Cerpen : One Last Kiss

One Last Kiss
One Last Kiss
SafelinkU | Shorten your link and earn money

Sponsored By Lapaksomplaq

Lapak somplaq

Daftar Isi

One Last Kiss

Di sebuah kelas dibawah tatapan para teman laknat,

Cerpen : One Last Kiss by lapak somplaq

“Kamu … kamu …” Ku coba mengumpulkan kembali semua keberanianku yang mendadak lenyap. Kuseka keringat yang mengalir tanpa henti dari keningku. Walaupun cuaca diluar sana sedang mendung dengan sepoian angin yang melambai-lambai, entah mengapa ruangan ini malah panas serasa neraka, mungkin karena para penghuninya yang kelewat laknat. “Kamu …” kembali suaraku mendadak lenyap, hanya mampu menatap penuh khidmat ke sepasang sepatu yang … biasa-biasa saja ternyata. Akhirnya karena tidak sabar dengan sikap plin-plan ku, sorakan para pendukung pun pecah “TOLAK TOLAK TOLAK …” “HUUUUU …” “NGACA LUUU …” “JONES LAKNAT LUUU …” “MATI AJA LUUU …” “NYADAR DIRI LUUUUU …” wait, sepertinya ada yang salah. Atau mungkin sudah benar? Memang kalian layak dinobatkan menjadi para teman terbaik, versi neraka jahanam.

Geram dengan semangat para pendukung tidak berakhlak ini, kukepal kedua tanganku dengan penuh emosi, membalikkan badan ala slow motion, dan menatap para pendukung setiaku ini dengan penuh nafsu, nafsu membunuh “KAMU KAMU AAADALAH…PENGHUNI NRAKAAA…AAA …” teriakku sambil bernyanyi lagunya pentolan Dewa 19 untuk anaknya yang kuparodikan mengikuti suasana hatiku saat ini. Puas rasanya, segera kutinggalkan kelas XI-A1 terkutuk ini, meninggalkan gema paduan tawa yang membahana dibelakangku. Tak kuhiraukan orang yang memanggil namaku.

Lorong sekolah yang biasanya indah,

da308f97 unnamed 2

Dengan wajah yang kuyakin seperti kepiting rebus ini aku melangkah gontai menyusuri lorong sekolahan ku ini . Pikiranku mengembara, membayangkan bully demi bully yang akan kuterima hingga lulus nanti. Hingga tanpa sadar aku menabrak seseorang “Aduuuhhh … Imron, kalo jalan liat-liat dong. Sakit nih …”. Rentetan omelannya sukses menarikku kembali ke Bumi. Segera kulihat siapa orang yang sedang sial kutabrak ini. Ah, dia sial aku beruntung rupanya. Senyumku otomatis terkembang, mode ‘babang tamvan’ku otomatis teraktivasi dengan sendirinya. “Mungkin jodoh kali buk, makanya jadi tabrakan gini” ucapku dengan cengiran menghias wajah standarku ini seraya mengulurkan tangan untuk membantunya bangun. Uluran tanganku disambut oleh tangan sang guru idola di sekolahanku ini, guru yang awal kedatangannya dulu membuat perpecahan di kalangan para guru pria dan membuat persaingan tidak sehat diantara para siswa laki-laki. Anjaaaayyy, lembut nian tangannya. “Jodoh gigi kamu gendut” kata-kata pertamanya setelah berhasil berdiri tegak sempurna. “Idih, cantik-cantik judesan” “Biarin …” “Entar tambah cantik lho buk” *pletak* sebuah buku sukses mendarat di kepalaku “Adudududuh … sakit buk” “Rasain, salah sendiri. Guru sendiri dimodusin”. Aku mengusap-usap kepalaku, walaupun sebenarnya tidak sakit –mungkin sedikit. “Bukan modus buk, itu fakta …” aku mendadak terdiam begitu sang guru idola ini memasang kuda-kuda untuk kembali melakukan KDRT. Setelah dipelototi dengan jurus tatapan pengoyak kalbu, aku hanya bisa memasang jurus cengiran anak tak berdosa “Hehehe … piss buk, ampun” “Mau kemana kamu?” “Ke … anu … ke … toilet buk” “Beneran?” “Bener buk, kalo ibuk gak percaya ikut aja, hehehe …” Kembali mata bola pingpong itu melotot tajam. Kali ini aku yang tidak yakin jurus cengiran anak tak berdosa akan ampuh untuk yang kedua kalinya memilih kabur, better play safe.

