Suntik Mati TV Analog Tinggal Tunggu Jokowi Teken UU Ciptaker

  • Bagikan
e0ec8f73 id fhd t5500 ua43t6500akxxd frontblack 229359102
ilustrasi tv digital (foto samsung.com)

CR — Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) menyatakan migrasi dari TV analog ke TV digital tinggal menunggu RUU Cipta Kerja Omnibus law ditandatangani Presiden Joko Widodo.

Direktur Penyiaran Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Pos dan Informatika Kemkominfo, Geryantika Kurnia mengatakan migrasi TV analog ke TV digital atau Analog Switch-Off (ASO) akan mematikan penggunaan TV analog di seluruh Indonesia.

Menkominfo menargetkan TV analog akan dimatikan dalam 2 tahun ke depan sesuai dengan ayat 2 Pasal 60A dalam RUU Ciptaker.

“Disampaikan menteri bahwa ASO ini 2 tahun. Jadi kalau misalkan 5 November ditanda tangan presiden, berarti Indonesia akan hentikan siaran analognya pada 5 November 2022,”  kata Gery dalam webinar, Rabu (21/10).

Gery juga migrasi TV analog ke TV digital sesungguhnya telah dilakukan sejak 2004 lalu, namun hingga saat ini tak pernah selesai proses migrasinya.

Gery mengatakan TV digital akan mempercepat kecepatan internet karena membebaskan frekuensi jaringan yang digunakan untuk siaran TV analog. Oleh karena itu ASO sangat krusial dalam perkembangan transformasi digital di Indonesia.

Baca Juga :  Kemendagri Minta Pemda Sumbar Cek Aturan Terkait Paksa Siswa Berhijab

Perkembangan ekonomi digital ditambah kebutuhan internet yang meningkat dengan adanya konsep new normal akibat pandemi Covid-19 membuat migrasi TV digital menjadi faktor krusial.

“Semua ini butuh internet. Semakin cepat migrasi analog ke digital kita akan dapatkan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi. Perpindahan analog ke digital juga akan berikan dampak positif terhadap kecepatan internet broadband,” kata Gery.

Dengan TV digital, Gery menyatakan masyarakat tak perlu lagi khawatir dengan blank spot atau titik lemah sinyal yang membuat gambar menjadi buruk dan berbayang.

Sebab televisi digital terus menyiarkan  gambar dan suara dengan jernih sampai pada titik di mana sinyal tidak dapat diterima lagi.

Singkat kata, penyiaran TV digital hanya mengenal dua status: Terima (1) atau Tidak (0). Artinya, apabila perangkat penerima siaran digital dapat menangkap sinyal, maka program siaran akan diterima. Sebaliknya, jika sinyal tidak diterima maka gambar-suara tidak muncul.

Baca Juga :  Ingin Anak Pintar? Ajak Anak Olahraga Sebelum Belajar

Sementara itu dalam penyiaran televisi analog, semakin jauh dari stasiun pemancar televisi maka sinyal akan makin melemah dan penerimaan gambar menjadi buruk dan berbayang.

“Teman-teman di daerah tak akan lagi ada blank spot, jadi tidak ada berbintik atau kabur pada sinyal lemah,” ujar Gery.

Sebelum UU Cipta Kerja disahkan, pemerintah Indonesia telah menetapkan bahwa selambat-lambatnya implementasi penyiaran digital dimulai 2012 dan di tahun-tahun berikutnya di kota-kota besar yang telah bersiaran digital akan dilakukan analog switch-off.

Dalam roadmap implementasi penyiaran televisi digital, pemerintah mengklaim merencanakan bahwa pada 2018 akan dilakukan analog switch-off secara nasional. Jika mengacu UU Ciptaker, analog switch-off secara nasional paling lambat akan terjadi mulai 2022.


CNNIndonesia

  • Bagikan
Positive SSL