gelap …Rooftop apartemen Tiga Dunia, tiga bulan kemudian …

Air mataku tidak berhenti mengalir. Semua sudah tidak bisa ditarik lagi. Nasi sudah jadi bubur. Kuambil handphone ku, kuketikkan kata-kata penyesalanku yang paling dalam, permintaan maafku dari lubuk hatiku paling dalam. Setelah tidak mampu lagi otak ini untuk berpikir apa lagi kata-kata yang pantas untuk kusampaikan, langsung kutekan tombol kirim ke nomor yang kini memandangku hina. Yang dengan histerisnya menyumpahiku dengan segala macam sumpah serapah di pertemuan terakhir kami. Centang dua, syukurlah nomorku belum diblokirnya. Setelah memastikan pesanku terkirim, kulempar handphone ku ke belakang secara serampangan. Aku tidak perduli lagi. Aku melangkah kedepan sambil mengelus-elus perutku, tangisku pun semakin menjadi. “Maafin ibu ya nak, ibu gak sanggup lagi. Biarlah ibu bawa kamu sama ibu, daripada kamu nanti harus merasakan penderitaan karna ulah ibumu ini. Maaf ya nak, ibu minta maaf, ibu cuma bisa maaf sama kamu …” tak sanggup kuteruskan monologku. Kututup mataku yang tiada hentinya mengalirkan air mata laksana air terjun. Kuayunkan langkah terakhirku, hingga akhirnya aku merasakan kencangnya terpaan angin di wajahku.

End

Lihat postingan ini di Instagram

Diego Gris . 🛍️ Tentang Produk : MATERIAL – Outsole : Thermoplastic Rubber – Insole : EVA Sponge & Matte Leather Coating – Upper : Polyvinyl Chloride Strop UKURAN (Standard EUR) – 39 : 26.1 cm – 40 : 26.8 cm – 41 : 27.5 cm – 42 : 28.1 cm – 43 : 28.8 cm Nota Bene : yang tercantum di atas merupakan size beserta panjang sendal/sandal. PACKAGING – Berat : 0.95 kg – Dimensi : 33 cm x 16 cm x 11 cm . 💰 Harga : Rp. 149.000 ❌ Rp. 119.000 ✅ . 🎁 Gunakan kode kupon ⏭️ SOMPLAQ ⏮️ saat CHECKOUT untuk diskon tambahan . 😍 Why Us? : 💯 persen produk lokal 🇮🇩 Anti ribet 😎 Harga obral #eeh masih ada diskon tambahan 🤩 . #sendal #sandal #sendalpria #sandalpria #lapaksomplaq

Sebuah kiriman dibagikan oleh Lapak Somplaq (@lapaksomplaq) pada


Penulis : Lapak somplaq

Editor AG

Baca Juga :  Cerpen : One Last Kiss
  • Bagikan
Positive SSL