Baca Juga :  "Kisah Nyata" Aku dan Kekuranganku (bag pertama)

Kantin – surganya para siswa kelaparan yang hobby ngutang,

1d6294d0 kantin sekolah diusulkan kena retribusi 2018 08 11 120657 0

Di kantin –hey, aku ke toilet dulu kok sebelum kesini, jadi secara teknis aku tidak bohong dong– aku kembali memikirkan kegagalanku yang epic di ruang kelas tadi. Mungkin sudah saatnya aku transmigrasi ke planet Namec. Mensimulasikan bully’an –yang konon melebihi kejamnya celotehan para buzzer– yang akan kuterima nanti, memantapkan niatku untuk pindah kewarganegaraan ke negara Sunda Empire. Namun ditengah pengembaraan pikiranku, tiba-tiba aku merasakan dingin di kepalaku, ada air yang mengalir di kepalaku. Sontak aku berdiri, berusaha supaya aliran air ini tidak mengenai bajuku. Dengan penuh emosi –kali ini benar-benar emosi– aku menoleh ke kanan, bersiap menghajar si calon penghuni UGD ini. Namun setelah mengetahui siapa orangnya, aku sangat pantas dinobatkan menjadi manusia tergagu se-Bumi raya. “Aaaaa …” “Apa?” dan lenyap sudah semua suara, keberanian dan mungkin sebentar lagi eksistensi diriku. “Jadi kalo sama cewek lain bisa mesra mesra gitu modusnya, samaku gak mau ngomong sama sekali gitu? Ampe guru juga di embat, aku ini dianggap apa? Orang orangan sawah? Halooooo … tiga tahun masih belom nyadar nyadar juga?” Kembali aku tertarik untuk menatap penuh minat ke arah sepatu yang … masih biasa-biasa saja ternyata. “Kamu ini … hiiiiihhh …” sambil menjejak-jejakkan kakinya layaknya pemain kuda lumping yang lagi break dance, dia pun pergi meninggalkanku yang masih berbengong ria ini.

Lorong sekolah yang …

51e45c26 skolah horor header

Layaknya zombie Walking Dead versi kelaparan belum makan daging manusia sebulan, aku kembali menyusuri lorong ini dengan amat-teramat gontai. Merutuki pecundangnya diriku tanpa henti, aku menyeret kakiku dengan sangat malas untuk kembali ke kelas XI-A1, di mana aku harus melihat dirinya lagi. Gusti nyuwun tulung, berikanlah hamba-Mu ini amnesia mendadak. “Hihihi …” suara cekikikan sukses membuyarkan segala keruwetan alam pikiranku. Aku menoleh ke arah pemilik suara, murid X-C3 ternyata. “Apa?” tanyaku tanpa antusias. “Corak baju kakak bagus…hihihi …” “Ooohhh …” “Cieee…yang lagi broken heart…hihihi …” aku cuma bisa mengernyitkan keningku, menaikkan sebelah alisku, biar kelihatan keren “Satu sekolahan juga udah tau kali…hihihi” “Ooohhh …” “Jadi gak semangat gitu kakaknya…hihihi … aku mau lho kak, jadi semangat barunya …” dia mulai mendekat “HEH…BOSEN IDUP LU? SEMBARANGAN MAIN SAMBER COWOK ORANG …” sebuah bentakan membuat kami tersentak, dan si adek kelas pun refleks mundur. Lho, tadi sembarangan main guyur orang, sekarang sembarangan main klaim kepemilikan, maunya apa sih ini betina. Eh tunggu, berarti, jadi … “KEGATELAN AMAT SIH LU JADI CEWEK? Berani lu sekali lagi godain ini cowok, kelar idup lu, faham?”. Dibentak sama senior bermata merah dengan aura membunuh seperti itu, cukup membuat sang adik kelas dengan tawa centil ini mundur teratur. “Lu juga, jadi cowok mau aja digodaiin sama cewek kayak ginian. Ayo sini” dia langsung menyambar tangan kananku, menggenggamnya erat, dan menyeretku menjauh dari tempat kejadian perkara. Kami berjalan dalam diam, namun bibirku tak henti tersenyum.

Baca Juga :  "Kisah Nyata" Aku dan Kekuranganku (bag pertama)

Sesampainya kami di kelas, mars “Cieeeee …” menyambut kami. Aku hanya bisa nyengir bahagia. Kukira tanganku akan langsung dilepas karena antusiasme berlebihan para fans yang tidak sehat secara kejiwaan ini, tapi ternyata dia tetap menggenggam tanganku sambil menunduk. Sekilas aku melihat senyum di wajahnya. Dan sebuah “Ehem …” yang akhirnya mampu membuat dia melepas tanganku “Ibuk tau kalian lagi kasmaran, tapi disambur entar aja ya. Sekarang belajar dulu, mumpung lagi semangat pejuang cintanya kan?” Sekarang bukan hanya dia yang menunduk malu, aku juga akhirnya ikut menunduk malu. Di iringi kembali oleh mars jadi-jadian “Cie cieee …” kami bergegas menuju meja kami masing-masing.

Tak terasa waktu cepat berlalu. Bel pulang pun berkumandang indah. Tanpa dikomando kami segera membereskan semua peralatan tempur kami kembali ke tas masing-masing dengan tingkat kebisingan yang hampir mendekati nol dB. Mungkin dari sekian banyak siswa di planet ini, hanya para siswa SMA kami ini –diwakilkan oleh kelas XI-A1– yang mampu melaksanakan gerakan terkordinasi seperti ini. Di tengah-tengah aksi rutin kami, sebuah suara berwibawa menyita perhatian kami “Imron, hari ini piket sama Paijo ya jadwalnya?” “Iya buk, tapi Paijo ijin sakit hari ini, jadi ya saya sendirian hari ini buk” “Yakin sendirian? Itu yang tadi megang tangannya erat banget gak mau nemenin apa?” bully’an dari guru wali kelas kami ini sukses seratus persen mengeluarkan aura laknat dari seluruh teman sekelasku yang tidak punya akhlak sama sekali ini. Lihat saja mereka, tertawa lepas dan bahagia disaat aku dan dia hanya bisa diam dan mendadak sangat tertarik dengan meja kami masing-masing. Untungnya celotehan seorang teman perempuan kami cukup meredakan suasana pasar malam ini “Oh, tidak semudah itu ferguso. Sang mempelai wanita mesti ikut kami dulu dong, kan kaum hawa punya bachelor party nya sendiri dong” “SETUJUUU …” di amin’in oleh seluruh siswa perempuan lain. Sang guru hanya bisa tersenyum sambil geleng kepala “Bahasa kalian ini loh”.

Baca Juga :  "Kisah Nyata" Aku dan Kekuranganku (bag pertama)

Setelah semuanya telah meninggalkan ruangan kelas ini, tinggallah aku sendiri. Aku berjalan pelan mengitari ruangan kelas ini. Menyentuh beberapa meja, kursi, dan jendela seraya tersenyum. Mungkin ini senyumku yang paling indah sepanjang hidupku. Saat aku tengah menikmati suasana ini, seorang pria berwajah teduh masuk setelah mengucap salam. “Wa’alaikum salam” kujawab beriring senyum tulusku. Tak terasa air mataku mulai menetes. “Udah waktunya ya?” dia hanya mengangguk sopan. “Terima kasih, ini udah sangat berarti. Gak ada penyesalanku setelah ini. Mari, kita jalan” kembali dia hanya mengangguk sopan, tapi kali ini kulihat senyum seteduh pandangan matanya.

present …

Suara bising yang bercampur aduk membuatku terbangun. Kubuka perlahan mataku, kucoba memfokuskan penglihatanku pelan-pelan. Aku melihat Mamaku, Papa, dan banyak orang asing berseragam disekelilingku. Kucoba melihat sekitar, aku menemukan teman-temanku, dan … ah, si dia. Syukurlah aku bisa melihatnya sekali lagi.

Ditengah bisingnya jeritan hemodinamik aku bisa mendengar jelas suara Mamaku “Pa … Imron Pa, Imron …” “Sabar Ma, sabar. Mama harus kuat, demi Imron. Jangan putus harapan Ma, Imron kuat, Imron pasti kuat Ma” “Imron, kamu harus balik ke Mama ya nak, jangan tinggalin Mama ya nak. Kamu kan mau masuk SMA favorit kamu. Kamu mau nembak cewek kamu. Balik ke Mama ya nak, nanti Mama buatin pesta kelulusan SMP kamu yang meriah” “Ma, Imron …”Ayahku tak mampu meneruskan kata-katanya, tangis yang sedari tadi ditahan-tahannya kini membuncah pecah. Mereka dihampiri oleh salah satu dari orang-orang aneh yang berseragam ini “Pak, Bu, mari kita keluar dulu. Percayakan sama kami, kami akan lakukan yang terbaik. Biarkan kami melakukan tugas kami. Mari Pak, Bu, kita tunggu diluar. Kami akan berusaha semaksimal kami. Ayo Pak, Bu”.

Mamaku memberontak. Bergegas menghampiriku, Mama langsung mencium keningku. Lama beliau menciumku, akhirnya Mama mengusap wajahku “Mama sayang Imron. Mama gak mau ditinggalin Imron. Imron harus balik ke Mama ya nak …”. Digiring oleh orang berseragam tersebut, kedua orang tuaku perlahan meninggalkan ruangan ini. Aku hanya bisa melihat kepergian mereka tanpa mengucapkan apapun sebagai perpisahan. Terima kasih Pa, terima kasih Ma, sudah memberiku cinta kasih semenjak aku lahir hingga sekarang. Maaf kalau aku lancang harus meninggalkan kalian. Aku sayang kalian. Kita pasti akan bertemu lagi kelak, Pa, Ma. Dan mataku pun terasa semakin berat. Ah, sudah waktunya rupanya. Kusambut dengan senyuman.

EPILOG

Seorang laki-laki keluar dari sebuah ruangan, yang langsung dihampiri oleh Pak Bambang, Bu Yuni, dan segerombolan pelajar SMP yang masih menggunakan seragamnya. “Dok, anak saya gimana Dok? Imron gimana Dok?” Sang dokter itu melepas maskernya, melihat kearah orang-orang yang menanti jawaban dari dia. Tidak ada senyum diwajahnya yang letih setelah operasi 13 jam non-stop. Dia hanya mampu menggeleng sedih. “IMROOOOON …” Beruntung pak Bambang sigap menahan tubuh istrinya. Kehebohan juga terjadi di rombongan para pelajar. Mereka langsung panik dikala seorang siswi, Elisabeth Alexandria, jatuh pingsan.


Penulis : Lapak somplaq

Editor AG